14 April 2026
Beranda blog Halaman 162

NKRI: Apakah “Negara Katering Republik Indonesia”?

Ketua Umum Ikatan Wajib Pajak Indonesia (IWPI) Rinto Setiyawan. FOTO: Ist

Oleh: Rinto Setiyawan , A.Md., S.H., CTP
Ketua Umum Ikatan Wajib Pajak Indonesia, Anggota Majelis Tinggi Partai X, Wakil Direktur Sekolah Negarawan

Jakarta, aktual.com – Pembukaan UUD 1945 alinea keempat tidak memberi ruang tafsir yang kabur tentang tujuan negara. Rumusannya tegas sebagai mandat konstitusional yaitu melindungi segenap bangsa, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia. Di titik ini, frasa “memajukan kesejahteraan umum” bukan sekadar slogan kebijakan, melainkan kompas moral dan arah peradaban.
Kesejahteraan dalam pengertian konstitusional bukanlah “bantuan sesaat”.

Ia adalah penciptaan kondisi ekonomi dan sosial agar warga mampu memenuhi kebutuhan hidup secara bermartabat. Dengan kata lain, kesejahteraan adalah pembangunan kapasitas, bukan sekadar distribusi. Negara yang benar-benar mengejar kesejahteraan tidak cukup sibuk membagi, tetapi harus memastikan rakyat sanggup berdiri.

Jika kita bicara kesejahteraan sebagai kondisi yang bermartabat, unit paling konkret yang merasakan dan membuktikannya adalah keluarga. Keluarga yang dipimpin seorang ayah sebagai kepala keluarga, dengan tanggung jawab moral menanggung anggota keluarganya, hanya dapat disebut “sejahtera” jika sang ayah, bersama ibu sebagai partner pengasuhan dan penopang keluarga, memiliki daya ekonomi yang cukup untuk memastikan sandang, pangan, dan papan terpenuhi bagi anak-anak dan seluruh anggota keluarga.

Dalam logika yang sama, negara yang ingin memajukan kesejahteraan umum seharusnya mengajukan pertanyaan paling mendasar yaitu siapa yang harus diperkuat terlebih dahulu? Jawabannya jelas dan masuk akal yakni orang tua sebagai tulang punggung ekonomi rumah tangga. Negara wajib membangun kondisi yang membuat orang tua sanggup menyediakan sandang, pangan, papan secara mandiri, bukan menggantikan peran itu dengan paket kebijakan konsumsi.

Di sinilah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) perlu dibaca dengan kacamata yang jernih. Ini bukan semata perkara “pro vs kontra”, melainkan soal arah kebijakan, apakah program tersebut memperkuat fondasi kesejahteraan, atau justru menggeser logika negara dari pembangunan kapasitas menjadi kebijakan konsumsi massal. Sebab jika orang tua berdaya, kebutuhan anak akan terpenuhi secara alami. Maka kebijakan publik patut diuji yaitu apakah ia mendorong kemandirian ekonomi keluarga, atau malah menciptakan ketergantungan struktural?

Pada praktiknya, MBG cenderung menonjolkan pangan terlebih dahulu. Padahal, dalam kerangka nilai budaya bangsa, urutan kebutuhan seharusnya dipahami sebagai hirarki martabat yaitu sandang, pangan, lalu papan. Cak Nun pernah menyampaikan “sandang luwih dhisik tinimbang pangan”, bukan karena makan tidak penting, tetapi karena manusia yang kenyang namun kehilangan martabat hidupnya akan menjadi manusia yang tidak utuh.

Sandang semestinya menjadi simbol martabat (harga diri). Pangan menghidupi tubuh, dan papan adalah ketepatan menempatkan sesuatu pada tempatnya. Karena itu, bila sandang adalah martabat, maka salah satu wujud martabat yang paling nyata bagi bangsa adalah pendidikan. Pendidikan membentuk nalar, daya saing, dan masa depan, bukan hanya masa depan individu, melainkan martabat kolektif sebuah bangsa. Pendidikan, dalam arti ini, layak disebut sebagai “pilar sandang bangsa”.

