Wakil Wali Kota Dessy Ayutrisna, pemerintah kota saat menggelar rapat koordinasi terkait pelaksanaan program tersebut di Balai Betason, Kantor Wali Kota Pangkalpinang, Kamis (16/4/2026). aktual/DOK PEMKOT PANGKALPINANG
Wakil Wali Kota Dessy Ayutrisna, pemerintah kota saat menggelar rapat koordinasi terkait pelaksanaan program tersebut di Balai Betason, Kantor Wali Kota Pangkalpinang, Kamis (16/4/2026). aktual/DOK PEMKOT PANGKALPINANG

Pangkalpinang, aktual.com — Pemerintah Kota Pangkalpinang menegaskan pentingnya keberhasilan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai upaya memperkuat kualitas sumber daya manusia sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.

Dipimpin Wakil Wali Kota Dessy Ayutrisna, pemerintah kota menggelar rapat koordinasi terkait pelaksanaan program tersebut di Balai Betason, Kantor Wali Kota Pangkalpinang, Kamis (16/4/2026).

Dalam rapat tersebut, terungkap masih adanya kendala pada aspek koordinasi dan standar mutu pelaksanaan di lapangan. Dessy menilai komunikasi lintas pihak belum berjalan optimal sehingga berpotensi menghambat keberhasilan program.

“Seharusnya kita duduk bersama di forum diskusi dan meja rapat untuk menyelesaikan persoalan yang ada. Jangan sampai program ini berjalan tanpa arah koordinasi yang jelas,” ujarnya.

Ia juga menyoroti sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang belum memenuhi standar, baik dari sisi kualitas makanan, kemasan, maupun kelengkapan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Selain itu, ditemukan pelaku usaha yang belum memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) serta pengelolaan limbah yang belum memadai.

Dessy menegaskan pentingnya pengawasan untuk memastikan program berjalan tanpa menimbulkan dampak negatif, termasuk risiko kesehatan dan lingkungan.

“Pemkot tidak mencampuri urusan dapur, tetapi kami bertugas mengontrol agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Data supplier juga harus lengkap dan disampaikan ke Satgas MBG sebagai langkah antisipasi,” katanya.

Sementara itu, Kepala Regional SPPG Bangka Belitung, Nyayu Rahmadini, menjelaskan bahwa saat ini terdapat 19 SPPG yang telah berjalan, dengan 18 unit aktif dan satu dalam tahap persiapan. Target ke depan, jumlah tersebut akan meningkat menjadi 38 unit.

Program MBG sendiri telah menjangkau lebih dari 43 ribu penerima manfaat, termasuk siswa, tenaga pendidik, dan masyarakat lainnya, serta turut membuka lapangan kerja di setiap unit operasional.

“Standar ini menjadi syarat utama sebelum operasional. Jadi setiap SPPG yang berjalan sudah melalui proses verifikasi, dan pengawasan tetap dilakukan secara berkala,” jelasnya.

Ia juga memastikan seluruh data pemasok telah terintegrasi dalam sistem pusat guna mendukung transparansi dan pengawasan.

Meski demikian, sejumlah kendala teknis masih ditemukan, termasuk kualitas makanan dan kebersihan. Beberapa unit bahkan sempat dihentikan sementara operasionalnya untuk perbaikan.

“Kami sudah melakukan penelusuran, evaluasi menyeluruh, serta pembersihan dan perbaikan sistem produksi. Penjamah makanan juga dilakukan pelatihan ulang untuk memastikan standar higienitas tetap terjaga,” ungkapnya.

Saat ini, dua unit SPPG masih dinonaktifkan sementara dan dua lainnya dalam tahap pembenahan, dengan target kembali beroperasi dalam waktu dekat.

“Semua nonaktif sementara, kemungkinan minggu depan aktif kembali,” pungkasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain