Bakal pasangan calon presiden dan wakil presiden Joko Widodo dan Ma'ruf Amin didampingi Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto saat mendaftar diri sebagai capres dan cawapres di Kantor KPU, Jakarta, Jumat (10/8). Pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin yang diusung sembilan partai politik secara resmi mendaftar sebagai calon presiden dan wakil presiden tahun 2019-2024. AKTUAL/Tino Oktaviano

Jakarta, Aktual.com – Pamor Ketua Golkar Airlangga Hartarto dinilai masih moncer meski pada pemilihan umum 2019 Partai Golkar tak menjadi pemenang utama. Banyak kalangan menilai, Golkar masih solid meski diterpa badai korupsi di kepemimpinan sebelumnya.

Dalam pemilu legeslatif April silam, Golkar berhasil menduduki 85 kursi di DPR. Jumlah itu berada di urutan kedua setelah PDI Perjuangan. Gerindra, meski dipilih lebih banyak nomor dua setelah PDIP, namun hanya mampu mengusung kursi di DPR sebanyak 78 kursi.

Dengan prestasi tersebut, kepemimpinan Airlangga dalam memimpin Partai Golkar ini bisa terbilang mampu membalikkan keadaan di Pemilu 2019. Apalagi dalam periode 2014-2019 ini, Golkar menghadapi turbulensi politik yang luar biasa besar.

Pengamat politik dari Universitas Bung Karno, Cecep Handoko menilai, trubulensi yang memang terbawa dari kasus Setya Novanto bisa distabilkan oleh Airlangga Hartanto.

“Karena kita tahu, sebelum Airlangga menjabat memang sangat mencekam. Yang pada akhirnya membuat Golkar keteteran untuk itu,” kata Cecep ketika dihubungi.

Namun, Airlangga berhasil membuktikan sebagai nahkoda yang baik dengan mengatasi turbulensi politik itu dalam waktu singkat. Di bawah kepemimpinannya, Golkar kembali stabil dan berhasil bertahan di tiga besar dalam Pemilu Legeslatif 2019.

Sementara terkait dengan Munas Golkar ini, Cecep melihat ada dua kekuatan pemerintah yang membela masing-masing kandidat. Hanya saja pemerintah sendiri bisa dilihat lebih condong ke salah satu kandidat.

“Baik Airlangga maupun Bambang Soesatyo keduanya sama-sama didukung. Hanya saja kita melihat siapa yang lebih punya peluang. Kita lihat seja Airlangga selalu all out ke pemerintah, membantu presiden,” kata dia.

Sementara dia melihat meski Bamsoet memiliki kekuasaan di parlemen, relatif tidak ada terobosan. “Airlangga lebih berpeluang, apalagi Airlangga lebih lebih loyal,” kata dia.

Untuk itu, saran dia, Golkar jangan terlalu lama dengan polemik yang terjadi menjelang Munas Golkar. Sebaiknya ini segera disudahi. Karena ada sejumlah agenda besar yang dihadapi.

“Saya yakin polemik di internal, tidak akan panjang, karena mereka akan menghadapi agenda-agenda besar, Airlangga lebih berpeluang,” kata dia.

(Abdul Hamid)