20 April 2026
Beranda blog Halaman 111

Idul Fitri 1447 H, Prabowo Ajak Bersatu, Pilih Lebaran Bersama Rakyat di Sumatera

Presiden Indonesia, Prabowo Subianto. Aktual/BPMI-SETPRES

Presiden Prabowo Subianto membuka Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah dengan pesan yang sederhana namun tegas: kembali saling memaafkan dan menjaga persatuan. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi bangsa, ia mengajak masyarakat menjadikan Lebaran sebagai titik pulang—bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara sosial.

“Saya Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, atas nama pribadi, keluarga, dan atas nama pemerintah Republik Indonesia mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Mohon maaf lahir batin, minal aidin wal faidzin,” kata Prabowo disiarkan di Youtube Sekretariat Presiden, Jumat (20/3/2026).

Pesan itu tidak berhenti pada ucapan seremonial. Prabowo menekankan pentingnya menjaga kohesi di tengah situasi yang tidak selalu mudah.

“Mari kita manfaatkan momen Idul Fitri ini untuk saling memaafkan, mempererat silaturahmi, dan memperkuat persatuan sebagai satu bangsa di tengah berbagai tantangan yang kita hadapi,” sambungnya.

Ia juga mengaitkan momentum Lebaran dengan semangat membangun bangsa. Menurutnya, kebersamaan yang terjalin di hari raya seharusnya berlanjut dalam kerja nyata.

“Mari kita bekerja lebih keras, saling membantu dan bersama-sama membangun Indonesia yang lebih adil, lebih sejahtera, lebih kuat,” ujarnya.

“Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita sekalian dan senantiasa melimpahkan rahmat serta berkahnya kepada bangsa Indonesia,” imbuh Prabowo.

Di luar pesan kenegaraan, Prabowo juga membagikan sisi personal menjelang Lebaran. Melalui akun Instagram pribadinya, ia mengunggah momen kebersamaan bersama putranya, Didit Hediprasetyo, dan Titiek Soeharto. Foto itu memperlihatkan suasana santai di meja makan, lengkap dengan kehadiran kucing kesayangannya, Bobby Kertanegara.

“Alhamdulillah, 30 hari Ramadan telah kita lalui dengan penuh keimanan. Kini kita sambut hari kemenangan dengan hati yang bersih. Semoga kita diberi kesempatan untuk bertemu kembali dengan Ramadan di tahun mendatang. Selamat berkumpul bersama keluarga dan orang-orang tercint,” tulis Prabowo.

Prabowo Berlebaran di Sumatera Utara

Sementara itu, Prabowo memilih merayakan Idul Fitri tahun ini bersama masyarakat di luar Jakarta. Pada Jumat sore, ia bertolak menuju Medan, Sumatera Utara, untuk melanjutkan agenda kunjungan kerja sekaligus menyambut malam takbiran di daerah.

“Iya betul, Pak Presiden akan malam takbiran di Sumatra Utara dan Insyaallah akan Salat Idul Fitri di Aceh besok pagi,” ujar Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.

Pesawat yang membawa Presiden dan rombongan lepas landas dari Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma sekitar pukul 15.00 WIB, dengan tujuan Pangkalan TNI AU Soewondo di Medan.

Dari sana, perjalanan berlanjut ke Aceh. Prabowo dijadwalkan menunaikan salat Idul Fitri di Kabupaten Aceh Tamiang, sekaligus melakukan halalbihalal dengan warga setempat.

 

Artikel ini ditulis oleh:

Andry Haryanto

Kesabaran Teluk Menipis, Saudi Kirim Sinyal Keras ke Iran

Riyadh – Ketegangan di kawasan Teluk kian mendekati titik rawan. Di tengah rangkaian serangan yang menyasar fasilitas energi dan wilayah strategis, Arab Saudi mulai mengirimkan pesan yang lebih tegas kepada Teheran: kesabaran tidak akan berlangsung selamanya.

Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud, secara terbuka memperingatkan Iran agar menghentikan pola serangan yang dinilai terencana dan sistematis. Dalam konferensi pers di Riyadh, ia menegaskan bahwa negara-negara Teluk tidak hanya menjadi sasaran, tetapi juga memiliki kapasitas untuk merespons.

“Tingkat akurasi dalam beberapa penargetan ini. Anda dapat melihatnya di negara-negara tetangga kita maupun di kerajaan ini, menunjukkan bahwa ini adalah sesuatu yang direncanakan, dipersiapkan, diorganisir, dan dipikirkan dengan matang,” kata Pangeran Faisal.

Pernyataan itu muncul setelah gelombang serangan yang mengguncang infrastruktur energi di kawasan. Fasilitas gas Ras Laffan di Qatar yang menyumbang sekitar 20 persen pasokan LNG dunia, dilaporkan mengalami kerusakan signifikan. Di Uni Emirat Arab, fasilitas gas Habshan juga terdampak, memaksa penghentian sementara operasional.

Qatar bereaksi keras. Kementerian Luar Negeri negara itu menyampaikan “kecaman dan penolakan keras terhadap serangan terang-terangan Iran yang menargetkan Kota Industri Ras Laffan”. Sementara di Saudi, sistem pertahanan udara disebut berhasil mencegat sejumlah rudal yang mengarah ke Riyadh dan wilayah timur.

Di sisi lain, Uni Emirat Arab melaporkan keberhasilan menangani 13 rudal balistik dan 27 drone, meski puing-puing hasil pencegatan tetap menimbulkan gangguan di lapangan.

Pangeran Faisal tidak menutup kemungkinan langkah lebih jauh. Ia menegaskan bahwa opsi respons, termasuk tindakan militer, berada dalam spektrum keputusan yang bisa diambil jika situasi terus memburuk.

“Saya tidak akan menjabarkan apa yang akan dan tidak akan memicu tindakan defensif oleh Kerajaan [Arab Saudi] karena saya pikir itu bukan pendekatan yang bijaksana untuk memberi sinyal kepada Iran,” lanjut menteri luar negeri tersebut.

“Namun saya pikir penting bagi Iran untuk memahami bahwa kerajaan, tetapi juga para mitranya yang telah diserang dan pihak-pihak lain, memiliki kapasitas dan kemampuan yang sangat signifikan yang dapat mereka kerahkan jika mereka memilih untuk melakukannya,” katanya.

Peringatan itu semakin tajam ketika ia menyinggung batas toleransi yang mulai menipis. “Kesabaran yang ditunjukkan bukanlah tanpa batas. Apakah mereka [orang Iran] punya waktu satu hari, dua hari, atau seminggu? Saya tidak akan mengumumkannya melalui telegraf,” tambahnya.

Di balik pernyataan tersebut, tersirat kekhawatiran yang lebih dalam. Saudi menilai serangan-serangan ini bukan respons spontan, melainkan bagian dari strategi jangka panjang Iran untuk menekan kawasan dan komunitas internasional.

“Kita tahu pasti bahwa Iran telah membangun strategi ini selama dekade terakhir dan bahkan lebih,” kata Pangeran Faisal.

“Ini bukanlah reaksi terhadap situasi yang berkembang di mana Iran berimprovisasi. Ini telah direncanakan dalam perencanaan perang mereka yang menargetkan negara-negara tetangga dan menggunakan hal itu untuk mencoba menekan komunitas internasional,” katanya.

Konsekuensinya tidak hanya bersifat militer, tetapi juga diplomatik. Kepercayaan yang selama ini coba dibangun disebut telah runtuh.

“Jadi, ketika perang ini akhirnya berakhir, agar kepercayaan dapat dibangun kembali, itu akan membutuhkan waktu yang lama. Dan harus saya katakan, jika Iran tidak berhenti… segera, saya pikir hampir tidak ada yang dapat membangun kembali kepercayaan itu,” tambahnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Andry Haryanto

Lebaran Tanpa Al-Aqsa: Saat Zionis Bengis Israel Mengunci Ibadah di Tanah Suci

Masjid Al-Aqsa di Yerusalem, Palestina. (ANTARA/Xinhua)

Yerusalem — Jumat (20/3/2026) pagi, Idul Fitri di Yerusalem Timur tahun ini tidak diwarnai gelombang jamaah yang biasanya memadati kompleks Masjid Al-Aqsa. Gerbang-gerbang kota tua justru dijaga ketat, akses dibatasi, dan suasana yang lazimnya penuh takbir berubah menjadi lengang dan tegang.

Otoritas Israel melarang pelaksanaan salat Id di Al-Aqsa dengan alasan keamanan, seiring meningkatnya konflik dengan Iran. Pembatasan itu bukan hanya menutup tempat ibadah, tetapi juga membatasi ruang publik. Para pedagang diminta menutup toko, aktivitas warga dipersempit, dan Kota Tua nyaris seperti kota yang berhenti bernapas.

Namun, larangan itu tidak sepenuhnya menghentikan langkah warga Palestina. Sejak fajar, ratusan orang tetap datang mendekati Al-Aqsa, membawa sajadah di bawah lengan, mencari celah untuk tetap menunaikan salat meski hanya di jalanan.

“Hari ini, Al-Aqsa telah direbut dari kita. Ini adalah Ramadan yang menyedihkan dan menyakitkan,” kata Wajdi Mohammed Shweiki, seorang pria Palestina berambut perak berusia 60-an, kepada AFP.

“Ini adalah situasi yang sangat buruk bagi penduduk Yerusalem, bagi warga Palestina pada umumnya, dan bagi seluruh umat Muslim di seluruh dunia.”

Kerumunan sempat mencoba mendekati gerbang kota. Takbir menggema, sebagian melantunkan syahadat. Namun aparat kepolisian zionis mendorong mereka mundur, bahkan menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa yang dianggap melampaui batas yang diizinkan.

Polisi sempat melonggarkan barikade. Di sela ruang yang sempit itu, para jamaah memanfaatkan kesempatan. Mereka membentangkan sajadah di aspal, menunaikan salat Id di dekat Gerbang Herodes. Seorang imam berdiri di atas bangku plastik, menyampaikan khutbah singkat di tengah tekanan situasi.

“Berdoalah, mohonlah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan berharaplah agar doa-doa kalian dikabulkan,” katanya kepada para jamaah. “Ya Tuhan, berikanlah kemenangan kepada orang-orang yang tertindas.”

Momen itu berlangsung singkat. Setelahnya, aparat kembali membubarkan kerumunan. Jamaah perlahan meninggalkan lokasi, menyusuri gang sempit Kota Tua. Sebagian berhenti membeli roti hangat di kios kecil. Sebuah ritual sederhana yang tersisa di tengah hari raya yang tak utuh.

Jumlah jamaah yang hadir hanya ratusan orang. Angka yang jauh dari biasanya, ketika Idul Fitri di Yerusalem bisa menghadirkan puluhan ribu hingga sekitar 100.000 orang di Al-Aqsa.

Penutupan ini disebut sebagai yang terpanjang dalam periode Ramadan hingga Idul Fitri sejak Israel mencaplok Yerusalem Timur pada 1967. Tak hanya Al-Aqsa, akses ke situs suci lain seperti Gereja Makam Suci dan Tembok Barat juga dibatasi.

Di balik alasan keamanan, muncul kekhawatiran lain. Sejumlah warga Palestina menilai pembatasan ini bukan sekadar langkah darurat, melainkan bagian dari perubahan perlahan atas status akses ke situs-situs suci.

“Pihak penjajah, dengan dalih keamanan dan untuk kepentingan mereka sendiri, telah menutup masjid,” kata ulama Ayman Abu Najm.

“Dalam sejarah pendudukan, ini adalah periode terpanjang di mana Masjid Al-Aqsa ditutup.”

Di sisi lain, tekanan ekonomi juga terasa. Pedagang yang biasanya mengandalkan momen Lebaran untuk meraup keuntungan justru kehilangan penghasilan. Pembatasan aktivitas membuat roda ekonomi di kawasan itu ikut tersendat.

Bagi sebagian warga, kehilangan akses ke Al-Aqsa bukan sekadar soal tempat ibadah. Ada dimensi personal yang terasa hilang.

“Ramadan tanpa Masjid Al-Aqsa adalah perasaan yang sangat menyedihkan, perasaan seperti patah hati,” kata seorang jamaah, Zeyad Mona.

 

Artikel ini ditulis oleh:

Andry Haryanto

Mudik 2026 Pecah Rekor, 270 Ribu Kendaraan Padati Jalan, Polisi Ubah Strategi

Pelabuhan Penajam
Kendaraan pemudik saat keluar dari kapal di Pelabuhan Penajam. DOK/NET

BEKASI — Arus mudik Lebaran 2026 mencatat lonjakan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kepadatan kendaraan mencapai puncaknya pada 18 Maret, dengan jumlah menembus lebih dari 270 ribu kendaraan dalam satu hari.

Kepala Korps Lalu Lintas Polri Irjen Pol. Agus Suryonugroho menyebut angka tersebut sebagai rekor baru dalam pergerakan mudik nasional. Lonjakan ini membuat aparat harus mengubah pola penanganan di lapangan.

“Seperti apa yang disampaikan oleh Pak Dirut Jasa Marga adalah puncak arus mudik tertinggi sepanjang sejarah kurang lebih 270.315 (kendaraan),” kata Agus di Gedung JMTC Jasa Marga, Bekasi, Jumat.

Menghadapi tekanan volume kendaraan yang meningkat, Korlantas tidak lagi sepenuhnya mengandalkan pola lama. Sejumlah rekayasa lalu lintas diterapkan secara lebih fleksibel, termasuk menutup sementara Jalan Layang Tol Mohammed bin Zayed (MBZ) untuk mencegah penumpukan serta menerapkan contraflow bertahap di titik-titik krusial.

Langkah ini diambil untuk menjaga aliran kendaraan tetap bergerak, terutama di jalur utama mudik dari KM 70 Tol Jakarta-Cikampek hingga KM 414 Kalikangkung, Semarang.

“Oleh sebab itu, puncak arus yang cukup tinggi bisa kita kelola dengan baik, sehingga pada saat meninggalkan KM 70 (Tol Jakarta-Cikampek) sampai KM 414 (Kalikangkung, Semarang) ini lancar,” ucapnya.

Di tengah tingginya mobilitas, angka kecelakaan justru menunjukkan tren penurunan. Data Korlantas mencatat jumlah kecelakaan turun sekitar 3 persen, sementara fatalitas korban menurun signifikan hingga 24,67 persen dibandingkan periode mudik tahun lalu.

“Ini tentunya akan kita pertahankan agar ke depan kita bisa mengelola berkaitan dengan keselamatan,” katanya.

Setelah puncak arus mudik terlewati, perhatian kini bergeser ke fase berikutnya. Kepolisian mulai menyiapkan pengamanan arus balik sekaligus mengantisipasi lonjakan pengunjung di sejumlah destinasi wisata selama libur Lebaran.

Artikel ini ditulis oleh:

Andry Haryanto

Iran Balas Serangan, Yerusalem hingga Pangkalan AS di UEA Jadi Sasaran

Rudal balistik darat ke darat dengan jangkauan 2.000 km bernama Khaibar dipamerkan di Tehran, Iran, Kamis (25/3/2023). /ANTARA FOTO/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS/foc.
Rudal balistik darat ke darat dengan jangkauan 2.000 km bernama Khaibar dipamerkan di Tehran, Iran, Kamis (25/3/2023). /ANTARA FOTO/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS/foc.

TEHERAN — Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali meningkat. Militer Iran meluncurkan serangan ke sejumlah titik strategis, termasuk Yerusalem Barat, Haifa, dan pangkalan udara militer Amerika Serikat Al Dhafra di Uni Emirat Arab, pada Jumat.

Serangan ini diumumkan langsung oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sebagai bagian dari operasi lanjutan yang mereka sebut Operasi Janji Sejati 4. Tahapan terbaru ini disebut sebagai fase ke-66, menandakan intensitas serangan yang terus berlanjut dalam beberapa waktu terakhir.

“Selama fase ke-66 Operasi Janji Sejati 4, target di Yerusalem Barat, Haifa, dan pangkalan AS Al Dhafra di wilayah tersebut berhasil dihantam,” kata IRGC dalam sebuah pernyataan yang dikutip oleh kantor berita Iran YJC.

Dalam operasi tersebut, Iran menggunakan kombinasi rudal balistik dan drone. IRGC menyebut jenis rudal yang dikerahkan di antaranya Kheibar Shekan, Zolfaghar, dan Qadr persenjataan yang selama ini menjadi bagian dari kekuatan utama arsenal militer Iran.

Serangan ini bukan tanpa konteks. Iran menyatakan langkah tersebut sebagai respons atas operasi militer gabungan yang lebih dulu dilancarkan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari. Konflik yang awalnya diklaim sebagai tindakan pencegahan, kini berkembang menjadi konfrontasi terbuka yang melibatkan serangan lintas wilayah.

Hari pertama operasi militer itu meninggalkan dampak besar di Iran. Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan gugur, sementara sebuah sekolah perempuan di Iran selatan hancur. Pemerintah Iran memperkirakan korban tewas telah melampaui 1.300 orang.

Di sisi lain, narasi dari Amerika Serikat dan Israel juga mengalami pergeseran. Jika pada awalnya serangan disebut sebagai langkah untuk menahan ancaman dari program nuklir Iran, pernyataan berikutnya mengarah pada tujuan yang lebih luas, yaitu perubahan kekuasaan di Teheran.

Situasi ini menempatkan kawasan Timur Tengah dalam tekanan baru. Serangan yang kini saling berbalas tidak lagi terbatas pada satu wilayah, tetapi mulai menyentuh berbagai titik strategis dari pusat kota hingga instalasi militer internasional.

Artikel ini ditulis oleh:

Andry Haryanto

Prabowo: Pasukan ke Gaza Bukan untuk Lawan Hamas, Fokus Lindungi Warga

Presiden Prabowo Subianto (kanan) didampingi Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin (kiri) dan Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto (kedua kanan) melaksanakan inspeksi pasukan pada Upacara HUT ke-80 TNI di kawasan Silang Monas, Jakarta, Minggu (5/10/2025). Aktual/TIM MEDIA PRABOWO SUBIANTO

Presiden Prabowo Subianto meluruskan spekulasi soal rencana pengiriman pasukan Indonesia ke Gaza, Palestina. Ia menegaskan, misi tersebut bukan untuk melucuti senjata Hamas atau terlibat dalam operasi militer, melainkan berfokus pada perlindungan warga sipil di tengah konflik.

Penjelasan itu disampaikan Prabowo dalam forum diskusi terbuka Presiden Prabowo Menjawab yang digelar di kediamannya di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Dalam forum yang juga dihadiri pakar dan jurnalis senior tersebut, Prabowo menggarisbawahi posisi Indonesia yang sejak awal konsisten membela kemerdekaan Palestina.

“Saya menjalankan perjuangan bangsa Indonesia dari dulu. Kita selalu membela kemerdekaan Palestina. Saya selalu katakan, dalam pembicaraan saya dengan tokoh-tokoh barat, kita akan ikut (Board of Peace/BoP) dan kita siap kirim pasukan perdamaian, asal saya bilang semua pihak setuju keterlibatan Indonesia,” kata Prabowo dikutip dari siaran pers pada Jumat (20/3/2026).

Namun, rencana tersebut tidak berdiri sendiri. Prabowo menyebut ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi sebelum pasukan dikirim. Persetujuan dari tokoh Palestina menjadi kunci, disusul dukungan negara-negara mayoritas muslim seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Yordania, Turki, Pakistan, Qatar, dan Mesir.

Selain itu, Indonesia juga menempatkan satu syarat penting: penerimaan dari Hamas sebagai pihak yang secara de facto menguasai wilayah Gaza.

“Dan, saya juga mengatakan, de facto, Hamas harus menerima kita. Itu saya sampaikan. Karena we want to be a peacekeeping force,” tegas Prabowo.

Dalam skema Board of Peace (BoP), setiap negara diberi ruang menentukan batas keterlibatan melalui konsep national caveats. Indonesia, menurut Prabowo, mengambil posisi yang tegas—ikut dalam misi perdamaian, tetapi tanpa terlibat dalam konflik bersenjata.

“National caveats. Kita tegas, kita tidak mau terlibat dalam aksi militer terhadap Hamas,” ujarnya.

Ia juga menegaskan Indonesia tidak akan terlibat dalam upaya pelucutan senjata.

“Kedua, kita tidak mau terlibat dalam mengambil senjata, deweaponization, dari Hamas. Kita tidak mau ikut. Yang kita mau adalah menjaga rakyat sipil dari serangan mana pun,” tutur Prabowo.

Meski demikian, situasi geopolitik terbaru membuat rencana tersebut harus ditunda. Eskalasi konflik antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat memaksa Indonesia melakukan peninjauan ulang.

“Itu komitmen kita. Setelah terjadi perang begini, kita konsultasi, tapi de facto-nya adalah everything on hold. Ya, saya sudah umumkan,” jelas dia.

Sebelumnya, Indonesia menyiapkan hingga 8.000 personel TNI untuk bergabung dalam misi International Stabilization Force (ISF) di Gaza. Namun hingga kini, pengiriman pasukan masih menunggu mandat resmi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa serta kondisi keamanan yang memungkinkan.

Di tengah dinamika konflik yang terus bergerak, posisi Indonesia terlihat jelas: hadir sebagai penengah kemanusiaan, bukan bagian dari pertarungan bersenjata.

Artikel ini ditulis oleh:

Andry Haryanto

Berita Lain