Tradisi Sanggring yang masih di lestarikan masyarakat Gresik saat bulan Puasa

Gresik, Aktual.com – Salah satu tradisi pada Bulan Ramadhan yang ada di Kabupaten Gresik adalah, Tradisi Sanggring kolak ayam.

Ini merupakan masakan peninggalan Sunan Dalem, salah seorang putra Sunan Giri yang hingga kini masih dipegang teguh dan dilestarikan oleh warga di Desa Gumeno, Kecamatanaaaa Manyar, Gresik.

Tradisi ini biasa diperingati warga pada hari ke-22 Ramadhan atau malam ke-23.

Makanan ini merupakan olahan berupa kolak ayam yang dimasak dan dinikmati secaraaa bersama-sama untuk menu berbuka puasa.

Tahun ini, Tradisi Sanggring dilaksanakan pada Selasa (2/4) malam.

“Tradisi Sanggring di Desa Gumeno, bahkan telah diakui sebagai warisan budaya tak benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonaesia (Kemendikbud) RI.”

“Kini sudah menginjak 499 tahun dan masih dilestarikan hingga saat ini,” ujar Wakil Bupati Gresik Aminatun Habibah, pada saat menghadiri acara, Selasa.

Bu Min-sapaan Aminatun Habibah menjelaskan, sejarah Tradisi Sanggring bermula saat Sunan Dalem membangun masjid di wilayah Desa Gumeno untuk syiar agama Islam.

Tiba-tiba ia amengalami sakit yang tidak diketahui jenis penyakitnya. Bahkan, tidak ada satu pun jenis obat waktu itu yang mampu menyembuhkan penyakit Sunan Dalem.

“Sanggring berasal dari kata Sang dan Gring. Sang yang artinya raja atau penggedhe dan Gring yang berarti gering atau sakit.”

“Jadi Sanggring mempunyai arti kurang lebih, raja yang sedang sakit,” ucap Bu Min.

Hingga akhirnya pada hari ke-22 Ramadhan atau malam ke-23, Sunan Dalem memutuskan untuk melaksanakan shalat istikharah dan mendapat petunjuk dari Allah SWT lewat mimpi.

Sesuai dalam mimpi tersebut, Sunan Dalem kemudian meminta para santrinya menyiapkan ayam jago kampung untuk selanjutnya dibawa ke sekitaran masjid, dipotong dan dimasak bersama menjadi sajian kolak ayam.

“Ajaibnya, setelah menyantap hidangan kolak ayam yang bahannya dicampur dengan rempah-rempah tersebut, Sunan Dalem berangsur sembuh dari penyakit yang diderita,” tutur Bu Min.

Berkaca dari sejarah tersebut, Tradisi Sanggring akhirnya dilestarikan oleh masyarakat setempat hingga saat ini karena dipercaya dapat sebagai obat dari segala penyakit.

Warga memiliki keyakinan, siapa yang memakan kolak ayam pada saat Tradisi Sanggring akan mendapat kesembuhan dari penyakit yang dideritanya.

“Ini sebuah tradisi baik, mengingatkan bagaimana perjuangan Sunan Dalem dalam mensyiarkan agama Islam.”

“Ini kita teruskan, mudah-mudahan dapat membangkitkan motivasi kita agar tidak menyerah dalam kondisi apapun,” kata Bu Min.

Kepala Desa Gumeno Ahmad Fathoni menambahkan, untuk melestarikan Tradisi Sanggring, warga Desa Gumeno selalu melibatkan generasi muda dalam setiap pelaksanaan kegiatan.

Dengan harapan, wawasan yang diwariskan secara turun-temurun bakal menjadikan Tradisi Sanggring dapat terus bertahan dan lestari.

“Untuk pelaksanaan pada tahun ini, menghabiskan sebanyak 254 ekor ayam. Kemudian ada sekitar 3.200 porsi (kolak ayam) yang kami sediakan untuk takjil berbuka puasa,” tutur Fathoni.

Adapun pemandangan unik yang juga bisa dijumpai saat Tradisi Sanggring adalah, kolak ayam tersebut dimasak secara bersama-sama yang seluruhnya merupakan laki-laki.

Tradisi memasak kolak ayam ini pertama kali dilakukan pada 22 Ramadhan 946 Hijriah atau 31 Januari 1540 Masehi.

Artikel ini ditulis oleh:

Editor: Arie Saputra

Tinggalkan Balasan