Konsekuensinya tegas apabila kebijakan yang menggeser prioritas dari pendidikan ke program makan, terlebih bila dilakukan dengan memotong anggaran pendidikan yang secara konstitusional dijamin minimal 20 persen, tidak bisa dibaca sebagai sekadar reposisi anggaran. Itu adalah perubahan orientasi negara yaitu dari martabat jangka panjang ke pemenuhan instan jangka pendek. Menjadikan anggaran pendidikan sebagai “lumbung” untuk program lain, sepopuler apa pun program tersebut, adalah pengaburan makna sandang dalam skala kebangsaan. Bahkan secara norma kebijakan pendidikan, makan bergizi tidak ditempatkan sebagai fungsi inti pendanaan pendidikan. Jadi problemnya bukan pada niat memberi makan, niat itu mulia, melainkan pada cara, sumber, dan pengorbanan yang ditagihkan kepada fondasi martabat bangsa.

Persoalan ini makin tajam ketika istilah “gratis” dipakai dalam ruang publik seolah-olah pemerintah sedang “memberi”. Dalam negara modern, tidak ada yang benar-benar gratis. Pembiayaan negara bersumber dari pajak, sumber daya alam, dan kekayaan kolektif bangsa, dan rakyat adalah pemilik sahnya. Karena itu, label “gratis” berisiko merendahkan posisi warga sebagai pemilik kedaulatan, seolah-olah rakyat adalah objek belas kasihan kebijakan, padahal pemerintah hanyalah pengelola amanah publik.

Cak Nun pernah menampar logika ini dengan ucapannya yaitu kok bisa disebut pemerintah yang “membantu” rakyat, padahal “pemerintahlah yang kalian bayar… itu uang rakyat sendiri.” Dalam bahasa yang lebih telanjang adalah jika uangnya milik rakyat, tetapi narasinya “pemerintah memberi gratis”, maka yang sedang dibangun bukan kesejahteraan bermartabat, melainkan relasi kuasa yang membuat rakyat lupa bahwa negara itu milik mereka.

Apabila negara mendahulukan pangan sebagai pertunjukan utama kebijakan, sambil mengalahkan martabat (pendidikan) dan mengendurkan misi memperkuat kemandirian ekonomi keluarga, maka negara tampak berubah fungsi. Negara bukan lagi menciptakan kondisi agar keluarga mampu, melainkan menyediakan menu agar rakyat bertahan. Dan ketika ukuran keberhasilan program bergeser menjadi “berapa porsi tersalurkan”, risiko tata kelola ikut membesar.

Pembentukan Badan Gizi Nasional lewat Perpres 83/2024, misalnya, wajar memunculkan pertanyaan akademik tentang checks and balances, terutama jika berdampak besar pada anggaran dan struktur institusi. Dalam negara hukum, kebijakan berdampak luas idealnya ditopang deliberasi yang kuat agar akuntabilitasnya tidak rapuh. Pemerintah juga tidak boleh bersembunyi di balik kontrak. Jika pelaksanaan bertumpu pada pelaksana teknis (SPPG) dengan skema insentif, tanggung jawab substantif atas kualitas dan keselamatan tetap pada pemerintah. Tanpa pengawasan kuat, vendor mudah menjadi kambing hitam saat terjadi keracunan atau makanan basi. Karena itu, program sebesar MBG tidak boleh dinilai dari jumlah penerima semata, melainkan dari standar keamanan, kelayakan, dan akuntabilitas.

Ketika negara semakin sibuk mengurus distribusi makan (pangan), mengorbankan pendidikan (martabat/sandang), dan membiayai kebijakan konsumtif dengan beban fiskal yang membesar hingga menimbulkan utang baru yang besar dalam RAPBN 2026, maka yang lahir bukan kesejahteraan, melainkan ketergantungan baru. Dalam kondisi seperti itu, satir “Negara Katering Republik Indonesia” bukan sekadar lelucon. Ia menjadi kritik konstitusional yaitu negara sedang salah urutan, salah tempat, dan salah cara.

Namun kritik tidak boleh berhenti pada sindiran. Keberpihakan sejati diukur dari kemampuan kebijakan memperkuat struktur ekonomi keluarga, meningkatkan kapasitas produktif, dan menjaga martabat warga. Karena itu arah koreksinya jelas.

Pertama, jangan kurangi fondasi martabat. Pendidikan bukan pos “penyeimbang” untuk membiayai program lain. Jika sandang adalah martabat, pendidikan adalah tulangnya. Kedua, tempatkan MBG pada tempatnya. Memberi makan anak adalah kewajiban negara, tetapi tempatnya bukan dengan mengorbankan anggaran pendidikan, negara memiliki instrumen sosial dan kesehatan lain untuk itu. Ketiga, perkuat ayah-ibu sebagai tulang punggung keluarga. Kebijakan harus membuat keluarga mampu menyediakan sandang, pangan, papan secara mandiri, bukan menggantikan peran keluarga dengan porsi katering negara. Keempat, bangun akuntabilitas yang keras dengan pengawasan independen, audit kualitas, dan standar keamanan pangan sebagai indikator utama, karena tanggung jawab tidak bisa dipindahkan.

