Bandung, aktual.com – Museum Konferensi Asia Afrika (KAA) menyelenggarakan Jelajah Malam Museum KAA bertemakan Kisah Diplomasi Perjuangan pada Jumat (10/8) malam, acara ini dihadiri sekitar 455 pengunjung dari berbagai kalangan.

“Jelajah Museum Konferensi Asia Afrika yang telah diselenggarakan rutin sejak 2010 ini menjadi pelopor kegiatan night at museum di Indonesia khususnya Jawa Barat. Dan sekurang-kurangnya menyelenggarakan tiga tema yang berbeda setiap tahunnya,” kata Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie.

Jelajah Malam Museum KAA dimulai pada pukul 18.30 WIB hingga 22.00 WIB dan merupakan bentuk pelayanan lebih Museum KAA terhadap masyarakat.

“Sekarang sistemnya reservasi ya, sudah dari tahun lalu. Karna jika tidak reservasi pengunjung membuat antrean yang panjang hingga ke jalan raya. Semula untuk tema kali ini kami menaruh kuota sebanyak 300 pengunjung namun yang mendaftar mencapai 455 itu artinya respon masyarakat atas kegiatan ini sangat baik,” kata dia.

Meinarti menuturkan tema yang diusung dalam Jelajah Malam Museum KAA berbeda-beda seperti pada Agustus tahun lalu mengambil tema pemuda dan pahlawan dan pada Bulan April 2018 mengusung tema afrika.

“Dan sekarang jelang HUT Kemerdekaan RI. Kami mengambil tema kisah diplomasi perjuangan. Karena ingin mengangkat kisah-kisah diplomasi RI setelah Indonesia Merdeka, karena masih banyak hal yang harus kita perjuangkan, masih banyak negosiasi yang harus dilakukan setelah kita memproklamasikan Kemerdekaan pada tahun 1945,” kata dia.

Jelajah museum menawarkan pengalaman yang baru bagi pengunjungnya dan jika tahun lalu pengunjung diajak melihat dari atas balkon dan membacakan dasa sila Bandung di ruangan ketika pemimpin melahirkan Dasa Sila Bandung. Untuk kali ini pengunung dapat melihat langsung ruang VIP dan membacakan proklamasi di dalam Gedung Merdeka.

Selain itu, acara ini juga mengikutsertakan para sahabat museum atau relawan yang berkegiatan di Museum KAA, yang terdiri dari beberapa klub.

Untuk kali ini yang menjadi relawan sekaligus pemandu adalah klub edukator atau pecinta sejarah.

“Untuk mengajak masyarakat agar tidak melupakan sejarah. Karna acara ini memberi pengalaman dan memori yang lebih kuat dengan apa yang dirasakan oleh para pejuang kita dulu. Bukan hanya perjuangan fisik saja namun juga negosiasi untuk dapat pengakuan atas Negara Kesatuan Republik Indonesia ini,” kata dia.

Meinarti berharap kedepannya agar masyarakat lebih mengapresiasi museum dan sejarah dengan diselenggarakan acara tersebut karena bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarahnya.

Salah seorang pengunjung, Eka mengatakan dirinya sangat menikmati jelajah museum di malam hari ini.

“Biasanya kita ke museum tuh siang hari, kalau ini malem kan jadi punya sensasi yang berbeda. Terus ada edukator disetiap kloternya. Dan dapag bandrek bajigur secara gratis,” ujarnya.

 

(Antara)

(Novrizal Sikumbang)