Jakarta, Aktual.co — Belum lama ini lembaga rating Fitch mengeluarkan hasil penelitiannya tentang keterbukaan negara-negara terhadap penguasaan investasi asing. Tidak mengejutkan, Indonesia yang sudah sepuluh tahun semakin bergeser ke kanan, semakin liberal di bawah SBY, mendapatkan “cap” sebesar 80%.
Peneliti Lingkar Studi Perjuangan (LSP), Gede Sandra mengatakan, cap Indonesia jauh lebih besar (yang berarti lebih terbuka pada investasi asing) dari salah satu negara industri terbesar di Asia: India (26%) ataupun dari negara tetangga kita di ASEAN: Thailand (49%). 
“Kedua negara tersebut (India dan Thailand), yang sering kita lihat sebagai negara yang lebih maju dari Indonesia tidak perlu menjadi terlalu liberal seperti Indonesia. Ini adalah pelajaran penting untuk Jokowi,” tegasnya kepada Aktual.co di Jakarta, Rabu (22/10).
Semakin liberalnya perekonomian Indonesia, sambungnya, adalah akibat direkayasa oleh para arsitek ekonomi dan keuangan di pemerintahan SBY, seperti: Boediono, Sri Mulyani, Chatib Basri, dan Kuntoro Mangkusubroto. “Para gerombolan Mafia Berkeley turun temurun tersebutlah yang telah ‘menjual’ kedaulatan Bangsa Indonesia sejak masa berdirinya Orde Baru Suharto (1966-1998) hingga Orde Reformasi SBY (2004-2014),” tegasnya. 
Gede melanjutkan, seorang peneliti dari Institute of Global Justice (IGJ), Salamuddin Daeng menyatakan, bahwa modal asing telah menguasai 42 juta hektar daratan untuk pertambangan minerba, 95 juta hektare untuk pertambangan migas, 32 juta hektare untuk HPH, HTI, dan HTR, serta 9 juta hektare untuk perkebunan sawit. 
“Berarti terdapat 178 juta hektar atau 93% dari total luas bumi Indonesia yang saat ini dikelola  oleh swasta asing,” jelasnya.

()