6 April 2026
Beranda blog Halaman 213

DPR dan Pemerintah Bahas Perbaikan Tata Kelola BPJS Kesehatan PBI

Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad saat memimpin rapat paripurna di kompleks parlemen, Jakarta, Senin (8/12/2025). (ANTARA/Bagus Ahmad Rizaldi)
Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad saat memimpin rapat paripurna di kompleks parlemen, Jakarta, Senin (8/12/2025). (ANTARA/Bagus Ahmad Rizaldi)

Jakarta, aktual.com – Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia menggelar rapat koordinasi bersama pemerintah guna membahas pembenahan ekosistem tata kelola jaminan sosial kesehatan yang terintegrasi. Pembahasan tersebut menyoroti persoalan penonaktifan BPJS Kesehatan PBI JK (Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan).

Rapat berlangsung di ruang Komisi V DPR RI, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (9/2/2026). Agenda ini dipimpin Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, serta dihadiri Wakil Ketua DPR RI Sari Yuliati dan Saan Mustopa.

Dari unsur pemerintah, rapat dihadiri Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Menteri Sosial Saifullah Yusuf, Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, serta Direktur Utama BPJS Kesehatan Ali Gufron Mukti.

Selain itu, turut hadir Ketua Komisi VIII DPR RI Marwan Dasopang, Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Abdul Wachid, serta Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Yahya Zaini.

Dasco menjelaskan bahwa rapat tersebut digelar sebagai respons atas dinamika di masyarakat terkait penonaktifan BPJS Kesehatan PBI JK.

“PBI merupakan sebuah program bantuan sosial dari pemerintah kepada masyarakat yang tidak mampu, berupa jaminan kesehatan nasional agar mereka tidak perlu mengeluarkan biaya berobat,” kata Dasco.

Ia menegaskan, tidak semua masyarakat berhak menerima program tersebut karena hanya diperuntukkan bagi kelompok miskin dan rentan miskin sebagai prioritas.

“Namun, tidak semua masyarakat berpeluang mendapatkan BPJS Kesehatan PBI ini, hanya mereka dari kalangan miskin atau rentan miskin yang berhak menjadi prioritas program tersebut. Oleh karenanya, perlu ada perbaikan ekosistem tata kelola jaminan kesehatan yang terintegrasi dalam rangka mitigasi penonaktifan program BPJS Kesehatan Penerima Bantuan Iuran,” imbuh dia.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Iran Nilai Dialog Nuklir dengan AS sebagai Langkah Maju Menuju Solusi Damai

Istanbul, aktual.com – Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan bahwa pembicaraan negaranya dan Amerika Serikat, yang diadakan dengan dukungan negara-negara di kawasan, menandai “langkah maju” menuju solusi damai.

“Dialog selalu menjadi strategi kami untuk mencapai solusi damai,” tulis Pezeshkian di media sosial AS X, Ahad, seraya menekankan bahwa pendekatan Iran terhadap masalah nuklir didasarkan pada “hak-hak yang dijamin berdasarkan Perjanjian Non-Proliferasi.”

Pezeshkian menambahkan bahwa negaranya “menanggapi rasa hormat dengan rasa hormat tetapi tidak menerima bahasa kekerasan.”

Iran dan AS melanjutkan diplomasi nuklir tidak langsung pada Jumat setelah kedua negara berminggu-minggu terlibat ketegangan yang meningkat.

Ketegangan tersebut dipicu oleh ancaman tindakan militer Presiden AS Donald Trump terhadap Iran.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menggambarkan pembicaraan tersebut sebagai “awal yang baik.”

Dia mengatakan bahwa pembicaraan tersebut dapat berlanjut jika suasana ketidakpercayaan dapat diatasi. Telah pula disepakati bahwa proses tersebut akan berlanjut dan kedua pihak dapat bertemu kembali di Muscat, Oman.

Namun, Araghchi tetap menegaskan bahwa program rudal Iran tidak dapat dirundingkan, baik sekarang maupun di masa mendatang, karena itu terkait dengan “urusan pertahanan.”

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Prabowo Kumpulkan Pimpinan TNI–Polri di Istana untuk Evaluasi Kinerja

Kepala Staf TNI AD, Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, saat tiba di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, dalam rangka menghadiri undangan Rapat Pimpinan TNI-Polri yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (9/2/2026). Aktual/ANTARA

Jakarta, aktual.com – Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat evaluasi kinerja jajaran TNI dan Polri melalui agenda Rapat Pimpinan (Rapim) TNI–Polri yang berlangsung di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin pagi.

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengatakan, rapat tersebut merupakan agenda rutin yang berkaitan dengan evaluasi kinerja TNI dan Polri. Hal itu disampaikannya saat tiba di Istana Kepresidenan sekitar pukul 09.30 WIB.

