cctv di titik 16 stadion kanjuruhan, gas air mata, PT LIB, Tim TGIPF Tragedi Kanjuruhan,tiga anggota polisi, tragedi kanjuruhan, KPAI, Tragedi di Stadion Kanjuruhan
Petugas menembakan gas air mata ke tribun stadion Kanjuruhan. (Ist)

Jakarta, Aktual.com – Jumlah anak yang dirawat akibat tragedi Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur didata oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia atau KPAI.

Pendataan yang dilakukan KPAI itu karena belum ada data terpilah antara korban anak dan orang dewasa, sementara jumlah anak yang meninggal ada 33 anak.

“Kami terus koordinasi dengan Dinkes, Dinas PPPA, termasuk menelusuri anak yang luka ringan,” kata Kepala Divisi Pengawasan, Monitoring, dan Evaluasi KPAI Jasra Putra saat dihubungi di Jakarta, Rabu (5/10).

Pihaknya menduga, dalam tragedi Kanjuruhan tersebut, terdapat anak-anak yang mengalami luka ringan dan langsung pulang ke rumah.

Anak-anak ini juga, kata dia, harus ditelusuri keberadaan-nya agar mereka dapat diberikan pendampingan psikis.

“Bagaimana kondisi anak-anak lainnya, padahal situasi yang dihadapi sama. Artinya banyak anak yang langsung pulang, padahal membutuhkan pemulihan pasca peristiwa,” katanya.

KPAI juga masih menelusuri anak-anak yang menjadi yatim maupun yatim piatu karena orang tuanya meninggal dunia di Stadion Kanjuruhan.

“Data-data ini masih kami dalami, (korban meninggal) apakah memiliki anak,” kata Jasra Putra.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, tragedi Kanjuruhan menyebabkan 131 orang meninggal dunia, 440 orang luka ringan, dan 29 orang luka berat.

Sebelumnya, kericuhan terjadi selepas pertandingan antara Arema FC dan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, pada Sabtu (1/10) malam.

Petugas keamanan menggunakan gas air mata untuk menghalau para pendukung saat kerusuhan membesar dan tindakan tersebut membuat penonton yang panik berdesak-desakan keluar dari stadion.

Akibat kejadian tersebut, banyak pendukung yang meninggal dunia maupun terluka.

(Wisnu)