Jakarta, Aktual.com – Mantan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita meminta masyarakat kelas menengah ke atas untuk lebih menggenjot lagi konsumsi atau belanjanya dalam rangka berkontribusi membantu pemerintah mencegah resesi ekonomi.

“Masyarakat menengah ke atas kurang belanja karena dia takut keluar dari rumahnya. (Masyarakat) menengah ke atas membatasi,” katanya dalam diskusi daring di Jakarta, Kamis (13/8).

Enggar menyatakan masyarakat kelas menengah ke atas saat ini cenderung takut untuk keluar dari rumah dan sengaja membatasi belanja untuk menjaga cadangan keuangannya.

“Mereka juga menjaga cadangan keuangannya. Ini tercermin dari peningkatan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang tumbuh positif di perbankan,” ujarnya.

Tak hanya itu, Enggar menuturkan masyarakat kelas menengah ke atas juga cenderung menggunakan uang untuk membeli emas karena menganggap sebagai cadangan yang likuid dan terjamin.

“Ini persoalannya adalah penjualan emas ini tidak mendorong perputaran ekonomi. Sebenarnya bagaimana kita spending dan mendorong masyarakat mengeluarkan uang,” tegasnya.

Sementara itu, Ekonom dan Founder Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia Hendri Saparini menyatakan kontribusi konsumsi yang sebesar 58 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) ternyata disokong oleh desil tertinggi.

Ia menyebutkan porsi pengeluaran 40 persen penduduk terbawah hanya sekitar 17 persen, sedangkan 20 persen penduduk tertinggi adalah lebih dari 45 persen.

“Kalau mereka tidak didorong dengan kebijakan maka itu menjadi berat. Kita berharap ada kebijakan untuk mendorong agar semua level rumah tangga dari desil satu sampai 10 melakukan spending,” katanya.

Hendri berharap pemerintah dapat membuat kebijakan dan program-program yang mampu mendorong konsumsi seluruh lapisan masyarakat Indonesia agar pertumbuhan ekonomi tidak terkontraksi.

Ia menyarankan untuk masyarakat desil satu hingga empat pemerintah dapat mempercepat penyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan menciptakan lapangan pekerjaan.

“Mereka sudah ada penurunan daya beli. Harus ada lapangan kerja yang diciptakan sehingga multiplier efect-nya lebih besar,” ujarnya.

Kemudian, Hendri juga menuturkan pemerintah bisa memberikan paket bantuan yang berisi produk lokal buatan UMKM sehingga dana stimulus ekonomi dapat sekaligus mendukung produk dalam negeri.

“Uang yang sangat mahal kita dapatkan dengan yield mendekati 7 persen kemudian tidak mendorong ekonomi ini sangat disayangkan,” tegasnya. (Antara)

(As'ad Syamsul Abidin)