Jakarta, Aktual.com — Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata akan menyusun tujuh destinasi wisata unggulan Indonesia yang nantinya diusulkan bisa dijadikan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

Ketujuh destinasi wisata unggulan itu akan menggenapi tiga tujuan wisata utama Indonesia yang telah ditetapkan pemerintah yakni Bali, Jakarta, dan Kepulauan Riau.

“Kemungkinan besar kami akan bentuk atau usulkan dalam bentuk KEK karena (status) KEK memberikan insentif baik fiskal maupun nonfiskal,” kata Menteri Pariwisata Arief Yahya dalam jumpa pers usai rakor tentang pariwisata di Kantor Kemenko Maritim dan Sumber Daya di Jakarta, Selasa (18/8) petang.

Menurut dia, kemudahan fiskal yang didapat dari KEK adalah adanya fasilitas “tax holiday” yang akan segera disahkan pemerintah.

Adapun kemudahan nonfiskal yang dinilai menarik bagi investor di sektor pariwisata adalah adalah adanya Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) atau “One Stop Service” (OSS).

Dengan PTSP/OSS itu, investor tidak perlu mengurus berbagai macam perizinan jika ingin membeli lot atau kavling untuk membuka usaha pariwisata di lokasi tersebut.

“Misal di KEK Tanjung Lesung, itu kita buat PTSP, jadi investor kalau mau beli lot atau kavling cukup di situ, hanya satu pintu,” katanya.

Pemerintah merencanakan pembangunan 17 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) hingga 2019, 10 di antaranya merupakan KEK Pariwisata.

Dalam kesempatan yang sama, Menko Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli mengatakan pihaknya masih akan membahas wilayah mana saja yang akan masuk daftar tujuh destinasi wisata unggulan Indonesia itu.

Yang pasti, tujuh lokasi baru itu harus memiliki nilai jual yang besar dan memiliki kekhususan sebagai lokasi wisata berdasarkan potensinya.

“Kriterianya, lokasinya harus indah, menarik dan punya ‘selling point’. Kedua, masyarakatnya harus ramah dengan wisatawan. Dan ketiga, kesiapan infrastruktur misal keamanan yang baik dan suplai listrik yang cukup,” katanya.

Menurut Rizal, pemerintah pada dasarnya ingin membangun sejumlah destinasi wisata dalam lima tahun lengkap dengan fasilitas pendukungnya.

Ia mengatakan, pariwisata penting bagi Indonesia karena bisa dengan mudah menciptakan lapangan kerja, mendorong ekonomi rakyat, bernilai tambah besar serta mendatangkan devisa bagi negara.

“Wilayahnya masih harus kami rapatkan secara tertutup. Kalau disebutkan harganya bisa langsung naik,” katanya diselingi tawa.

(Ant)

()