NKRI dibangun untuk menegakkan martabat rakyat, bukan sekadar mengenyangkan. Bila urutannya dibalik, pangan didahulukan sambil menggerus martabat, maka kita patut bertanya keras yaitu apakah kita sedang memajukan kesejahteraan umum, atau sedang mengubah republik menjadi dapur raksasa yang sibuk membagikan porsi, sementara fondasi keluarga dan pendidikan dibiarkan melemah?

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

DPR Desak Pemerintah Pastikan THR Ojol Transparan dan Berkeadilan

Ilustrasi - Ojek Daring atau Ojol

Jakarta, Aktual.com – Anggota Komisi V DPR RI Sudjatmiko, mendesak Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) untuk mengawal ketat penyaluran Tunjangan Hari Raya (THR) atau Bonus Hari Raya (BHR) bagi pengemudi dan kurir daring.

Ia menegaskan proses penyaluran tahun ini harus berjalan transparan, akuntabel, dan berkeadilan guna menjamin kesejahteraan pekerja sektor logistik berbasis aplikasi.

“Kami meminta Kemenaker berkoordinasi dengan Kemenhub untuk memastikan penyaluran THR bagi pengemudi ojek online dilakukan secara terbuka dan tanpa ada yang ditutup-tutupi. Ini bukan sekadar persoalan administratif, melainkan bentuk nyata keberpihakan negara terhadap hak mereka,” ujar Sudjatmiko dalam keterangan tertulis, Sabtu (28/2/2026).

Politikus PKB itu menilai sinergi antara Kemenhub sebagai regulator transportasi dan Kemenaker sebagai pengawas perlindungan pekerja sangat krusial. Hal ini mengingat posisi pengemudi daring yang berada dalam skema kemitraan kerap rentan terhadap ketimpangan penentuan kriteria maupun besaran bonus apabila tanpa pengawasan ketat pemerintah.

“Kemenhub dan Kemenaker harus mempunyai indikator jelas yang harus ditaati oleh penyedia jasa aplikasi transportasi daring dalam memberikan BHR kepada mitra mereka,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa pemberian BHR yang mulai diatur sejak tahun lalu melalui Surat Edaran Menteri Ketenagakerjaan tidak boleh hanya menjadi kebijakan simbolik. Ia mendorong adanya evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan tahun sebelumnya, terutama menyangkut kriteria penerima dan transparansi perhitungan bonus agar lebih layak serta tepat sasaran.

“Jangan sampai mereka hanya menjadi tulang punggung layanan tanpa mendapatkan penghargaan yang layak. Mereka harus merasakan BHR sebagai apresiasi atas kerja kerasnya, terutama menjelang Hari Raya ketika kebutuhan rumah tangga meningkat signifikan,” tambahnya.

Sudjatmiko menekankan bahwa evaluasi besaran bonus menjadi poin utama yang harus diperhatikan pemerintah tahun ini. Ia berharap negara hadir secara aktif memastikan pihak aplikator mematuhi ketentuan yang berlaku sehingga tidak ada celah yang merugikan pengemudi maupun kurir.

“Harus ada evaluasi menyeluruh, termasuk soal besaran dan transparansi perhitungannya. Negara harus hadir memastikan pengemudi dan kurir mendapatkan haknya secara layak dan adil,” tutupnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi

Pasar EV Menguat, Geely Borong Tiga Penghargaan di IIMS 2026

Jakarta, Aktual.comGeely Group menutup partisipasinya di Indonesia International Motor Show 2026 (IIMS) 2026 dengan catatan positif, menegaskan momentum pertumbuhan pasar kendaraan listrik (EV) di Indonesia yang kian kompetitif. Tingginya minat pengunjung terhadap lini elektrifikasi Geely menunjukkan pergeseran preferensi konsumen domestik menuju mobil ramah lingkungan dengan fitur teknologi yang semakin lengkap.

