Baghdad, Aktual—Kita harus selalu mengingat dan mempersiapkan diri menghadapi kematian, karena kematian bisa datang sewaktu-waktu. Demikian dinyatakan oleh Ustad Sirojuddin Abdul Syukur, Staf Konsuler KBRI Baghdad, dalam khutbah Jumat yang diselenggarakan di Wisma KBRI Baghdad. Demikian dilaporkan wartawan Aktual.com, Satrio Arismunandar, dari Baghdad, Jumat siang (13/1).

Dubes RI untuk Irak Safzen Noerdin dan Kepala Kanselerai Ari Wardhana tampak di antara jamaah, yang cuma berjumlah 13 orang itu. Demi alasan kepraktisan dan keamanan, jajaran KBRI Baghdad menjalankan ibadah sholat Jumat di dalam lingkungan gedung Wisma KBRI.  Wisma dan kantor KBRI selalu dijaga ketat oleh polisi Irak di bagian luarnya. Dinding tembok luarnya itu masih ditambah pelindung beton setebal 40 cm, untuk mencegah serangan bom.

Sebelum bertugas di KBRI Baghdad, Sirojuddin yang asli Indramayu pernah mengajar di pesantren Al-Ishlah, Balongan. Ia mengenyam pendidikan di Pesantren Modern Gontor, lalu meneruskan ke Al-Azhar, di Fakultas Ushuluddin Jurusan Hadist.

Karena bertugas di Baghdad, Irak, yang oleh Kemlu RI dan PBB dikategorikan merupakan daerah berbahaya, Sirojuddin seperti juga staf dan diplomat KBRI Baghdad lainnya tidak boleh membawa anggota keluarga. Maka istri dan anak-anak Sirojuddin kini tetap tinggal di Majalengka.

Sirojuddin termasuk staf yang paling lama tinggal di Irak. Ia sudah datang ke Irak sejak Juni 2011. Jadi Sirojuddin termasuk tim awal yang bertugas mengaktifkan kembali KBRI Baghdad, sesudah vakum sejak invasi militer Amerika Serikat ke Irak tahun 2003. Ia terikat kontrak dengan dengan Kementerian Luar Negeri RI yang diperbarui setiap dua tahun. ***

()