Medan, Aktual.co —Pemerintahan Jokowi-JK yang rencananya akan menaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) pada akhir November 2014 dihadapi secara ekstrem oleh sopir-sopir angkutan umum dengan terpaksa menaikkan tarif angkutan.
“Ya, kalau BBM naik, ongkos ya harus naik. Terpaksa lah, mau gak mau,” ujar supir angkutan di Tapanuli Tengah, Badi (49) kepada Aktual.co, Sabtu (8/11).
Menurutnya, kenaikan harga BBM yang disusul dengan naiknya ongkos angkutan umum selalu ditentang oleh para penumpang. Tak jarang, dari kebijakan harga yang ditetapkan Dinas Perhubungan, tak pernah sesuai dengan yang terjadi dilapangan.
“Seperti dua tahun lalu, ditetapkan oleh Dinas (Perhubungan) Rp4.500, dilapangan hanya Rp4.000. Kan gak mungkin kita bertengkar sama sewa gara-gara Rp500 perak. Berdebat saja udah setengah jam, udah lewat 5 mobil didepan kita, kapan lagi dapat sewa?,” ujarnya.
Badi juga menuturkan, setiap penetapan ongkos angkutan umum, sering kali supir secara langsung tidak dilibatkan. “Paling organda sama Dinas, supir yang tau dilapangan, gak pernah diajak rapat,” bebernya.
Badi berharap, pemerintah dapat lebih bijak soal harga BBM. Apalagi, pemerintahan yang baru pernah menjanjikan soal kesejahteraan rakyat.
“Janjinya kan sejahtera, hidup lebih mudah, kalau naik BBM, hidup malah makin susah kan?,” tandasnya.
Diketahui, pemerintah akan segera menaikkan harga BBM di penghujung bulan November 2014. Namun, belum diketahui berapa besaran kenaikannya.

(Andy Abdul Hamid)