“Saya kurang tahu jujur saja, tapi ini kan rutin ya TNI–Polri, mungkin evaluasi,” ujar Tito kepada wartawan.

Menurut Tito, Rapim TNI–Polri menjadi bagian dari upaya pemerintah meninjau kesiapan sektor pertahanan dan keamanan nasional. Ia menyebut rapat tersebut kemungkinan juga membahas pelaksanaan tugas TNI–Polri, termasuk evaluasi pengamanan Natal dan Tahun Baru yang berjalan relatif aman.

Selain itu, rapat juga diperkirakan menyoroti persiapan pengamanan agenda besar ke depan, seperti bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri.

“Kemarin kan ada rapat di Sentul, rakor seluruh kepala daerah. Itu awal tahun, biasanya beliau sampaikan ke kepala daerah. Nah, ini juga mungkin awal tahun untuk TNI–Polri, terutama yang berhubungan dengan tugas pertahanan dan keamanan,” kata Tito.

Senada, Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal TNI Maruli Simanjuntak menyampaikan bahwa Rapim TNI–Polri merupakan agenda tahunan yang berfokus pada evaluasi kinerja serta pengarahan Presiden terkait langkah-langkah strategis ke depan.

“Iya, rutin kan tiap tahun. Ini acara rutin saja, evaluasi, apa langkah-langkah ke depan. Biasa, kita dapat pengarahan dari Presiden,” ujar Maruli.

Ia menjelaskan, rapat tersebut dihadiri jajaran pimpinan TNI dan Polri, mulai dari komandan Kodim ke atas di lingkungan TNI serta kepala Polres ke atas di jajaran Polri.

Maruli menambahkan, arahan Presiden Prabowo akan ditindaklanjuti melalui rapat pimpinan internal di masing-masing matra TNI.

“Ya nanti ada Rapim TNI lagi, Rapim Angkatan Darat lagi, turunan-turunan dari petunjuk Presiden, apa yang kita lakukan,” pungkasnya. (ant)

Lawan Kanker Tak Bisa Sendiri, Lestari Moerdijat Tekankan Peran Komunitas

Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, saat menyampaikan pandangan secara daring pada peringatan HUT ke-7 Pancacom dan Hari Kanker Dunia. Aktual/DOK MPR RI

Kehadiran dan peran komunitas sangat penting dan strategis untuk membangun solidaritas masyarakat yang mampu melahirkan kekuatan dalam menghadapi keterbatasan upaya mengatasi kanker.

“Keberadaan komunitas seperti Pancacom sangat penting dan strategis sebagai bagian upaya menggalang solidaritas dan kekuatan masyarakat dalam menghadapi sejumlah keterbatasan dalam upaya mengatasi kanker di tanah air,” kata Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, dalam keterangan tertulisnya, Senin (9/2).

Pernyataan itu disampaikan Lestari secara daring pada acara HUT ke-7 Pantura Cancer Community (Pancacom) sekaligus peringatan Hari Kanker Dunia, Minggu (8/2).

Lestari mengapresiasi sumbangsih Pancacom, komunitas para penyintas kanker di kawasan Pantura Jawa, yang secara konsisten melakukan sosialisasi deteksi dini kanker dan mendampingi para penyitas kanker beserta keluarga dalam menjalani proses pengobatan.

Menurut Rerie, sapaan akrab Lestari, kiprah Pancacom dalam tujuh tahun ini merupakan perjalanan panjang yang dibangun dengan komitmen dan empati kuat, yang sangat dibutuhkan dalam menghadapi berbagai tantangan.

Hari ulang tahun ke-7 Pancacom yang berdekatan dengan peringatan Hari Kanker Dunia 4 Februari lalu, ujar Rerie, juga harus mampu menjadi momentum untuk mewujudkan semangat United by Unique atau Bersatu dalam Keunikan yang diusung masyarakat dunia.

Semangat tersebut, tegas Rerie yang juga anggota Komisi X DPR RI itu, mengingatkan kembali bahwa setiap individu yang berhadapan dengan kanker memiliki cerita, kondisi, dan kebutuhan yang berbeda.

Kanker, tambah Rerie, bukan hanya persoalan medis. Kanker juga berdampak pada sisi sosial, psikologis, dan ekonomi para penderitanya.

Sejatinya, ujar dia, sebagian kasus kanker dapat diobati dengan lebih baik melalui langkah edukasi, deteksi dini, serta akses layanan kesehatan yang merata dan berkelanjutan.

Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu berpendapat bahwa dalam menghadapi beragam tantangan tersebut, upaya untuk bersatu dan saling mendukung antarpihak terkait, serta menjadikan manusia dan nilai kemanusiaan sebagai perhatian utama dalam mengatasi kanker, sangat penting.

