Jakarta, Aktual.com – Berbeda dengan bencana alam lain, misal letusan gunung api, atau gempa tektonik bawah laut yang menyebabkan tsunami, maka hakikatnya musibah kebakaran hutan dan kabut asap seharusnya lebih mudah diantisipasi dan ditangani.

Pasalnya, bencana alam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap adalah “musibah terjadwal”, yakni hanya terjadi pada musim kemarau.

Berbeda dengan bencana gempa akibat letusan gunung api dan tektonik tidak bisa diprediksi secara tepat meskipun di era kemajuan zaman serba canggih saat ini.

Jika menengok ke belakang, bencana kebakaran hutan diikuti bencana kabut asap di Indonesia berulang kali terjadi, salah satu terparah misalnya pada 1982, 1992, 1998, dan sejak 2000-an hampir rutin setiap tahun.

Penjelasan beberapa pengamat lingkungan, terjadi fenomena siklus kemarau panjang sehingga rawan terjadi karhutla bukan lagi 10-an atau lima tahunan tetapi nyaris setiap tahun.

Apakah siklus kian cepat tersebut dampak pemanasan global atau kian terbuka hutan, belum ada kajian tentang hal itu.

(Abdul Hamid)