13 April 2026
Beranda blog Halaman 256

AHY Nilai Geopolitik Dunia Berubah Keras, Indonesia Tak Boleh Lemah

Jakarta, Aktual.com – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menilai situasi geopolitik global saat ini bergerak semakin keras dan penuh ketidakpastian, sehingga berisiko menekan kepentingan strategis Indonesia. Ia menegaskan bahwa perubahan tatanan dunia tidak lagi bersifat abstrak, melainkan berdampak langsung terhadap stabilitas nasional.

Menurut AHY, eskalasi konflik dan persaingan kekuatan besar telah mengubah cara negara-negara berinteraksi di tingkat global. Kondisi tersebut menuntut setiap bangsa memiliki ketahanan agar tidak terjebak sebagai pihak yang dirugikan dalam percaturan internasional.

Putra Presiden ke-6 RI itu mengatakan bahwa ekonomi dan geopolitik kini menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan. “Apa yang terjadi dalam percaturan geopolitik dunia hari ini langsung menyentuh kedaulatan sebuah bangsa, termasuk Indonesia,” ujar AHY kepada awak media di NT Tower, Jakarta Timur, Rabu (4/2/2026).

Lebih lanjut, konflik bersenjata dan ketegangan geopolitik di sejumlah kawasan telah mengganggu rantai pasok global serta memicu lonjakan harga energi dan biaya logistik. Dampak tersebut, kata dia, tetap dirasakan Indonesia meskipun peristiwa geopolitik itu terjadi jauh dari kawasan Asia Tenggara.

Ia menyinggung sejumlah contoh konkret, mulai dari konflik berkepanjangan di Timur Tengah yang mengancam jalur energi dunia hingga ketegangan terkait sumber daya alam strategis di Amerika Latin dan kawasan Arktik. Menurutnya, perebutan minyak dan mineral kritis menjadi pemicu utama mengerasnya persaingan antarnegara.

“Dalam situasi seperti ini, negara yang tidak siap akan membayar harga mahal, dan Indonesia tidak boleh berada di posisi lemah,” tuturnya.

Rivalitas global kini tidak lagi semata soal kekuatan militer, ungkap AHY, tetapi juga menyangkut standar teknologi, aturan perdagangan, hingga penguasaan pasokan strategis. Jika tidak diantisipasi, kondisi tersebut berpotensi menjadikan negara berkembang hanya sebagai objek kepentingan kekuatan besar.

Dalam menghadapi dinamika itu, Menko Infrastruktur tersebut menekankan pentingnya membangun ketahanan nasional melalui kemandirian pangan, energi, dan air. Pembangunan infrastruktur, baginya, harus diarahkan secara tepat sasaran agar benar-benar memperkuat daya tahan bangsa, bukan sekadar menambah jumlah proyek.

(Nur Aida Nasution)

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi

PNBP Minerba Lampaui Target APBN 2025, Pemerintah Klaim Hilirisasi Perkuat Ruang Fiskal

Jakarta, Aktual.com – Pemerintah mencatat Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sektor mineral dan batu bara (minerba) pada 2025 melampaui target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Realisasi PNBP sektor tersebut tercatat sekitar Rp138,37 triliun, atau lebih dari 100 persen dari target, yang dinilai memperkuat ruang fiskal di tengah tekanan belanja dan ketidakpastian ekonomi global.

Kepala Biro Perencanaan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Hariyanto, mengatakan capaian tersebut mencerminkan mulai terlihatnya dampak kebijakan hilirisasi terhadap penerimaan negara.

“Hilirisasi sudah berkontribusi signifikan terhadap penerimaan negara, dan realisasi PNBP yang melampaui target menjadi salah satu indikator keberhasilannya,” kata Hariyanto dalam acara Nusantara Economic Outlook di NT Tower, Jakarta Timur, Rabu (4/2/2026).