Sepanjang pameran, Geely membukukan 1.776 Surat Pemesanan Kendaraan (SPK) dan lebih dari 2.000 sesi test drive. Angka ini mencerminkan respons pasar yang cukup solid, terutama di segmen SUV listrik yang kini menjadi salah satu motor pertumbuhan industri otomotif nasional.

“Kami mengucapkan terima kasih atas antusiasme pengunjung yang datang dan mencoba langsung pengalaman berkendara dengan Geely. Sepanjang pameran, kami berhasil membukukan 1.776 SPK dan lebih dari 2.000 sesi test drive. Ke depan, Geely akan terus memperluas jaringan, meningkatkan layanan, dan menambah pilihan produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen di pasar Indonesia,” ujar Constantinus Herlijoso, Sales & Channel Development Director Geely Auto Indonesia.

Di IIMS 2026, Geely menampilkan tiga model utama, yakni Geely EX2, Geely EX5, dan Geely Starray EM-i. Dari total pemesanan, EX2 menjadi kontributor terbesar dengan porsi sekitar 80 persen, menunjukkan kuatnya permintaan pada SUV listrik kompak dengan harga kompetitif dan fitur Advanced Driver Assistance System (ADAS).

Model EX5 turut menarik perhatian di segmen SUV listrik medium berkat desain eksterior modern, kenyamanan kabin, serta proposisi value for money yang dinilai sesuai dengan kebutuhan keluarga urban. Sementara Starray EM-i menawarkan opsi plug-in hybrid (PHEV) bagi konsumen yang masih membutuhkan fleksibilitas jarak tempuh lebih panjang.

Antusiasme pengunjung juga meningkat dengan kehadiran merek premium ZEEKR yang memperkenalkan dua model andalannya, yakni ZEEKR 009 dan ZEEKR 7X. Kehadiran lini premium ini memperluas positioning Geely, dari segmen mass market hingga kendaraan listrik kelas atas.

Kinerja Geely di IIMS 2026 semakin lengkap setelah meraih tiga penghargaan dari Dyandra Promosindo, yaitu Best EV Compact Design untuk EX2, Best EV Medium Range untuk EX5, serta Best EV Luxury untuk ZEEKR 009.

Capaian tersebut memperkuat posisi Geely sebagai salah satu pemain yang agresif dalam mendorong adopsi kendaraan elektrifikasi di Indonesia. Dengan kombinasi harga kompetitif, teknologi keselamatan, dan perluasan jaringan, Geely berupaya menjawab kebutuhan masyarakat yang semakin terbuka terhadap mobil listrik sebagai solusi mobilitas harian.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi

DPR Soroti Selisih Data WNA di Tengah Isu WNA Ilegal, Imigrasi Diminta Lebih Transparan

Ribuan buruh yang tergabung dalam Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) melakukan aksi long march menuju Istana Merdeka, Jakarta, Senin (6/2/2017). Dalam aksinya ribuan buruh Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menolak keberadaan Tenaga Kerja Asing (TKA) China Ilegal. AKTUAL/Munzir
Ribuan buruh yang tergabung dalam Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) melakukan aksi didepan Istana Merdeka, Jakarta, Senin (6/2/2017). Dalam aksinya ribuan buruh Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menolak keberadaan Tenaga Kerja Asing (TKA) asal China Ilegal. AKTUAL/Munzir

Jakarta, Aktual.com — Anggota Komisi XIII DPR RI Yan Permenas Mandenas, menyoroti adanya selisih data kedatangan dan keberangkatan warga negara asing (WNA), khususnya warga negara China. Ia mempertanyakan transparansi serta akurasi data tersebut di tengah kabar masih ditemukannya WNA ilegal yang bekerja di Indonesia.

“Apa yang menyebabkan terjadinya selisih data antara jumlah kedatangan dan keberangkatan warga negara China serta WNA lainnya?” kata Yan, dikutip dari keterangan tertulis dikutip, Sabtu (28/2/2026).

Politikus Partai Gerindra itu juga menilai penyajian data keimigrasian perlu disampaikan lebih rinci agar publik maupun DPR dapat memahami komposisi keberadaan WNA di Indonesia secara utuh.

“Mengapa dalam penyajian data belum dirinci secara lebih detail berdasarkan jenis visa dan izin tinggal yang dimiliki selama berada di Indonesia?” ujarnya.

Selain itu, Yan menyoroti masih ditemukannya WNA ilegal yang bekerja di Indonesia dan berpotensi menimbulkan persaingan dengan tenaga kerja lokal. Ia meminta pemerintah memperkuat pengawasan serta penindakan.

