Kiri-kanan ; Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto, Ketua Umum Partai Golkas Setya Novanto, Sekjen Partai Golkar Idrus Marham, Wakil Sekjen DPP PDIP Ahmad Basarah, memberikan keterangan persnya usai melakukan pertemuan di rumah Ketua Umum PDIP Megawati Seokarnoputri di Jalan. Teuku Umar, Jakarta Pusat, Minggu (20/11/2016). Pertemuan tersebut membahas seputar situasi politik nasional, di antaranya susasana pertarungan para pasangan calon dalam Pilgub DKI 2017. AKTUAL/Munzir

Jakarta, Aktual.com – Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto menilai, peringatan hari guru nasional bukanlah sekedar mengenang jasa-jasa pengabdian dan dedikasi para guru. Namun, juga meneladani sikap pahlawan tanpa tanda jasa yang begitu tulus dan ikhlas dalam mencetak generasi terbaik untuk bangsa dan negara.

“Teladan dan ketulusan itulah yang begitu penting untuk kita aktualisasikan saat ini. Guru mengajarkan kita tentang perbedaan yang disikapi dengan baik dan tanpa pandang bulu,” ujar Novanto melalui pesan siaran, Jumat (25/11).

Menurut Novanto, para guru telah mengajarkan kebaikan kepada semua orang, tanpa memilah-milah atas dasar perbedaan. Guru, kata dia, adalah pemberi dan pendengar yang baik. Serta, dengan tulus menyampaikan pelajaran dan mendengarkan keluh-kesah dengan penuh kesabaran, tanpa sedikitpun memendam kekecewaan.

“Saya masih ingat dengan 2 sosok guru dan pendidik, Bapak Ruhiyat di Sekolah Dasar 73 Tebet Jakarta Selatan dan Ibu Sukati di Sekolah Menengah Atas 9 Jakarta. Bapak Ruhiyat sebagai pengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia, terkenal kalem dan penyabar. Selama dididik oleh beliau, Saya tak pernah melihat ada amarah dari raut wajahnya meski dikelilingi puluhan siswa dengan tabiat dan perilaku yang cenderung menyebalkan dan menjengkelkan,” ungkap Novanto mengingat sosok guru yang menjadi tauladannya.

“Kebalikannya, Ibu Sukati, selalu meluapkan amarah dan emosinya yang menghiasi keseharian siswa SMA 9 Jakarta kala itu, menurut kita siswanya. Ibu Sukati yang berkaca mata memang sangat pas dengan ciri guru Matematika yang terkenal galak,” tambah dia.

Menurut Novanto, kedua sosok yang cenderung berlainan karakter terebut merupakan guru dan pendidik yang sesungguhnya. Sebab, kata dia, tidak sekedar mengajarkan apa yang tertera di atas kertas dan tercoret di papan tulis, tapi mereka juga mewariskan keteladan bahwa kesabaran dan amarah yang ditujukkan padanya dahulu mengandung nilai universal bagaimana menghadapi hidup dengan sabar dan mendisiplinkan diri dengan baik.

Hal itu dibuktikannya saat ia tersandung kasus “Papa Minta Saham” tahun lalu yang membuat Novanto lengser dari kursi ketua DPR. “Bapak Ruhiyat memberikan tauladan akan pentingnya kesabaran menghadapi ujian kehidupan. Apalagi sebagai publik figur yang tidak pernah sepi dari fitnah, isu, maupun gosip.”

“Sementara dari Ibu Sukati, memberikan tauladan tentang mendisiplinkan diri dalam meraih impian dan tujuan hidup. Ibu Sukati berpesan, hidup yang cenderung keras membutuhkan ketegasan dan kedisiplinan agar mampu ditaklukkan, namun harus mengikuti peraturan dan aturan yang ada,” kata Legislator asal NTT ini.

Pria yang akrab disapa Setnov ini menambahkan, Bangsa Indonesia perlu mencontoh karakter guru yang senantiasa mengedepankan rasionalitas dalam bertindak. Bangsa ini, lanjutnya, perlu mencontoh guru yang senantiasa mendahulukan kepentingan bersama tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras, kepentingan kelompok maupun kepentingan golongan. Apalagi, belakangan ini bangsa sedang diuji dengan masalah-masalah yang bersinggungan dengan perbedaan pandangan.

“Warisan tradisi kebangsaan dan ke-Indonesia-an kita sangat sejalan dengan teladan yang telah diberikan oleh para guru dan pendidik di negeri ini. Situasi sosial dan politik kita akhir-akhir ini sangat penting diwarnai oleh karakter guru yang sesungguhnya, agar Bangsa kita menjadi Bangsa besar, Bangsa yang ‘move on’ demi kesejahteraan Rakyat Indonesia.”

Ia pun menghimbau kepada semua generasi penerus bangsa, untuk memperingati hari guru ini bukan hanya sekedar ceremony semata. “Tapi menghormati guru dan meneladani apa yang telah mereka contohkan dalam kehidupan kita,” ujar Setnov.

Laporan: Nailin In Saroh

()

(Wisnu)