Jakarta, Aktual.com – Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI Andi Widjajanto menyebut sekitar 46 persen komoditas pangan dan energi dunia didistribusikan melalui laut Indonesia, dari total 82 persen pasokan yang didistribusikan melalui laut secara global.

Andi menyebut dari 82 persen komoditas pangan dan energi dunia yang didistribusikan melalui laut tersebut, sebesar 60 persen di antaranya saat ini terganggu distribusi-nya.

“Yang melalui Selat Malaka, Sunda dan Lombok itu sekitar kira-kira 46 persen dari pasokan komoditas pangan dan energi dunia yang melalui laut kita,” kata Andi dalam Jakarta Geopolitical Forum (JGF) ke-6, di Gedung Metro TV, Jakarta Barat, Rabu (24/8).

Ia pun menggarisbawahi bahwa masalah yang muncul di dunia berdampak ke Indonesia dalam tiga tahun terakhir berasal dari disrupsi sistem distribusi global utamanya di sektor maritim.

Untuk itu, kata Andi, Lemhannas pada Jakarta Geopolitical Forum ke-6 mengambil tema “Geomaritime: Chasing the Future of Global Stability” karena menganggap tantangan ke depan yakni rantai pasok global terkait sektor maritim.

Ia menyebut selain untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai dinamika geomaritim yang sedang terjadi saat ini, forum ini diharapkan juga mampu menjadi modal awal Lemhannas untuk memberikan rekomendasi maupun kajian strategis kepada Presiden berkenaan dengan antisipasi dampak krisis energi dan pangan global terhadap Indonesia.

“Ke depan kita fokus antisipasi krisis dari sekarang,” ujarnya.

Andi mengatakan dibutuhkan perencanaan strategis jauh ke depan guna menjadikan Indonesia sebagai kekuatan maritim di tengah persaingan geopolitik antarnegara, krisis dan patahan-patahan global, di mana menjadikan maritim sebagai wilayah pertarungan-nya.

“Tidak cukup perencanaan strategis hanya sampai 2024, tidak cukup perencanaan strategis 2045. Kita membutuhkan perencanaan strategis jangka panjang hingga tahun 2070,” kata Andi.

Lemhannas menyelenggarakan Jakarta Geopolitical Forum (JGF) ke-6 atau The 6th Jakarta Geopolitical Forum secara hibrida pada 24 dan 25 Agustus 2022. Forum tersebut menghadirkan para ahli geopolitik dari berbagai negara yang membahas berbagai isu komprehensif seperti pertahanan, keamanan, teknologi, hingga ekonomi maritim.

(Antara)

(As'ad Syamsul Abidin)