Megel Jekson

Ditulis oleh: Megel Jekson
Forum Intelektual Bangka Belitung

Sejak dahulu, wajah Bangka Belitung adalah wajah nasionalis. Karena itu, tidaklah mengherankan bila hingga saat ini kekuasaan di Bangka Belitung selalu dipegang oleh kelompok nasionalis. Tanpa terkecuali kecenderungan tersebut juga terjadi di kabupaten Bangka Barat.

Meskipun demikian, di masa sekarang, agak gegabah bila langsung menyimpulkan koalisi nasionalis ini akan mudah memenangkan kompetisi kepala daerah. Sebab tiada yang bisa bersikap arogan memastikan kemenangan bisa semudah membalikkan telapak tangan.

Beberapa fakta berikut mungkin bisa membantu kita membayangkan seperti apa format ideal koalisi tersebut. Pertama, etnis dan suku penduduk Bangka Barat yang beragam. Meski didominasi Melayu, namun Bangka Barat juga diisi oleh suku Tionghoa, Jawa, Palembang, Bugis dan Arab (2011).

Kedua, statistik penduduk Bangka Barat yang mayoritas beragama Islam, dengan jumlah sebanyak 90,71 persen (2015). Sisanya sekitar 9,2 persen penduduk Bangka Barat beragama lain.

Ketiga, statistik kelompok muda (17-34 tahun) yang berjumlah sekitar 38.338 jiwa atau sebesar 36,62 persen (BPS 2018). Kelompok umur yang paling mampu bersikap rasional ini tentu akan mempertimbangkan calon Kepala Daerah yang paling menawarkan gagasan terbaik Bangka Barat. Tentu saja dengan ramuan yang paling sesuai dengan kondisi sosial-material Bangka Barat.

Dengan ketiga fakta tadi, rasanya sulit untuk memenangkan pilkada Bangka Barat tanpa memikirkan rumusan Koalisi Nasionalis-Islam. Sebab secara material, ketiga fakta statistik ini masih tampak berlaku. Suku dan etnis yang beragam, diikuti dengan mayoritas penduduk yang beragama Islam.

Meskipun demikian, pemetaan statistik ini tidak akan bermakna apa-apa bila elit politik Bangka Barat abai dan lebih cenderung mengedepankan ego pribadinya masing-masing (dengan memilih kandidat berdasarkan kedekatan hubungan, harta kekayaan dan sejumlah faktor yang bersifat pribadi lainnya). Manakala mereka mengedepankan agenda kepentingan pribadi, format koalisi politik ideal ini akan diketepikan sedemikian rupa.

Apalagi, sejauh ini belum ada satupun koalisi politik yang berupaya mewujudkan hal ini. Entah karena abai ataupun khilaf, formasi ideal ini belum menjadi prioritas bagi sebagian elit politik Bangka Barat. Padahal di tengah mulai rapuhnya solidaritas sosial berbangsa, format koalisi ini akan menjadi penyejuk dahaga dan sekaligus kunci kemenangan bagi siapapun.

(A. Hilmi)