Jakarta, Aktual.com – Apakah yang dimaksud dengan iman kepada Al-Quran, banyak orang yang mengaku iman kepada Al-Quran namun imannya kurang atau belum sempurna imannya kepada Al-Qur’an.

Habib Nabiel Al Musawwa menjelaskan, namanya iman harus mencakup tiga hal yakni diucapkan dengan lisan, diyakini dalam hati, dan diamalkan dengan perbuatan.

Menyitir dari perkata Hasan Al Bashri rahimahullahu:

ليس الإيمان بالتمني ولا بالتحلي ولكن هو ما وقر في القلب وصدقه العمل

“Bukanlah iman itu dengan (engkau) berangan-angan, dan bukan pula dengan hiasan luar saja, akan tetapi iman itu adalah sesuatu yang bercokol dalam hati, dan membuktikannya dengan amalan.”

“Jadi iman kepada Al-Quran bukan cita-cita, misalnya kita bercita-cita mau baca Al-
qur’an satu juz sehari, bukan begitu,” jelasanya, saat membawakan ceramah dalam
acara ODOJ Bangun Negeri di Masjid Istiqlal, Jakarta (14/8).

Habib Nabiel Al Musawwa saat Memberikan Ceramah pada acara ODOJ Bangun Negeri dalam menyambut kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke-77 di Masjid Istiqlal Jakarta, Minggu (14/8) (Foto: Aktual.com)

Habib menjelaskan bahwa iman kepada Al-Qur’an juga bukan angan-angan, tapi apa yang diyakini dalam hati juga diamalkan dalam perbuatan. Dia melanjutkan orang yang tidak bersungguh- sungguh dalam mengimplementasikan iman kepada Al-Qur’an akan mendapatkan azab baik di dunia maupun di Akhirat.

“Akan diberikan azab di dunia dengan diberikan kesempitan dalam hidup dan juga akan di azab di akhirat kelak dengan dibangkitkan dalam keadaan buta,” ungkapnya.

Seperti yang dijelaskan di dalam Al-Qur’an Surah Taha Ayat 124:

وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى

“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku (Al-Qur’an), maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (Al-Qur’an Surat Taha: 124).

(Nurman Abdul Rahman)