Maulana Syarif Sidi Syaikh Dr. Yusri Rusydi Sayid Jabr Al Hasani saat menggelar Ta’lim, Dzikir dan Ihya Nisfu Sya’ban (menghidupkan Nisfu Say’ban) di Ma’had ar Raudhatu Ihsan wa Zawiyah Qadiriyah Syadziliyah Zawiyah Arraudhah Ihsan Foundation Jl. Tebet Barat VIII No. 50 Jakarta Selatan, Jumat (19/4/2019). AKTUAL/Tino Oktaviano

Jakarta, aktual.com – Mursyid atau guru thariqah merupakan pembimbing ruhani seorang Salik yang membimbing untuk bertemu atau ma’rifat kepada Allah Swt.

Oleh karena itu, dalam memilih atau mencari Mursyid tidak boleh sembarangan, berikut kriteria-kriteria seorang Mursyid yang layak diikuti menurut Maulana Syekh Yusri Rusydi,

Mursyid atau Syaikh tharīqah harus memiliki dua kriteria:
1. Ia dikenal sebagai orang saleh.
2. Ia memahami tharīqah dengan baik.

Tidak disyaratkan bagi seorang mursyid tharīqah untuk mendalami fikih. Ia tidak harus menjadi ahli fikih seperti Dr. Ali Jum’ah yang sangat mendalami fikih, namun seorang mursyid tharīqah wajib mengetahui dasar-dasar fikih; tentang bersuci, shalat, zakat, haji serta halal dan haram.

Pastinya ia harus mengerti tentang penyakit-penyakit hati. Seorang Mursyid adalah ahli hati (Syaikh al-Qalb), karena itu ia harus memahami fikih hati. Sedangkan ahli fikih adalah ahli hukum perbuatan badan (Syaikh al-Jawārih) yang harus mendalami fikih badan dan interaksi.

Seseorang yang ingin menempuh perjalanan menuju Allah Swt, menurut Syekh Yusri, haruslah memilki guru Mursyid, karena Islam tidak hanya mengatur perkara dzahir (Luar)nya saja akan tetapi perkara-perkara Batin (dalam) juga diatur sedemikian rupa.

“Kamu memiliki dzāhir yang diatur oleh Islam, dan memilki bātin yang merupakan tempat Iman. Karena itu kamu harus memiliki syaikh yang ahli fikih, dan syaikh murabbī pendidik hatimu. Bisa saja gurumu adalah seorang syaikh yang ahli dua fikih ini, sehingga ia adalah faqīh dan murabbī bagimu,” ucap Syekh Yusri.

Akan tetapi, menurut Syekh Yusri, sebenarnya seseorang itu tidak perlu mencari Mursyid karena Allah Swt sendiri yang akan memilih Mursyid untuk dirinya.

“Sebenarnya kamu tidak perlu memilih mursyid untukmu, namun Allah yang akan memilihnya. Lihatlah tharīqah yang mudah kamu amalkan dan ikutilah syaikhnya,” ujarnya

Bagaimana jika seseorang belum mendapatkan murabbī?

Syekh Yusri menganjurkan seseorang kepada seseorang yang sudah memiliki murabbi bershalawat kepada Nabi Muhammad hanya sebanyak 200 kali, akan tetapi jika tidak memiliki murabbi dianjurkan untuk bershalawat sebanyak 1000 kali selama sehari.

“Jika kamu punya murabbī kamu boleh membaca 200 kali shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad shallallāhu ‘alaihi wa sallam (sesuai petunjuk syaikh). Namun apabila kamu belum mendapatkan murabbī maka kamu harus memperbanyak shalawat, minimal 1000 kali sehari, atau idealnya 10.000 kali per hari. Jumlah shalawat bagi orang yang mendidik jiwanya tanpa murabbī berkisar antara 1000 hingga 10.000 perhari,” ucapnya

Syaikh al-Syuni membaca 40.000 shalawat setiap hari. Inilah rahasia yang membuat beliau mengungguli orang-orang di zaman beliau, hingga menjadi imam mereka, padahal beliau tidak memilki seorang murabbī.

“Bayangkan, membaca 40.000 shalawat sehari berarti bershalawat setiap saat dan sepanjang hari. Karena inilah, sebenarnya memiliki murabbī meringankan bebanmu dan membuatmu tidak bersusah payah membaca shalawat dengan angka fantastis ini setiap hari. Ya, memilki syaikh murabbī adalah kenikmatan besar,” ucap Syekh Yusri.

(Rizky Zulkarnain)