Jakarta, Aktual.co — Dihadapan Komisi VII DPR RI, Menteri ESDM Sudirman Said menyampaikan satu penjelasan terkait kesalahpahaman tentang Pertamina Energy Trading Limited (Petral) yang direspon Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melalui akun media sosialnya.

Seperti diketahui, komisi VII DPR RI hari ini, Selasa (9/6), menggelar rapat kerja (raker) dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), PT PLN, SKK Migas dan PT Pertamina.

“Yang saya lakukan adalah apa yang saya lakukan berkali-kali di berbagai forum yaitu menjelaskan apa yang saya jelaskan sejak pertama kali berdiskusi dengan Pak Jokowi. Begitu pun pernah saya sampaikan di forum ini sebenarnya. Saya sampaikan pada forum bahwa tugas saya ini sangat berat. Dan itu sudah dilakukan diskusi dengan presiden ketika presiden membahas banyak hal soal pandangan di migas dan energi,” ujar Sudirman.

“Kemudian beliau (Presiden Jokowi) bertanya, bagaimana menyelesaikan semua ini? Kemudian saya sampaikan ke pak presiden, saya tidak punya pengalaman teknis cukup lama di sektor ini. Tapi saya yakin banyak ahli migas dan energi yang bisa bergabung dengan kita. Karena sebetulnya meluruskan soal energi ini bukan soal teknis pak. Tapi soal korupsi soal kebersihan praktek,” jelasnya.

Sudirman meminta para anggota parlemen menengok persidangan di KPK yang menyidangkan mantan Sekjen Kementerian ESDM. Di mana di sana menurutnya sebagai bukti bahwa situasinya sangat kultural, sudah membudaya dan sudah mengakar sangat dalam.

“Dan bukan hal yang gampang diselesaikan. Karena itu saya menekankan, hanya bila pimpinan tinggi negara ini lurus, maka sektor ini bisa diluruskan. Kemudian saya menyampaikan ke Pak Presiden, saya punya pengalaman sedikit di Pertamina. Ketika Pertamina berniat melakukan inisiatif perbaikan banyak inisiatif itu terhenti di sini‎. Ungkapan saya tidak berubah dari waktu ke waktu. Kemudian ditanya maksudnya di mana? Saya jawab di kantor presiden,” terang dia.

Meski begitu, Sudirman enggan menjelaskan lebih rinci apa makna dari kalimat tersebut karena menilai forum rapat dengan DPR bukanlah forum yang tepat untuk menjelaskannya.

“Saya kira di forum ini bukan forum yang tepat untuk membicarakan lebih lanjut apa maknanya. Tetapi saya menjadi saksi, saya menjadi pelaksana, saya menjadi korban dari proses itu. Dan apabila diperlukan dalam forum yang lebih tertutup saya akan senang hati menjelaskan. Ini yang direspon oleh pak SBY. Tapi itulah statement saya yang disampaikan dalam diskusi di Cikini,” tutupnya.

(Eka)