“Masih ditemukannya WNA ilegal yang bekerja di Indonesia sehingga menimbulkan persaingan dengan tenaga kerja Indonesia. Bagaimana langkah konkret pengawasan dan penindakannya?” tegasnya.

Menanggapi hal tersebut, perwakilan Direktorat Jenderal Imigrasi melalui Kanwil Jawa Timur menjelaskan bahwa selisih data kedatangan dan keberangkatan umumnya disebabkan perbedaan periode pencatatan (cut-off time), keberadaan WNA yang masih memiliki izin tinggal sah seperti ITK, ITAS, maupun ITAP, penggunaan visa multiple entry, serta perubahan status izin tinggal.

“Perbedaan angka kedatangan dan keberangkatan umumnya disebabkan oleh perbedaan periode pencatatan, adanya WNA yang masih berada di wilayah Indonesia karena memiliki izin tinggal yang sah, penggunaan visa multiple entry, serta perubahan status izin tinggal,” jelas perwakilan Kanwil Ditjen Imigrasi Jawa Timur, Senin (23/2/2026).

Imigrasi juga menyatakan bahwa secara sistem data telah terklasifikasi berdasarkan jenis visa—baik kunjungan, kerja, investor, pelajar, maupun penyatuan keluarga—serta jenis izin tinggal. Adapun penyajian yang belum rinci dalam forum tertentu disebut disesuaikan dengan kebutuhan paparan.

Data WN China di Jawa Timur hingga 24 Februari 2026 mencatat penerbitan Visa on Arrival (VOA) sebanyak 12.716, ITK 811, ITK peralihan 15, ITAS 168, serta alih status ITK ke ITAS sebanyak 104. Sementara perpanjangan izin tercatat ITK 350, ITAS 297, dan ITAP 6.

Dalam hal pengawasan WNA ilegal, imigrasi menegaskan langkah pengawasan dilakukan sesuai Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian melalui pemantauan data, pengambilan biometrik, hingga operasi terpadu Tim Pengawasan Orang Asing (Tim PORA).

Komisi XIII DPR menyatakan akan terus menjalankan fungsi pengawasan guna memastikan tata kelola keimigrasian berjalan transparan dan tidak merugikan tenaga kerja dalam negeri.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi

Isu MBG Gerus Dana Pendidikan Dibantah, Seskab Teddy Sebut Semua Program Tetap Jalan

Jakarta, Aktual.com – Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya membantah isu pemangkasan anggaran pendidikan untuk membiayai Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menegaskan tudingan bahwa program tersebut mengorbankan sektor pendidikan tidak berdasar.

Menurut dia, narasi yang menyebut MBG membuat sekolah terbengkalai dan guru tidak diperhatikan perlu diluruskan. “Kemarin ada pihak, sebagian kecil pihak, yang menyampaikan bahwa program Makan Bergizi Gratis itu mengurangi program dan anggaran pendidikan sehingga sekolah terbengkalai, kemudian guru-guru tidak diperhatikan. Jadi, saya mau jawab, itu narasi yang keliru,” ujar Teddy dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (27/2/2026).

Pejabat tersebut memastikan tidak ada satu pun program strategis pendidikan dari periode sebelumnya yang dihentikan. Bahkan, pemerintah, menurutnya, tetap melanjutkan seluruh kebijakan yang sudah berjalan.

“Apakah program makan bergizi ini mengurangi program pendidikan? Saya jawab, tidak. Faktanya, tidak ada program strategis pendidikan dari periode sebelumnya yang tidak berjalan sekarang,” lanjutnya.

Ia menjelaskan, anggaran pendidikan tetap dialokasikan sebesar 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pada tahun ini, total anggaran pendidikan mencapai Rp769,1 triliun dan telah disepakati bersama pemerintah serta DPR, termasuk Badan Anggaran, sejak pembahasan tahun lalu.

Selain memastikan Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan Program Indonesia Pintar (PIP) tetap berjalan, pemerintah juga menambah program Sekolah Rakyat bagi anak-anak putus sekolah atau yang belum pernah mengenyam pendidikan formal. Dalam satu tahun terakhir, sekitar 16.000 hingga 20.000 siswa telah terjangkau di 166 sekolah, dan tahun ini direncanakan pembangunan tambahan 100 sekolah baru.

