Melihat kondisi demikian, menurut Mahyudin, kita malah membicarakan masalah-masalah yang njlimet, tak substantif. “Kita masih memperbincangkan mengenai sekolah 5 hari atau 6 hari,” keluhnya. “Harusnya kita membicarakan mengenai fasilitas pendidikan anak bangsa,” tegasnya.

Di hadapan ratusan mahasiswa dan kader Partai Golkar, Mahyudin memaparkan kembali pidato Bung Karno. Dikatakan, para pendiri bangsa membentuk bangsa dan negara ini untuk semua. “Dan memilih Pancasila sebagai dasar demokrasi,” katanya.

Dirinya mengkritik sistem pemilihan langsung. “Pemilihan langsung tak cocok dengan Pancasila. Dengan pemilihan langsung ada kelompok masyarakat yang tak terwakili,” kata Mahyudin. “Pancasila mendorong kita untuk bermusyawarah dan bermufakat,” tambahnya.

Tak hanya soal Pemilu yang disorot Mahyudin, dalam soal ekonomi pun ia kritisi. “Sistem ekonomi kita sudah mengarah ke liberal,” ungkapnya. Ditegaskan bahwa sistem ekonomi kita berlandaskan Pancasila. “Golkar sudah merancang negara kita dalam usianya yang ke-100 pada 2045 mendatang menjadi negara kesejahteraan,” kata Mahyudin.

Untuk itu dirinya mengharap seminar itu bisa melahirkan ide yang bisa dilaksanakan. “Serta menjadikan Pancasila menjadi perilaku sehari-hari,” ucapnya. “Kita menaruh harapan pada Golkar untuk memperjuangkan Pancasila sebagai perilaku masyarakat Indonesia,” pungkasnya.

Nailin In Saroh