Jakarta, Aktual.com — Semua orang tua (atau lebih tepatnya seorang ibu, red) pasti mengingat sebuah memori tentang tangisan pertama sang anak dan ini mungkin tidak akan terlupakan. Di dalam keluarga Muslim kewajiban seorang orang tua pertama kali saat sang anak lahir ke dunia yaitu mengunmandangkan adzan dan iqomat, yang mana sebaiknya yang melakukan langsung yakni ayah sang bayi sendiri.

Kumandangkan adzan di telinga pertamanya kemudian beralih dengungkan iqomat di telinga kirinya. Hikmah yang diharapkan dengan perlakuan ini adalah agar kalimat pertama yang didengar anak yaitu kalimat toyyibah, yakni kalimat yang mengagungkan asma Allah SWT, bahwa Allah SWT adalah Maha Besar, bahwa anak diingatkan terhadap persaksian pertamanya saat ia masih di dalam ruh ketika pertama kali diciptakan bahwa anak dituntun untuk bersyahadat.

Lantas bagaimanakah cara merawat yang baik menurut ajaran Islam dan tuntunan Rasulullah SAW?

“Untuk memiliki anak yang saleh atau saleha, bukanlah sesuatu yang mudah bagi kedua orang tua untuk mendapatkannya. Semua itu perlu perjuangan yang sangat ekstra luar biasa agar anak kita selalu di jalan yang lurus, karena apabila kita salah dalam mendidiknya, terlebih lagi kalau anak yang kita cintai terjatuh dalam pergaulan yang tidak diharapkan, itu akan menambah beban bagi orang tuanya, tapi sebenarnya Rasulullah SAW, telah mengajarkan kepada umatnya bagai mana cara mendidik anak, supaya anak dijauhkan dari godaan setan. Rasulullah SAW mengajarkan untuk mendidik anak dimulai semenjak suami menggauli istrinya dengan cara berdoa dulu kepada Allah SWT. Dan di bawah ini Rasulullah SAW mengajarkan bagai mana cara berdoa pasangan suami istri di saat akan melakukan hubungan intim,” terang Ustadzah Nurhasanah kepada Aktual.com, Senin (18/04), di Jakarta.

Rasulullah SAW bersabda, “Seandaianya salah seorang dia antara kalian sebelum menggauli istrinya berdoa.”
بِسْمِ اللهِ اَللَّهُمَّ جَنِّبْناَ الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَناَ

Artinya, “Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari anak yang Engkau anugerahkan kepada kami, lalu dari keduanya lahir anak, setan tidak akan dapat mengganggunya selamanya.”

“Anjuran berdoa sebelum berhubungan suami-istri menunjukkan bahwa permulaan yang kita lakukan dalam berketurunan bersifat rabbani, bukan syaithani. Apabila disebutkan nama Allah SWT pada permulaan senggama, berarti hubungan yang dilakukan oleh suami-istri tersebut berlandaskan ketakwaan kepada Allah SWT dan dengan izin Allah SWT anaknya nanti tidak akan diganggu setan,” katanya lagi.

Dan setelah sang anak terlahir ke dunia maka ada beberapa hal yang bisa kita lakukan yaitu,

1. Azan di Telinga Kanan Bayi Baru Lahir

Abu Rafi’ berkata, “Aku melihat Rasulullah SAW mengumandangkan azan di telinga Hasan bin Ali saat baru dilahirkan oleh Fatimah.”

Ibn Qayyim mengatakan, bahwa hikmah azan dan iqamah di telinga bayi yang baru lahir yaitu, agar suara pertama yang didegar adalah seruan yang mengandung makna keagungan Allah SWT serta syahadat.

2. Taknik

Tahnik adalah menyuapi bayi dengan kurma yang sudah dilumatkan. Dianjurkan untuk mentahnik bayi di hari kelahirannya. Dari Abu Musa Radliallahu ‘anhu, Beliau mengatakan, “Ketika anakku lahir, aku membawanya ke hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Nabi memberi nama bayiku Ibrahim dan mentahnik dengan kurma lalu mendoakannya dengan keberkahan.”(HR. Al Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Thalhah Radliallahu ‘anhu, ketika anaknya lahir, Anas bin Malik membawanya ke hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa beberapa kurma. Kemudian Nabi Muhammad SAW mengunyah kurma tersebut dan meletakkannya di mulut bayi.”(HR. Al Bukhari dan Muslim).

Adapun beberapa cara atau adab ketika mentahnik bayi di antaranya,

A. Hendaknya menggunakan kurma, jika tidak ada bisa menggunakan madu.

B. Kurma dikunyah kemudian diletakkan di langit-langit mulut bayi.

C. Yang mentahnik adalah orang yaang soleh di kampungnya.

D. Orang yang mentahnik bayi, hendaknya mendoakan keberkahan untuk bayi.

3. Menguburkan ari-ari

Tidak ada tata cara khusus ketika menguburkan ari-ari. Karena semua kebiasaan masyarakat ketika menguburkan ari-ari, semua berasal dari adat jawa. Tujuan ari-ari dikubur, agar tidak mengganggu orang lain.

4. Memberi Nama

Dibolehkan memberi nama bayi di hari lahir, dan baru diumumkan ketika aqiqah. Dari Abu Musa Radliallahu ‘anhu, ia mengatakan, “Ketika anakku lahir, aku membawanya ke hadapan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam. Lalu, Rasulullah SAW memberi nama bayiku Ibrahim, dan mentahnik dengan kurma, dan mendo’akannya dengan keberkahan.”(HR. Al Bukhari dan Muslim). Bersambung…….

()