Jakarta, Aktual.com – Program pengampunan pajak (tax amnesty) yang sudah berakhir Maret lalu memunculkan banyak wajib pajak (WP) baru yang selama ini tak pernah teridentifikasi. Bahkan ada orang terkaya Indonesia ternyata tak mengurus pajaknya dengan baik.

“Ternyata kita menemukan ada banyak wajib pajak yang selama ini tidak teridentifikasi pada muncul dengan melakukan deklarasi. Bahkan, ada orang Indonesia terkaya belum diurus pajaknya. Jadi, basis wajib pajak kita tambah luas,” terang Anggota Komisi XI DPR RI Eva Kusuma Sundari di Gedung DPR, Senayan, Kamis (6/4).

Menurutnya, ke depan keberlanjutan fiskal di tanah air akan lebih terjamin dengan basis pajak yang kian luas. Ada banyak benturan, memang, mengapa para WP itu baru teridentifiasi setelah ada program pengampunan pajak. Benturan ini misalnya, perbankan yang tak mau membuka data nasabahnya.

Selain itu, data bea cukai dan pajak saja, Kemenkeu belum memilikinya. Eva berharap, basis pajak yang semakin luas dan berbagai hambatan diefektifkan kembali agar berdampak ekonomi bagi kebutuhan fiskal.

Eva juga membandingkan program serupa di negara lain, dimana program ini terbukti paling sukses walau banyak target yang meleset dari perencanaannya.

“Jangan lupa, BI sendiri semula pesimis karena perolehannya diprediksi hanya Rp50 triliun, ternyata telah terlampaui. Pesimisme BI sudah terjawab,” jelasnya.

Melalui program pengampunan pajak, banyak harta WP dideklarasikan yang sebelumnya tak pernah ada. Walau tidak semua harta deklarasi direpatriasi, tapi program ini perlu diapresiasi.

Pada bagian lain, dana tebusan yang dikeluarkan para WP dari bank, ternyata sempat membuat perbankan nasional sedikit goyah, lantaran besarnya penarikan dana. Mau tidak mau perbankan harus legowo untuk kepentingan yang lebih besar.

“Kita bicara kebutuhan bersama untuk membiayai pendanaan pembangunan. Pasti akan ada balance-nya di kemudian hari. Perlu ada sistem baru dalam interconnectivity dalam kebijakan fiskal. Perbankan mesti mendukung. Jangan tumbuh sendiri, sementara fiskal tidak didanai,” pungkasnya.

()