Petani membajak sawah yang akan siap untuk ditanam di areal persawahan di desa Margasana kecamatan Kramatwat kabupaten Serang, Banten, Sabtu (28/5). Kementerian Pertanian mencanangkan gerakan percepatan tanam padi sebelum memasuki musim kemarau awal Juni 2016. AKTUAL/TINO OKTAVIANO

Jakarta, Aktual.com – Kenaiakan harga pangan dipasaran, terutama saat ramadan, disebabkan adanya mata rantai dari hasil pertanian, termasuk permainan harga oleh para tengkulak saat masuk ke pasar-pasar.

“Memang harga dari petani itu kadang-kadang jauh lebih murah daripada harga di pasaran karena memang penyebabnya adalah mata rantai pasarnya, karena banyaknya tengkulak. Mata rantai itu membuat harga di tingkat petani jauh lebih murah daripada harga di pasar,” kata Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (DPN HKTI) Mahyudin, dalam keterangan tertulisnya, Minggu (19/6) malam.

“Dan itu juga harus diupayakan oleh kementerian pertanian memperbaiki tata niaga hasil produksi pertanian kita,” tambah dia.

Menurut politikus Golkar ini, bila fokus pada tujuan untuk mencapai kemajuan petani, menyejahterakan petani, dan menuju pada kedaulatan pangan nasional, maka sudah perlu dipikirkan bagaimana memodernisasi pertanian Indonesia secara keseluruhan.

“Dengan pakai mesin biaya produksi bisa ditekan, sehingga mudah-mudahan kedepan tidak ada lagi produk-produk pertanian dari luar yang membanjiri negara kita karena produk pertanian negara kita sudah lebih murah, efisien, secara otomatis tidak marketable lagi bagi pasar luar negeri,” tandas wakil ketua MPR RI itu.

 

Laporan: Novrizal

()