Di sisi lain, pemerintah merenovasi sekitar 16.000 sekolah pada 2025 dengan anggaran sekitar Rp17 triliun serta mendistribusikan 280.000 televisi digital untuk mendukung pembelajaran. Kesejahteraan guru juga ditingkatkan melalui kenaikan insentif honorer menjadi Rp400.000 per bulan dan tunjangan guru non-ASN menjadi Rp2 juta per bulan, dengan pencairan yang kini dilakukan setiap bulan langsung ke rekening penerima.

“Jadi, yang mau saya sampaikan di sini, tidak ada program pendidikan yang dikurangi atau tidak berjalan. Seluruhnya berjalan, dilanjutkan, bahkan ditambah,” tegasnya.

(Nur Aida Nasution)

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi

5 Keindahan Destinasi Wisata Pulau Sumba Yang Memikat Hati

Sumba, Nusa Tenggara Timur, aktual.com – Pulau Sumba salah satu permata yang memiliki lima keindahan destinasi wisata yang memikat hati dengan menawarkan keindahan alam yang begitu mempesona.

Pemandangan alam Sumba sangat mempesona dengan alam pantainya, air terjun, serta tradisi adat budayanya yang masih kental menjadikan destinasi favorit bagi wisatawan lokal maupun mancanegara.

“Pulau ini juga dikenal dengan kekayaan adat budaya yang hingga saat ini masih terjaga serta keramahan penduduknya yang memikat,”ungkap salah seorang budayawan Sumba Umbu Ryan saat ditemui Jumat (27/2/2026).

Menurutnya, Sumba tak hanya menjadi tujuan untuk melepas lelah tetapi juga tempat untuk melepaskan ketengangan ditengah panorama alam yang luar biasa indahnya dan memikat hati.

“Dari lautnya yang biru hingga perbukitan hijau yang menyejukkan mata, Sumba dapat dikatakan surga kecil yang patut dijelajahi,”kata Umbu Ryan.

Adapun papar dia, lima destinasi wisata Sumba yang memikat hati yang Pertama, Kampung Adat Ratenggaro menggabungkan sejarah dan budaya dengan keindahan alam pesisir.

Rumah adat Desa ini memiliki atap tinggi yang melambangkan status sosial dan pemujaan leluhur. sejumlah rumah adat itu dikelilingi situs megalitik dan kuburan batu tua yang tetap terjaga dan dipertahankan sejak dulu.

Kedua, Danau Weekuri, danau ini memiliki karakteristik visual yang khas dengan warna air hijau kebiru-biruan. danau ini dikelilingi oleh batu karang yang memisahkan dengan laut.

“Mitos setempat menyebut bahwa Weekuri konon dahulu merupakan nama sebuah perkampungan yang tenggelam akibat meluapnya air laut,” tutur Umbu Ryan.

Ketiga. Bukit Wairinding, bukit ini menawarkan lanskap padang savanna yang menawan dengan bentuk unik menyerupai “Raksasa tidur”. Bukit ini juga menjadi spot foto favorit, memberikan suasana damai yag cocok untuk bersantai saat senja pemandangan matahari terbenam.

“Disini sungguh memukau ditemani semilir angin yang menenangkan, kombinasi keindahan dan atmosfer tenang membuat bukit Wairinding layak dikunjungi,” ujarnya.

Keempat, Pantai Walakiri, pantai ini terkenal dengan pasir putihnya, hutan mangrove serta sepanjang pesisir dihiasi pohon cemara. Uniknya hutan mangrove seakan menciptakan siluet sepertipenari saat senja.

Pantai Walakiri juga saat matahari terbenam, perpaduan warna langit senja dan siluet mangrove menjadikan Walakiri tempat sempurna untuk fotografi serta menikmati momen romantic.

Kelima, Air terjun Tanggedu yang dijuluki “Grand Canyon-nya Sumba karena dinding batunya yang megah mengapit aliran sungai. Perjalanan menuju lokasi air terjun Tanggedu dari Kota Waingapu ke lokasi air terjun sekitar 48 Km.

Perjalananpun menuju air terjun penuh tantangan namun sepadan dengan keindahannya air terjun yang jernih, segar dan kebiruan mengalir ke beberapa kolam alami yang cocok untuk berenang.

“Ditempat ini banyak wisatawan mengambil momen foto-foto dengan latar belakang air terjun atau tebing batu menjadikan alam menenangkan ekaligus instagrammable,” terang Umbu Ryan.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Berita Lain