Momentum peringatan HUT ke-7 Pancacom dan Hari Kanker Dunia, tegas Rerie, harus mampu mewujudkan penguatan kesadaran kolektif dan dorongan bagi semua pihak untuk terus bergerak melakukan aksi nyata, mulai dari perubahan pola hidup, penghapusan stigma, hingga penguatan kebijakan publik yang berpihak kepada pasien kanker.

PAN Buka Peluang Dukung Prabowo di Pilpres 2029, Cawapres Masih Dinamis

Ketua Komisi VII DPR RI Saleh Partaonan Daulay di Kompleks Parlemen, Jakarta
Ketua Komisi VII DPR RI Saleh Partaonan Daulay di Kompleks Parlemen, Jakarta

Jakarta, aktual.com – Partai Amanat Nasional menyatakan kembali membuka dukungan kepada Prabowo Subianto pada Pilpres 2029. Meski demikian, dukungan tersebut belum tentu satu paket dengan Gibran Rakabuming Raka. PAN menegaskan tetap memberi ruang bagi Gibran untuk berkontribusi menyukseskan agenda pemerintahan.

Wakil Ketua Umum DPP PAN Saleh Partaonan Daulay menilai pembahasan Pilpres 2029 masih terlalu dini. Menurutnya, saat ini seluruh elemen bangsa seharusnya fokus bekerja menunaikan amanat masyarakat serta merealisasikan Asta Cita Presiden Prabowo.

“Kita kasih ruang ke semua pihak untuk berkontribusi. Terkhusus bagi mas Gibran. Sebagai wapres, dia tentu punya beban moral untuk menyukseskan semua program pemerintah. Wajar jika dia tidak mau juga berkomentar soal pilpres,” kata Saleh kepada wartawan, Senin (9/2/2026).

Saleh menegaskan, bagi PAN sekarang adalah masa untuk bekerja. Ia meminta kader dan simpatisan partai membantu pemerintah tanpa terjebak pembahasan pilpres yang belum waktunya.

“Kalau ada yang bicara soal itu, ya mungkin kesenggol aja. Jadi tidak perlu terlalu didalami dulu. Tunggu aja. Nanti ada masanya bicara soal itu,” ucapnya.

Ia juga menyebut Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan terus mengarahkan kader agar fokus mengabdi kepada masyarakat. Setiap pertemuan internal, kata Saleh, Zulhas menekankan pentingnya kerja nyata dibanding wacana politik elektoral.

“Tegas, lugas, dan jelas. Belum ada pembahasan soal pilpres. Yang ada adalah bekerja membantu presiden,” tegasnya.

Sebelumnya, pernyataan PAN yang mendukung Prabowo namun belum tentu berpasangan kembali dengan Gibran juga mendapat respons dari Wakil Presiden. Gibran menegaskan saat ini dirinya memilih fokus menjalankan tugas pemerintahan.

“Saya akan tetap fokus bekerja agar program dan visi Bapak Presiden dapat memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” kata Gibran dalam keterangan pers tertulis yang dibagikan Sekretariat Wakil Presiden, Minggu (8/2).

Ia menambahkan, sebagai pembantu presiden, dirinya memiliki tanggung jawab memastikan seluruh program Prabowo berjalan optimal.

“Sebagai pembantu Presiden, saya memiliki tanggung jawab untuk mengawal serta memastikan pelaksanaan program dan visi Bapak Presiden berjalan dengan baik,” ujarnya.

Sikap PAN itu sejalan dengan pernyataan Wakil Ketua Umum PAN Eddy Soeparno yang sebelumnya memastikan dukungan partai kepada Prabowo di Pilpres 2029. Namun, menurut Eddy, urusan calon wakil presiden akan sangat bergantung pada dinamika kerja sama politik.

“Saya kira Pak Zulkifli Hasan, ketua umum saya, pun dari awal sudah mengatakan bahwa PAN itu tidak ada urusan untuk permasalahan siapa yang akan kita dukung nanti di pilpres yang akan datang. Kita sudah tiga kali mendukung Bapak Presiden Prabowo, satu-satunya partai loh di luar Gerinda, yang konsisten mendukung Bapak Prabowo tiga kali dalam tiga pilpres,” kata Eddy di DPR RI, Jakarta, Kamis (5/2).

Eddy menegaskan, dukungan kepada Prabowo tidak otomatis berarti berpasangan dengan Gibran. PAN, kata dia, akan mencermati berbagai opsi terbaik menjelang 2029. Bahkan, ia secara terbuka mendorong Zulkifli Hasan sebagai kandidat pendamping Prabowo, seiring terbukanya peluang partai mengajukan kader sendiri.

“Gini, bagi saya, bagi saya, saya adalah partai politik dan apalagi partai politik itu sekarang memiliki kesempatan untuk bisa mengajukan kader-kadernya dengan tidak ada presidential threshold, tentu saya mendukung Pak Zulhas. Kalau ditanyakan hari ini, saya dukung Pak Zulhas mendampingi Pak Prabowo di tahun 2029, tentu,” ujarnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Nama Kontroversial Muncul, Koalisi Sipil Soroti Seleksi Hakim MK oleh MA

Jakarta, Aktual.com — Koalisi Masyarakat Sipil menyoroti proses seleksi calon hakim Mahkamah Konstitusi (MK) yang dilakukan Mahkamah Agung (MA), menyusul munculnya nama yang memiliki relasi kekerabatan dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo dalam daftar hasil seleksi administrasi. Koalisi menilai proses ini menjadi ujian serius bagi komitmen MA dalam menjaga integritas, independensi, dan reputasi lembaga peradilan.

Koalisi yang terdiri atas Lembaga Kajian dan Advokasi Independensi Peradilan (LeIP), Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Indonesia Judicial Research Society (IJRS), serta Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) menyatakan bahwa seleksi calon hakim konstitusi merupakan momentum krusial di tengah krisis kepercayaan publik terhadap pejabat negara.

Pada Senin, 2 Februari 2026, MA mengumumkan 10 nama calon hakim konstitusi hasil seleksi administrasi untuk menggantikan hakim konstitusi berinisial AU yang akan memasuki masa pensiun pada April 2026. Seluruh calon berasal dari unsur hakim di berbagai unit kerja peradilan.

Ketua YLBHI Muhamad Isnur, menegaskan bahwa MA memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan calon yang diusulkan benar-benar berkualitas dan berintegritas. “Kami mendesak Mahkamah Agung untuk memahami peran krusialnya dalam menjaga marwah MK sekaligus reputasi MA dalam proses seleksi calon hakim konstitusi,” kata Isnur dalam keterangan tertulis, Senin (9/2/2026).

Isnur mengingatkan bahwa Mahkamah Konstitusi memiliki posisi strategis dalam sistem ketatanegaraan Indonesia sebagai penjaga konstitusi dan pelindung hak konstitusional warga negara. Peran tersebut, lanjutnya, menuntut hakim konstitusi yang memiliki kompetensi hukum yang kuat, integritas tinggi, serta perspektif hak asasi manusia.

“MK dibentuk untuk menjalankan fungsi checks and balances terhadap kekuasaan eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Karena itu, hakim MK harus benar-benar independen dan mampu menjaga konstitusi dari potensi penyalahgunaan kekuasaan,” ujarnya.

Koalisi juga mengingatkan bahwa kepercayaan publik terhadap MA saat ini berada dalam tren positif. Survei Litbang Kompas pada Januari 2025 mencatat tingkat kepercayaan publik terhadap MA mencapai 69 persen, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, kepercayaan tersebut dinilai dapat tergerus apabila MA gagal menghadirkan calon hakim MK yang berkualitas.

Menurut Koalisi, calon hakim konstitusi tidak cukup hanya memenuhi syarat administratif. MA diminta menjadikan rekam jejak putusan, integritas etik, independensi, serta perspektif hak asasi manusia sebagai indikator utama dalam proses seleksi.

Atas dasar itu, Koalisi Masyarakat Sipil mendesak MA memastikan proses seleksi dilakukan secara profesional, transparan, dan akuntabel berbasis sistem merit. Selain itu, MA diminta mengulang proses seleksi apabila belum berhasil menjaring calon hakim konstitusi yang dinilai memenuhi standar kualitas dan integritas yang dibutuhkan MK.

Berdasarkan hal tersebut, Lembaga Kajian dan Advokasi Independensi Peradilan (LeIP), Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Indonesia Judicial Research Society (IJRS), serta Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) mendesak Mahkamah Agung untuk:

  1. Memastikan seluruh proses seleksi calon hakim Mahkamah Konstitusi dari unsur MA dilakukan secara profesional, transparan, akuntabel, dan berbasis sistem merit guna menghasilkan penilaian yang objektif sesuai dengan kualitas masing-masing calon;
  2. Memastikan bahwa usulan hakim konstitusi dari unsur MA merupakan hakim yang secara kumulatif memenuhi prasyarat:
    a) berkualitas dalam menghasilkan putusan yang berdampak bagi masyarakat;
    b) berintegritas; dan
    c) berperspektif hak asasi manusia;
  3. Mengulang proses seleksi apabila MA belum berhasil menjaring calon hakim Mahkamah Konstitusi dari unsur MA yang berkualitas dan memenuhi prasyarat tersebut dengan mempertimbangkan prinsip transparansi dan partisipasi publik.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi

Berita Lain