Berdasarkan data yang diterbitkan BI pagi ini, kurs rupiah berada di angka Rp13.329 per dolar AS, terdepresiasi tipis 0,2% atau 3 poin dari posisi 13.326 kemarin. Pada saat yang sama, nilai tukar rupiah terpantau menguat 0,03% atau 4 poin ke Rp13.327 per dolar AS di pasar spot, setelah dibuka dengan penguatan hanya 0,01% atau 1 poin di Rp13.330.‎ AKTUAL/Munzir

Jakarta, Aktual.com – Isu pemangkasan nominal rupiah sebanyak tiga nol di belakang angka dari Rp1.000 menjadi Rp1 atau redenominasi dari Bank Indonesia (BI) disebut-sebut akan berdampak ke laju inflasi.

Untuk itu, kebijakan yang sempat redup ini mulai direspon Badan Pusat Statistik (BPS). Pihak BPS bakal melakukan kajian, terutama terkait dengan implikasinya ke pergerakan inflasi.

Menurut Kepala BPS, Suhariyanto, pihaknya menolak kalau adanya kebijakan redenominasi itu bakal membuat laju inflasi yang rendah.

“Saya tak bisa menjamin dengan adanya redenominasi itu akan membuat inflasi rendah. BPS baru akan melakukan kajian lebih lanjut mengenai dampak ke inflasinya. Kita kan bisa coba teliti di negara lain, ada kajian akademis atau enggak,” papar Suhariyanto, di Jakarta, Jumat (2/6).

Menurutnya, kasus redenominasi yang berdampak ke inflasi cukup jarang. “Mungkin nanti saya diskusi dulu sama teman-teman dari BI ya,” jelas Kecuk, panggilan akrabnya.

Dia menilai, kebijakan ini tidak akan signifikan pengaruhnya ke inflasi. Akan tetapi, dirinya sendiri belum terlalu mau mengeksplorasi terlalu jauh prediksi dampak dari kebijakan redenominasi rupiah ini.

“Harusnya enggak (mempengaruhi) ya. Ini kan jarang dilakukan, saya belum pernah lihat sebuah paper yang meneliti dampaknya (ke inflasi) seberapa besar,” papar dia.

Suhariyanto menyebutkan, upaya yang gencar dilakukan adalah dengan melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Sehingga masyarakat tidak panik jika dilakukan penyederhanaan nominal rupiah.

“Sekarang bukan siap enggak siap ya. Bagi saya, perlu ada sosialisasi yang baik dulu. Sehingga bisa diterima pemahaman yang pas oleh masyarakat,” tutup Kecuk.

(Busthomi)

Jakarta, Aktual.com – Isu pemangkasan nominal rupiah sebanyak tiga nol di belakang angka dari Rp1.000 menjadi Rp1 atau redenominasi dari Bank Indonesia (BI) disebut-sebut akan berdampak ke laju inflasi.

Untuk itu, kebijakan yang sempat redup ini mulai direspon Badan Pusat Statistik (BPS). Pihak BPS bakal melakukan kajian, terutama terkait dengan implikasinya ke pergerakan inflasi.

Menurut Kepala BPS, Suhariyanto, pihaknya menolak kalau adanya kebijakan redenominasi itu bakal membuat laju inflasi yang rendah.

“Saya tak bisa menjamin dengan adanya redenominasi itu akan membuat inflasi rendah. BPS baru akan melakukan kajian lebih lanjut mengenai dampak ke inflasinya. Kita kan bisa coba teliti di negara lain, ada kajian akademis atau enggak,” papar Suhariyanto, di Jakarta, Jumat (2/6).

Menurutnya, kasus redenominasi yang berdampak ke inflasi cukup jarang. “Mungkin nanti saya diskusi dulu sama teman-teman dari BI ya,” jelas Kecuk, panggilan akrabnya.

Dia menilai, kebijakan ini tidak akan signifikan pengaruhnya ke inflasi. Akan tetapi, dirinya sendiri belum terlalu mau mengeksplorasi terlalu jauh prediksi dampak dari kebijakan redenominasi rupiah ini.

“Harusnya enggak (mempengaruhi) ya. Ini kan jarang dilakukan, saya belum pernah lihat sebuah paper yang meneliti dampaknya (ke inflasi) seberapa besar,” papar dia.

Suhariyanto menyebutkan, upaya yang gencar dilakukan adalah dengan melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Sehingga masyarakat tidak panik jika dilakukan penyederhanaan nominal rupiah.

“Sekarang bukan siap enggak siap ya. Bagi saya, perlu ada sosialisasi yang baik dulu. Sehingga bisa diterima pemahaman yang pas oleh masyarakat,” tutup Kecuk.

(Busthomi)

Artikel ini ditulis oleh: