3 Januari 2026
Beranda blog Halaman 159

Kemenkeu Rencana Lakukan Tabayyun dengan MUI Soal Pajak

Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Bimo Wijayanto (tengah) menyampaikan pemaparan dalam Media Gathering Direktorat Jenderal Pajak (DJP) 2025 di Denpasar, Bali, Selasa (25/11/2025). DJP Kemenkeu berencana untuk melakukan tabayyun dengan Majelis Ulama Indonesia untuk menyamakan persepsi terkait kesesuaian regulasi perpajakan dengan prinsip keadilan. ANTARA/Uyu Septiyati Liman.
Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Bimo Wijayanto (tengah) menyampaikan pemaparan dalam Media Gathering Direktorat Jenderal Pajak (DJP) 2025 di Denpasar, Bali, Selasa (25/11/2025). DJP Kemenkeu berencana untuk melakukan tabayyun dengan Majelis Ulama Indonesia untuk menyamakan persepsi terkait kesesuaian regulasi perpajakan dengan prinsip keadilan. ANTARA/Uyu Septiyati Liman.

Denpasar, aktual.com – Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) berencana melakukan tabayyun (klarifikasi) dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) agar dapat menyamakan persepsi terkait kesesuaian regulasi perpajakan dengan prinsip keadilan.

Direktur Jenderal Pajak Kemenkeu Bimo Wijayanto menyatakan sebelumnya pihaknya telah menyelenggarakan pertemuan pendahuluan dan Focus Group Discussion (FGD) bersama Komisi Fatwa MUI pada September lalu.

“Pada prinsipnya, teman-teman anggota Komisi Fatwa MUI memahami terjemahan dari undang-undang yang kami jelaskan. Mereka lebih ke arah bagaimana umat Islam ini bisa lebih memahami konteks dari sisi kesepakatan para ulama. Nah, setelah ini kami juga akan tabayyun,” ujar Bimo Wijayanto di Denpasar, Bali, Selasa (26/11).

Ia menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen untuk menghindari timbulnya polemik atau perbedaan pendapat yang tidak perlu di tengah masyarakat mengenai penyelenggaraan pajak.

Ia menjelaskan, poin krusial yang disoroti dalam prinsip keadilan pajak tersebut adalah prinsip ‘daya pikul’ atau kemampuan membayar dari wajib pajak.

Bimo memastikan bahwa sistem perpajakan nasional telah merangkul prinsip berkeadilan, yang mana tidak ada pembebanan pajak kepada pihak yang tidak mampu.

Ia pun memaparkan instrumen perlindungan bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang telah tertuang dalam undang-undang.

“Ini kan sudah ada konsep Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). Kemudian untuk UMKM juga sudah ada threshold (ambang batas), di bawah (omzet) Rp500 juta tidak kena pajak, sedangkan Rp500 juta hingga Rp4,8 miliar bisa memanfaatkan pajak final,” ucapnya.

Selain pajak terhadap UMKM, isu mengenai Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sektor Perdesaan dan Perkotaan (P2) terhadap aset lembaga keagamaan, seperti pesantren dan sekolah, juga menjadi sorotan.

Bimo mengklarifikasi bahwa kewenangan pemungutan PBB-P2 saat ini telah beralih dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah (pemda).

Meskipun demikian, ia mengatakan bahwa secara aturan, aset yang digunakan untuk kepentingan sosial, pendidikan, kesehatan, serta keagamaan yang bersifat non-komersial maupun non-profit, diberikan pengecualian, diskon, atau tarif khusus.

“Sepemahaman kami ada fasilitas (khusus), (berupa) ada diskon, ada potongan (nilai PBB-P2 yang harus dibayar). Jadi itu pun sudah ada pertimbangan,” katanya.

Lebih lanjut, Bimo menyatakan penerapan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) juga dipastikan tetap menjunjung asas keadilan dengan mengecualikan barang kebutuhan pokok yang menjadi hajat hidup orang banyak.

Pihaknya optimistis, dengan penjelasan yang komprehensif dan dialog yang terbuka, perbedaan pendapat mengenai beban pajak dapat diselesaikan.

“Daya pikul itu menjadi asas. Seharusnya bagi kami sih tidak ada polemik (perbedaan pendapat mengenai pengenaan pajak),” imbuh Bimo.

Ketua Bidang Fatwa MUI Asrorun Niam Sholeh dalam Munas XI MUI, di Jakarta, Minggu (23/11), mengatakan objek pajak dikenakan hanya kepada harta yang dapat digunakan untuk produktivitas dan/atau merupakan kebutuhan sekunder dan tersier.

“Jadi pungutan pajak terhadap sesuatu yang jadi kebutuhan pokok, seperti sembako dan rumah serta bumi yang kita huni, itu tidak mencerminkan keadilan serta tujuan pajak,” ujarnya lagi.

Hal itu, katanya pula, karena pada hakikatnya, pajak hanya dikenakan kepada warga negara yang memiliki kemampuan secara finansial.

“Kalau analog dengan kewajiban zakat, kemampuan finansial itu secara syariat minimal setara dengan nisab zakat mal yaitu 85 gram emas. Ini bisa jadi batas PTKP,” kata dia pula.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

KAI Kasih Diskon 30% untuk Kelas Ekonomi Selama Libur Natal dan Tahun Baru

Jakarta, Aktual.com – Untuk melayani penumpang selama libur Natal dan Tahun Baru, PT Kereta Api Indonesia (Persero) memberikan diskon 30% untuk perjalanan 156 KA reguler dan 26 KA kelas ekonomi. Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, menyatakan bahwa diskon ini bertujuan meningkatkan aksesibilitas transportasi kereta api bagi masyarakat, dengan total kuota mencapai 1.509.080 pelanggan.

Bobby menjelaskan bahwa kebijakan diskon tersebut merupakan bagian dari upaya KAI dalam memfasilitasi mobilitas masyarakat yang bepergian selama liburan panjang.

“Kami ingin memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk merayakan liburan dengan keluarga, sekaligus membantu menggerakkan perekonomian lokal dengan tarif yang lebih terjangkau,” ujarnya saat ditemui di Stasiun Gambir, Selasa (25/11/2025).

Untuk menghadapi lonjakan permintaan, KAI telah menyiapkan kapasitas angkut sebesar 49.635.448 tempat duduk, atau meningkat 8,9% dibandingkan tahun sebelumnya.

“Kami menambah 54 perjalanan KA antarkota per hari sebagai langkah antisipasi untuk memenuhi kebutuhan perjalanan masyarakat selama masa libur,” lanjut Bobby.

Selain itu, KAI juga kembali menyelenggarakan program angkutan motor gratis (Motis) dengan kapasitas 5.568 unit motor dan 12.720 penumpang, bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan. Program ini berlangsung pada 23–30 Desember 2025 dan 2–5 Januari 2026, dengan pendaftaran dibuka mulai 1 Desember 2025 di 14 stasiun yang telah ditentukan.

“Lokasinya ada di 14 stasiun: Jakarta Gudang, Tangerang, Bekasi, Depok Baru, Cirebon, Rujakan, Tegal, dan Pekalongan. Lalu Semarang Tawang, Purwokerto, Kebumen, Kutoarjo, Lempuyangan, dan Purwosari,” jelasnya.

Untuk memastikan kelancaran operasional, KAI juga melakukan penguatan teknis dan operasional secara menyeluruh. Bobby menambahkan bahwa KAI telah menyiapkan 2.483 petugas tambahan serta mengerahkan 19 lokomotif dan 3 crane di lokasi strategis untuk mengantisipasi gangguan.

Ia pun mencatat bahwa minat masyarakat terhadap perjalanan kereta api terus meningkat, yang terlihat dari terjualnya 595.798 tiket hingga 25 November 2025.

“Kami mengimbau masyarakat untuk merencanakan perjalanan lebih awal dan memanfaatkan aplikasi Access by KAI untuk memantau ketersediaan tiket secara real time,” tutur Bobby.

(Nur Aida Nasution)

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi

BMKG Prakirakan Wilayah Jakarta Berawan pada Siang Hari

Langit Jakarta berawan

Jakarta, aktual.com – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan sebagian wilayah DKI Jakarta berawan pada Rabu (26/11) siang.

Dikutip dari akun Instagram resmi BMKG @infobmkg di Jakarta, Rabu (26/11), cuaca berawan itu terjadi di Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Utara, dan Kepulauan Seribu pada siang hari.

Sementara di Jakarta Timur, kondisi cuaca diperkirakan berawan tebal dan Jakarta Barat cerah berawan pada siang hari.

Selanjutnya, hujan ringan diprediksi turun pada sore hari di Jakarta Timur dan Jakarta Selatan. Sementara Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Utara, dan Kepulauan Seribu diselimuti awan tebal.

Pada malam hari, seluruh wilayah Jakarta diprediksi berselimut awan tebal.

Sebelumnya, pada Rabu pagi, kondisi cuaca di Jakarta juga diselimuti awan tebal pada pukul 07.00 WIB. Kemudian pada pukul 10.00 WIB diperkirakan cerah berawan di Kepulauan Seribu dan Jakarta Barat. Sedangkan Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, dan Jakarta Utara tetap diselimuti awan.

Suhu di Jakarta diperkirakan berkisar antara 23 hingga 33 derajat Celcius. BMKG juga memprediksi kecepatan angin berkisar 1 hingga 26 kilometer per jam di daerah setempat.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Fenomena Warga Pilih Lapor Damkar, DPR: Polri Harus Berbenah

Jakarta, Aktual.com — Anggota Komisi III DPR RI, Abdullah, menyoroti fenomena masyarakat yang belakangan ini lebih memilih menghubungi petugas pemadam kebakaran (Damkar) dibandingkan melapor kepada kepolisian saat menghadapi berbagai persoalan.

“Ketika masyarakat merasa laporannya diabaikan atau prosesnya berbelit, mereka akan mencari institusi lain yang dianggap lebih responsif. Fakta bahwa Damkar menjadi pilihan pertama untuk berbagai masalah yang sebenarnya berada dalam ranah kepolisian menunjukkan ada yang tidak beres dan perlu dibenahi,” tegas Abdullah, Selasa (25/11/2025).

Abdullah menegaskan, kondisi ini merupakan alarm penting yang harus dijadikan evaluasi menyeluruh bagi Polri. Anggota Fraksi PKB itu mendesak agar kepolisian terus berbenah.

Ia mengingatkan bahwa kepercayaan publik tidak akan menurun tanpa sebab. Salah satu faktor utama, menurutnya, adalah banyaknya laporan masyarakat yang tidak ditindaklanjuti secara cepat dan tuntas oleh aparat kepolisian.

“Masyarakat akhirnya enggan melapor ke polisi. Mereka lebih memilih menghubungi Damkar karena merasa penanganannya lebih cepat. Ini harus menjadi bahan introspeksi bagi Polri,” lanjutnya.

Atas dasar itu, ia mendorong Polri untuk melakukan pembenahan, mulai dari perbaikan sistem pelayanan publik, peningkatan respons terhadap laporan masyarakat, hingga penguatan integritas aparat di lapangan. Menurutnya, pemulihan kepercayaan publik hanya dapat dilakukan melalui tindakan nyata dan perbaikan berkelanjutan.

“Saya mendorong Polri untuk melakukan pembenahan struktural maupun kultural. Kepercayaan publik adalah modal utama bagi institusi penegak hukum. Ini bukan sekadar kritik, tetapi ajakan untuk memperbaiki diri demi pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat.”

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi

Mendes Yandri: Program Prioritas Presiden Kini Fokus Memperkuat Desa

Jakarta, Aktual.com – Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Yandri Susanto menegaskan bahwa berbagai program prioritas Presiden Prabowo Subianto kini semakin diarahkan ke wilayah pedesaan. Ia menyebut desa sebagai pusat percepatan pembangunan nasional.

“Ini bagian dari kolaborasi BNBES untuk memastikan semua program Bapak Presiden Prabowo, yang sekarang banyak masuk desa,” ujarnya dalam kegiatan pelantikan Abdesi Merah Putih, Selasa (25/11).

Yandri menyampaikan bahwa sejumlah kementerian seperti Kementerian Pertanian, KKP, dan Kementerian Sosial kini terlibat memperkuat pembangunan desa.

Ia menjelaskan, bahwa Abdesi Merah Putih diharapkan menjadi pelatih utama dalam menjalankan berbagai program lintas kementerian. Menurutnya, setelah pelantikan, para pengurus harus bekerja maksimal untuk mengangkat potensi desa dan menghadirkan hasil nyata di lapangan.

Yandri menilai pembangunan nasional harus dimulai dari desa sebagai fondasi penurunan kemiskinan dan penggerak ekonomi. Ia menekankan pentingnya peran perangkat desa dalam mendukung seluruh kebijakan pemerintah pusat.

“Desa itu fondasi. Organisasi ini harus bekerja di seluruh desa agar persoalan desa cepat selesai,” ujarnya.

Yandri menyampaikan bahwa pemerintah menunggu terbitnya peraturan Menteri Keuangan yang dijadwalkan keluar akhir November sebelum menetapkan Permendes mengenai prioritas penggunaan dana desa dan pembangunan Koperasi Desa Merah Putih.

“Secara detail, Pak Menkeu (Purbaya Yudhi Sadewa) janji akhir November ini akan keluar,” ungkapnya.

Terkait tata kelola dana desa, Yandri memaparkan perkembangan sistem digitalisasi pelaporan melalui Jaksa Jagadesa. “Di Jakarta ada Jaksa Jagadesa, sistem digitalisasi untuk laporan dana desa, termasuk jika ada persoalan,” katanya. Ia menegaskan bahwa sebagian besar masalah dana desa merupakan warisan periode sebelumnya. “Periode lalu banyak persoalan, itu yang mau kita selesaikan. Kalau sekarang sudah mulai bagus,” tambahnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi

Zulhas Dorong Desa Jadi Motor Ekonomi Nasional dan  Tekankan Kemandirian Pangan 

Jakarta, Aktual.com – Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menegaskan bahwa desa harus menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru sekaligus fondasi utama kemandirian pangan nasional. Ia menilai kebijakan pangan tidak boleh lagi bergantung pada perusahaan besar maupun impor, karena hal itu membuat desa kehilangan nilai tambah ekonominya.

“Jawabannya harus berawal dari desa,” tegas Zulkifli Hasan dalam Pelantikan Pengurus DPP APDESI Merah Putih periode 2025–2030 di Jakarta, Selasa (25/11/2025).

“Desa itu penggerak utama untuk membangun, mengawasi, dan membuka kesempatan kerja bagi masyarakat.”

Zulkifli menyebut konsumsi produk multinasional, termasuk makanan cepat saji, masih membuat arus ekonomi global lebih diuntungkan dibandingkan ekonomi rakyat. Karena itu, pemerintah mendorong desa memperkuat produksi dan konsumsi pangan lokal sebagai strategi mengalihkan perputaran uang kembali ke ekonomi desa.

Ia menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) akan menjadi pendorong utama rantai nilai baru di desa, dengan target produksi lebih dari 82 juta porsi pangan per hari. Suplai kebutuhan program tersebut, kata Zulhas, akan digerakkan oleh Kopdes Merah Putih, UMKM, dan BUMDes.

“Ekonomi desa harus tumbuh dari ekosistem pangan yang terintegrasi,” ujar Ketua Umum PAN ini.

Dari sisi politik kebijakan, Zulkifli menekankan bahwa arah pembangunan pangan yang menitikberatkan pada desa merupakan arahan langsung Presiden Prabowo Subianto. Pemerintah, lanjutnya, menyiapkan model closed loop economy untuk memastikan desa mendapatkan porsi manfaat terbesar dari rantai pasok pangan nasional.

Dalam paparannya, Zulkifli membeberkan capaian produksi beras nasional tahun 2025 yang mencapai 34,7 juta ton—naik 13,47 persen dan tanpa impor beras sepanjang tahun ini. Produksi jagung juga meningkat 9,34 persen menjadi 16,55 juta ton. Ia menilai kenaikan harga gabah menjadi Rp6.500 per kilogram menunjukkan keberpihakan pemerintah terhadap petani, disertai meningkatnya Nilai Tukar Petani (NTP) dari 116 menjadi 124.

Namun, ia mengakui pemulihan ekonomi nelayan dan peternak masih belum optimal, sehingga pemenuhan protein nasional masih menjadi tantangan. Pemerintah menyiapkan pembangunan 2.000 kampung nelayan, tambak ikan per kabupaten, serta distribusi pakan dan ayam GPS berharga terjangkau di 20 provinsi.

Zulkifli juga mengingatkan bahwa seluruh program ekonomi desa membutuhkan pengawasan ketat untuk mencegah moral hazard. “Integritas itu wajib. Program pangan dan gizi tidak akan berhasil kalau di lapangan masih ada penyimpangan,” katanya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi

Berita Lain