Beranda Bisnis Jurus KKP Stabilkan Harga Saat Musim Puncak Penangkapan Ikan di Trenggalek

Jurus KKP Stabilkan Harga Saat Musim Puncak Penangkapan Ikan di Trenggalek

Nelayan memindahkan ikan laut hasil tangkapan di Pelabuhan Muara Angke, Jakarta, Kamis (25/10). Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyatakan hasil ekspor perikanan Indonesia menunjukkan peningkatan. Pada semester I-2018, ekspor produk perikanan tercatat sebanyak 510.050 ton. Angka tersebut, naik 7,21% dibanding periode yang sama 2017 yang tercatat 475.740 ton. AKTUAL/Tino Oktaviano

Jakarta, aktual.com – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus melakukan upaya menstabilkan harga dan pasokan ikan di sejumlah wilayah. Salah satu langkah yang dilakukan adalah melalui fasilitasi kerjasama antara nelayan dan industri pengolahan ikan. Tujuannya membuka akses pasar bagi nelayan saat pasokan ikan berlimpah demi memperoleh harga jual yang optimal.

Salah satu upayanya dilakukan di Prigi, Trenggalek Provinsi Jawa Timur yang tengah mengalami musim puncak penangkapan ikan pada September dan Oktober ini. Berdasarkan catatan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Prigi, hasil tangkapan nelayan dalam sepekan terakhir yang masuk ke Tempat Pendaratan Ikan (TPI) mencapai 100 – 120 ton per hari.

“Kondisi ini menyebabkan penurunan harga ikan tongkol lisong dari kondisi normal Rp16.000/kg menjadi Rp10.000-Rp12.000/kg,” ujar Plt Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Ishartini dalam siaran pers, Selasa (13/9) kemarin.

Ishartini pun memastikan jajarannya telah mempertemukan Koperasi Pindang Prigi Jaya dengan nelayan dalam rangka memenuhi pasokan hasil perikanan. Dengan melimpahnya hasil tangkapan, selain untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industrinya sendiri,  Koperasi Pindang Prigi Jaya juga bekerjasama dengan PT. Maharani Artha Prima guna memasok bahan baku ke wilayah lain.  Aksi jemput bola di kawasan produksi ini, ungkap dia, sangat penting guna menjaga stabilitas harga komoditas perikanan.

“Upaya seperti ini seyogyanya dilakukan di titik produksi atau Pelabuhan Perikanan lain, di saat produksi perikanannya berlimpah,” sambungnya.

Melalui aksi jemput bola tersebut, Ishartini berharap para pelaku usaha industri, supplier, dan eksportir perikanan semakin terpacu untuk menyerap hasil tangkapan nelayan.

Sebelumya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menyebutkan pentingnya keberadaan cold storage yang akan memperkuat manajemen rantai pasok hasil perikanan. Hal ini dapat mendorong peningkatan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat nelayan melalui stabilitas harga, serta menjamin pasokan stok ikan berkualitas kepada masyarakat.

(Megel Jekson)