Jakarta, aktual.com – Gejolak geopolitik global, khususnya di kawasan Selat Hormuz, mendorong kenaikan harga bahan baku plastik dan meningkatkan risiko terhadap stabilitas pasokan industri di Indonesia. Kondisi ini menegaskan pentingnya memperkuat ketahanan bahan baku nasional melalui diversifikasi sumber pasokan yang lebih seimbang.

Dalam struktur industri saat ini, bahan baku plastik konvensional masih memiliki keterkaitan kuat dengan rantai pasok global. Sekitar 70% kebutuhan nafta nasional masih dipenuhi dari impor, sementara untuk bahan baku plastik jadi (resin virgin), Indonesia juga masih bergantung pada impor dalam kisaran 40–50% dari total kebutuhan nasional. Kondisi ini membuat industri domestik cukup sensitif terhadap fluktuasi harga global dan dinamika geopolitik.

Peran Strategis Industri Daur Ulang

Di tengah kondisi tersebut, industri daur ulang plastik telah memainkan peran nyata dalam menopang kebutuhan bahan baku nasional. Berdasarkan kajian supply–demand industri, material daur ulang saat ini telah berkontribusi sekitar ±20% terhadap total pasokan bahan baku plastik nasional, menunjukkan bahwa perannya sudah signifikan dan bukan lagi sekadar pelengkap.

Industri ini juga telah mampu mensuplai biji plastik untuk kebutuhan kemasan, termasuk sektor makanan dan minuman serta kantong plastik, khususnya untuk menopang industri kecil. Dengan basis bahan baku yang berasal dari sampah domestik, industri daur ulang memiliki karakteristik pasokan yang lebih terkendali, di mana impor hanya digunakan secara terbatas sebagai material pendukung (blending) untuk menjaga kualitas, dengan porsi sekitar ±20% dari total bahan baku.

Di sisi lain, kapasitas industri sebenarnya masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar. Saat ini terdapat 749 perusahaan dengan kapasitas terpasang mencapai ±3,16 juta ton per tahun, namun tingkat utilisasi masih sekitar 48%.

Hal ini menunjukkan bahwa industri daur ulang telah berkontribusi signifikan, dan memiliki peluang besar untuk meningkatkan perannya dalam sistem pasokan nasional apabila kapasitas yang ada dapat dioptimalkan.

Ketahanan Ekonomi, Inflasi, dan Daya Beli Masyarakat

Dalam konteks ekonomi, kenaikan harga bahan baku plastik tidak hanya berdampak pada industri, tetapi juga berpotensi mendorong kenaikan harga produk konsumsi yang dekat dengan masyarakat, termasuk kemasan pangan dan kebutuhan sehari-hari.

Dalam kondisi tersebut, penguatan industri daur ulang menjadi penting sebagai salah satu instrumen untuk menjaga stabilitas harga. Dengan menyediakan alternatif bahan baku yang lebih berbasis domestik, industri ini dapat membantu meredam tekanan biaya produksi yang berpotensi diteruskan menjadi kenaikan harga di tingkat konsumen.

Peran ini menjadi relevan dalam konteks pengendalian inflasi, di mana:

• Kenaikan biaya bahan baku dapat mendorong inflasi berbasis biaya (cost-push inflation)

• Produk berbasis plastik memiliki dampak luas terhadap harga konsumsi masyarakat

• Stabilitas bahan baku membantu menjaga daya beli masyarakat

Selain itu, industri daur ulang juga:

• Mendukung keberlangsungan UMKM

• Menjadi bagian dari ekonomi rakyat, termasuk sektor informal

• Berkontribusi ekonomi sekitar ±USD 9,2 miliar serta menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar

Bagian dari Agenda Nasional

Penguatan industri daur ulang merupakan bagian penting dari pencapaian target pembangunan nasional Indonesia.

Dalam RPJMN 2025–2029, pemerintah menargetkan 100% sampah terkelola pada tahun 2029. Sementara itu, dalam RPJPN 2025–2045, ditetapkan target 90% timbunan sampah terolah, dengan 35% di antaranya melalui daur ulang pada 2045.

Sejalan dengan itu, Permen LHK No. 75 Tahun 2019 mendorong produsen untuk mengurangi sampah melalui berbagai pendekatan, termasuk penggunaan material daur ulang, dengan target pengurangan sampah sebesar 30% pada tahun 2029.

Dalam keseluruhan kerangka ini, industri daur ulang menjadi salah satu komponen penting dalam:

• Meningkatkan tingkat pengelolaan sampah nasional

• Mendorong peningkatan tingkat daur ulang

• Mendukung penurunan emisi dan transisi menuju ekonomi sirkular

Arah Penguatan ke DepanDengan kontribusi yang sudah signifikan dan kapasitas yang masih belum optimal, fokus ke depan adalah pada peningkatan utilisasi industri yang sudah tersedia.

Penguatan dapat dilakukan melalui:

• peningkatan kualitas dan kuantitas bahan baku domestik

• penyediaan akses material tambahan yang terkontrol untuk kebutuhan kualitas

• peningkatan utilisasi material daur ulang di sektor industri

• penguatan ekosistem industri agar lebih kompetitif dan berkelanjutan

Pendekatan ini akan memastikan bahwa potensi industri yang sudah ada dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk mendukung stabilitas industri nasional.

Industri daur ulang plastik Indonesia telah menunjukkan kontribusi nyata dalam sistem pasokan bahan baku nasional, dengan potensi yang masih sangat besar untuk dikembangkan. Dengan basis sumber daya domestik dan peran yang semakin strategis, industri ini dapat menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan industri, menjaga stabilitas ekonomi, serta mendukung pencapaian target pengelolaan sampah dan net zero Indonesia.

Momentum global saat ini menjadi kesempatan untuk memperkuat peran industri daur ulang sebagai komponen strategis dalam pembangunan ekonomi sirkular nasional.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain