Karyawan penukaran mata uang asing menunjukkan mata uang dolar dan mata uang rupiah di penukaran uang di Jakarta, Rabu (9/11). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada saat jeda siang ini kian terpuruk di zona merah. Rupiah ditutup terapresiasi tipis 0,02% atau 2 poin ke level Rp13.084 per dolar AS setelah diperdagangkan pada kisaran Rp13.058 – Rp13.099 per dolar AS. AKTUAL/Tino Oktaviano

Jakarta, Aktual.com – Institute for Development of Economic and Finance memprediksi fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat pada 2017 nanti diproyeksikan akan lebih besar dibanding tahun ini.

Hal ini mengingat berbagai perkembangan ekonomi dan politik di level global yang masih diliputi ketidakpastian, terutama setelah adanya Brexit, Pemilu AS, dan masih rebalancing-nya perekonomian China.

“Makanya INDEF memproyeksikan rata-rata nilai tukar di 2017 sebesar Rp13.500 per USD. Lebih besar dari angka BI (Bank Indonesia) sebesar Rp13.300,” ujar peneliti INDEF Ahmad Heri Firdaus di Jakarta, Sabtu (10/12).

Dengan kemenangan Donald Trump itu, kata dia, akan berdampak serius. Apalagi kemudian dia sendiri menginginkan suku bunga The Fed atau Fed Fund Rate untuk naik. Dan kemungkinan akan meningkatkan inflasi di AS. Kondisi seperti dicampur dengan kondisi dalam negeri yang belum stabil membuat rupaih kian terpuruk di 2017.

Menurutnya, pemerintah sendiri belum mampu untuk mengendalikan persoalan yang berpotensi menekan nilai tukar rupiah. Seperti, masih dangkalnya pasar keuangan domestik, terutama pada transaksi valuta asing.

Juga, masih tingginya ketergantungan valas domestik terhadap pasokan asing non resident. Kemudian, masih buruknya kinerja ekspor. Masih minimnya aluran Devisa Hasil Ekspor. Masih tingginya defisit neraca berjalan.

“Serta masih tingginya kebutuhan pembayaran utang luar negeri dan kegiatan impor. Hal itu semua akan menekan nilai tukar rupiah di 2017 nanti akan semakin fluktuatif.

Memang, dalam upaya mengurangi tekanan terhadap nilai tukar ke depannya, regulator moneter di tahun depan dapat memperluas bilateral swap agreement.

“Jadi tahun depan BI harus lebih antisipatif terhadap fluktuatif rupiah yang masih tinggi. Sekalipun di 2016 pun sebenarnya masih cukup tinggi. Bahkan depresiasi rupiah sepanjang 2016 lebih parah dari 2014 lalu.”

Kondisi rupiah yang masih fluktuasi tinggi itu, kata Heri, membuat risiko gagal bayar untuk utang luar negeri, terutama utang dari swasta. Apalagi di tahun depan, fluktuasi terhadap nilai tukar masih cukup berimbas pada oara profil risiko pendanaan luar negeri swasta, bahkan juga pemerintah.

“Sehingga, imbas dari ketidakpastian nilai tukar itu membuat likuiditas perekonomian yang mengandalkan pembiayaan dari luar negeri kian terganggu.”

Laporan: Busthomi

()

(Wisnu)