The Indonesian special army force (KOPASSUS) listens to a speech by Indonesian President Susilo Bambang Yudhoyono during the 60th anniversary celebration of Indonesia's military at Halim military airport in Jakarta October 5, 2005. Yudhoyono said on Wednesday he had asked the military of Indonesia, the world's fourth most populous country, to help in the anti-terror fight. Indonesia was hit by suicide bombings in Bali on October 1 that killed 22 people. REUTERS/Enny Nuraheni

Jakarta, Aktual.com — Kolonel Laut Edi Edianto dari Direktorat Bela Negara Kementrian Pertahanan menegaskan, program Bela Negara yang dicanangkan oleh Presiden RI, Joko Widodo tidak seperti banyak diberitakan media belakangan ini.

Menurutnya, program Bela Negara yang menjadi gawean Kementrian Pertahanan bukan dalam konteks fisik layaknya wajib militer.

“Bela negara adalah pembangunan karakter bangsa seperti cinta tanah air, rela berkorban,” katanya dalam sebuah diskusi di Jakarta, Kamis (29/10).

Menurutnya, banyak pemberitaan yang tidak sesuai dan akibatnya, program Bela Negara menjadi terkesan negatif dan bersifat pemaksaan jika dilakukan dengan cara fisik layaknya wajib militer.

“Jadi yang dicanangkan itu ketahanan nasional, bukan pertahanan nasional. Jadi bukan wajib militer, hanya sampai pembentukan karakter,” tegasnya.

Sebelumnya, kritik terhadap program bela negara mengalir deras. Salah satunya dari Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Ferry Julianto. Menurutnya, tidak ada urgensi-nya pemerintah menjalankan program Bela Negara. Karena negara tidak dalam keadaan genting atau pun terancam.

()