Seremoni pelepasan Merdeka Ekspor Pertanian oleh Presiden Joko Widodo, yang diikuti oleh jajaran kabinet juga kepala daerah secara virtual di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, pada Sabtu (14/8/2021). Kegiatan ini dilakukan secara serentak di sejumlah pelabuhan di Indonesia. (Foto: Aktual / Warnoto)
Seremoni pelepasan Merdeka Ekspor Pertanian oleh Presiden Joko Widodo, yang diikuti oleh jajaran kabinet juga kepala daerah secara virtual di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, pada Sabtu (14/8/2021). Kegiatan ini dilakukan secara serentak di sejumlah pelabuhan di Indonesia. (Foto: Aktual / Warnoto)

Jakarta, Aktual.com – Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Balai Besar Karantina Tanjung Priok menyampaikan peluang untuk ekspor olahan tulang sapi dan kerbau ke Jepang cukup terbuka besar terbukti eksportir tetap di Indonesia saat ini masih kewalahan memenuhi permintaan ekspor tersebut.

“Cacahan tulang sapi atau kerbau, itu banyak sekali permintaan dari Jepang, dan itu belum terpenuhi,” kata Koordinator Informasi dan Sarana Teknis Karantina Hewan pada Balai Besar Karantina Tanjung Priok Kementerian Pertanian RI, Ai Srimulyati usai memaparkan “Penguatan Akselerasi Ekspor Dalam Mendukung Gratiek” di Hotel Augusta, Garut, Jawa Barat, Sabtu (17/9).

Ia menuturkan pintu ekspor berbagai produk hewani maupun tumbuhan cukup terbuka untuk ke berbagai negara, dan pemerintah siap memfasilitasinya.

Salah satu ekspor yang memiliki peluang cukup besar, salah satunya tulang sapi dan kerbau yang selama ini dianggap limbah ternyata memiliki nilai ekonomi untuk eskpor ke Jepang.

“Tulang sapi, kerbau yang selama ini dianggap limbah, ada di tempat sampah, ternyata bisa naik kelas, ada nilai jual tinggi,” kata Ai.

Ia mengungkapkan peluang besar ekspor tulang tersebut diketahui dari eskportir olahan tulang yang ada di Bekasi, jumlah permintaannya tinggi, bahkan berapa pun banyaknya akan dibeli.

Limbah tulang itu oleh eksportir di Bekasi diolah terlebih dahulu yang nantinya dijual ke Jepang untuk kebutuhan penyaringan air biopori dan pupuk tanaman organik.

“Tulang itu dikeringkan, kemudian diolah menjadi penyaringan air untuk biopori, kalau bentuknya tepung itu jadi pupuk,” katanya.

Ia menyampaikan selama ini eksportir tersebut mengumpulkan tulang dari berbagai daerah di Indonesia, lalu dikumpulkan di Bekasi sebelum diolah dan diekspor.

Ia berharap masyarakat Garut dibantu oleh pemerintah daerah bisa memanfaatkan peluang ekspor tulang itu, terlebih daerah Garut banyak pedagang bakso yang tulangnya dibuang, padahal itu bisa diolah dan dijual.

“Kalau mau kumpulkan tulang, kemudian dijemur, sudah kering kirim ke Bekasi, eksportir,” katanya.

Ia menambahkan Balai Besar Karantina Tanjung Priok Kementan RI bersama Komisi IV DPR RI menggelar bimbingan teknis kepada petani di Kabupaten Garut dalam merealisasikan program akselerasi ekspor atau Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor (Gratieks) yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo dan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo.

Kegiatan kali ini, kata dia, dukungan dari anggota Komisi IV DPR RI Ono Surono dari Fraksi PDIP yang memberikan bimbingan teknis untuk mendorong masyarakat Garut agar bisa mengambil peluang ekspor berbagai komoditas.

“Kami ingin orang Garut sendiri yang bisa ekspor ke luar,” katanya.

(A. Hilmi)