Chatib Basri. (ilustrasi/aktual,com)

Jakarta, Aktual.com – Di tengah laju pertumbuhan ekonomi di Kuartal III-2016 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) kemarin, yang capai 5,02%, namun sayangnya masih ada kondisi tak baik yang mesti diperhatikan serius oleh pemerintah.

Salah satunya, laju investasi yang mengalami pergerakan negatif dibanding tiga bulan sebelumnya. Selain tentunya angka konsumsi pemerintah yang terus merosot.

Dari kondisi tersebut, menurut mantan Menteri Keuangan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Chatib Basri, dari rilis yang yang dikeluarkan BPS memang tidak terlalu buruk di tengah pemotongan anggaran yang signifikan.

“Namun, ada hal-hal yang harus diperhatikan secara serius, yaitu pertumbuhan investasi yang terus melambat. Pertumbuhan ekspor juga memang masih lemah,” ungkap Chatib ketika dihubungi, Selasa (8/11).

Menurut dia, pertumbuhan investasi yang terus menurun menunjukkan penurunan bunga yang tak mendorong investasi dalam jangka pendek itu.

“Karena persoalan kita dalam jangka pendek itu adalah adanya demand yang lemah. Dan solusinya adalah stimulus fiskal, bukan ekspansi moneter,” jelas dia.

Untuk itu, Kementerian Keuangan diminta harus banyak aktif menelurkan kebijakan yang efektif. Jadi bukan hanya Bank Indonenesia (BI) yang aktif di pasar dengan kebijakan moneternya.

“Dengan kondisi tersebut, ini cerminan belum meningkatnya upaya untuk menggenjot investasi. Karena memang permintaan terhadap barang masih melemah,” jelas dia.

Ditambah lagi, kata dia, pertumbuhan pengeluaran pemerintah drop secara signifikan, bisa diduga karena pemangkasan anggaran.

Meski begitu, guru besar Australia National University (ANU) ini tetap mengapresiasi capaian pertumbuhan ekonomi itu.

“Meskipun dipotong pengeluaran, tapi perekonomian Indonesia masih tumbuh sebesar 5%. Lumayan lah. Masih salah satu negara yang menarik paling tidak di dunia,” cetus Chatib.

Berdasar data BPS, pengeluaran konsumsi pemerintah memang tumbuh negatif atau minus 2.97% padahal di Kuartal II-2016, bertumbuh 6,28%, gara-gara adanya pemotongan anggaran. Sementara itu, laju investasi langsung PMTB turun jadi 4,06% dibanding Kuartal II-2016 yang sebesar 5,06%.

(Busthomi)

(Eka)