Jakarta, Aktual.com – Diriwayatkan dari Aisyah RA, istri Nabi SAW bahwa “Ada beberapa bayi yang dibawa ke hadapan Rasulullah SAW , kemudian Beliau mendo’akan keberkahan atas mereka dan mentahnik mereka.”

Tahnik dilakukan pada bayi dengan cara melembutkan satu biji kurma atau lebih atau yang manis2 dengan mulut pentahnik dan menekan-nekan langit-langit mulut bayi dengan cara meletakkan sebagian yang telah dilembutkan tersebut keujung jari dan memasukkannya kemulut sang bayi, kemudian menggerakkan jari tersebut di dalam mulut sang bayi hingga mulut dipenuhi dengan kurma yang telah dilembutkan tersebut.

Kalau bisa, mulut bayi dibuka hingga sebagian dari kurma yang sudah dihaluskan tersebut sampai ke lambungnya. Sebaiknya mentahnik dengan tamr (kurma kering), apabila tidak ada maka dengan ruthab (kurma basah) dan kalau tidak ada maka dengan makanan yang manis yang tidak dibakar, seperti anggur kering (kismis) dan madu serta sejenisnya. Ini disampaikan para Ulama Syafi’iyah.

Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Yang lebih utama, mentahnik dilakukan dengan kurma kering (tamr). Jika tidak mudah mendapatkan kurma kering (tamr), maka dengan kurma basah (ruthab). Kalau tidak ada kurma, bisa diganti dengan sesuatu yang manis.”

Apa manfaat tahnik untuk kesehatan ? Bagaimana perspektif medis ?

Hikmah yang terungkap dalam ilmu kedokteran dengan penelitian-penelitian dokter spesialis, dinyatakan bahwa ilmu kedokteran modern menemukan hikmah dari tahnik ini.

Terbukti bahwa setiap anak khususnya yang baru lahir dan menyusui berisiko kematian apabila terjadi pada mereka salah satu dari dua hal yaitu;
1. Kekurangan gula dalam darah
2. Menurunnya derajat suhu badan ketika menghadapi udara dingin disekitarnya.

Kandungan zat gula ‘glukosa’ dalam darah bayi yang baru lahir itu sangat kecil. Jika bayi yang lahir beratnya lebih kecil maka semakin kecil pula kandungan zat gula dalam darahnya. Oleh karena itu, bayi premature yang beratnya kurang dari 2,5 kg, maka kandungan zat gulanya sangat kecil sekali, di mana pada sebagian kasus kurang dari 20 mg/100 ml darah.

Adapun anak yang lahir dengan berat badan di atas 2,5 kg, maka kadar gula dalam darahnya biasanya di atas 30 mg/100 ml. Kadar gula bila sampai turun drastis bisa menyebabkan terjadinya berbagai penyakit: Bayi menolak untuk menyusui, Otot-otot melemas, tidak bisa bernafas dan kulit bayi menjadi kebiruan; Kontraksi atau kejang-kejang Sebagaimana juga bisa menyebabkan bahaya berlipat dan akut, diantaranya: Pertumbuhan fisik dan akal lambat Kelumpuhan otak. Cacat pendengaran atau penglihatan atau kedua-duanya Epilepsy. Apabila tidak segera diberikan pengobatan maka bisa menimbulkan kematian.

Padahal pengobatannya sangat mudah yaitu memberikan gula glukosa yang dilarutkan kedalam air bisa dengan melalui mulut atau pembuluh darah. Ini dapat diatasi dengan tahnik. Jadi tahnik adalah tindakan preventif dari penyakit kekurangan gula dalam darah, karena mengandung gula glukosa dalam jumlah besar dan khususnya setelah larut dengan air ludah yang mengandung banyak enzyme yang dapat merubah gula sukrosa menjadi glukosa. Demikian juga ludah memudahkan larutnya gula-gula tersebut. Dari sini akan memudahkan bayi mengambil manfaat darinya.

Wallahu’alam…

Handa

(As'ad Syamsul Abidin)