Menurut Hariyanto, peningkatan PNBP minerba tidak hanya ditopang oleh volume produksi dan harga komoditas, tetapi juga oleh berkembangnya proyek-proyek hilirisasi yang menghasilkan nilai tambah lebih tinggi. Peningkatan nilai tambah tersebut, kata dia, berdampak langsung pada struktur penerimaan negara melalui royalti, iuran, serta kewajiban fiskal lainnya.

Dari perspektif fiskal, realisasi PNBP di atas target memberi ruang tambahan bagi pemerintah dalam menjaga kesinambungan APBN. Kontribusi minerba terhadap penerimaan negara dinilai penting, terutama untuk mendukung belanja prioritas, menjaga defisit tetap terkendali, serta meredam risiko volatilitas penerimaan pajak di tengah perlambatan ekonomi global.

Hariyanto menegaskan kebijakan hilirisasi sejalan dengan mandat Kementerian ESDM dalam mendukung ketahanan energi dan mengurangi ketergantungan terhadap ekspor bahan mentah. Selain memperkuat penerimaan negara, pendekatan ini dinilai mampu memperbaiki struktur industri nasional dan memperkuat basis ekonomi domestik.

“Keberadaan proyek hilirisasi juga memastikan pemenuhan kebutuhan energi dan bahan baku industri di dalam negeri, sehingga manfaat ekonominya tidak hanya tercermin pada penerimaan negara, tetapi juga pada stabilitas pasokan dan harga,” ujarnya.

Dari sisi investasi, Deputi Bidang Hilirisasi Investasi Strategis Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Heldy Satrya Putera, menyatakan hilirisasi berperan penting dalam menjaga ketahanan pertumbuhan ekonomi sekaligus menopang penerimaan negara dalam jangka menengah dan panjang.

“Tujuan utama hilirisasi adalah mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam agar memberi nilai tambah maksimal, sekaligus menciptakan lapangan kerja dan pendapatan bagi masyarakat,” kata Heldy.

Ia menjelaskan, pengolahan mineral seperti nikel, bauksit, dan tembaga menjadi produk antara maupun produk akhir memperkuat rantai industri dalam negeri. Aktivitas tersebut tidak hanya menarik investasi, tetapi juga memperluas basis penerimaan negara melalui aktivitas industri lanjutan.

Heldy menambahkan, keterkaitan hilirisasi dengan agenda transisi energi juga semakin nyata, khususnya melalui pengembangan industri baterai dan kendaraan listrik. Penguatan ekosistem ini dinilai berpotensi menciptakan sumber penerimaan baru bagi negara, sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

“Komitmen investasi yang mulai terealisasi menunjukkan hilirisasi tidak berhenti pada kebijakan, tetapi bergerak menuju penguatan ekonomi dan ketahanan fiskal nasional,” tuturnya.

Meski demikian, pemerintah menilai konsistensi kebijakan dan penguatan tata kelola menjadi kunci agar kontribusi PNBP minerba terhadap APBN bersifat berkelanjutan. Pengelolaan penerimaan yang transparan serta kepastian regulasi diharapkan mampu menjaga kepercayaan investor dan memastikan manfaat hilirisasi benar-benar dirasakan dalam jangka panjang.

(Nur Aida Nasution)

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi

BMKG Rilis Hilal Penentu Awal Ramadan 2026 Berpeluang Terlihat 18 Februari

Jakarta, aktual.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) turut memberikan pertimbangan ilmiah kepada Kementerian Agama (Kemenag) dan pihak terkait dalam penentuan awal bulan Hijriah, termasuk awal Ramadan 1447 H/2026 M.

BMKG memberikan prediksi astronomis terkait pengamatan rukyatul hilal sebagai bahan pertimbangan dalam penetapan awal bulan Ramadan. Selain itu, BMKG juga akan melakukan observasi (rukyat) hilal di 37 lokasi di seluruh Indonesia yang dapat disaksikan secara daring melalui laman hilal.bmkg.go.id.

Berdasarkan data BMKG yang dirilis pada 29 Januari 2026, konjungsi atau ijtimak tercatat terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026 pukul 19.01 WIB. Pada waktu Matahari terbenam di hari yang sama, posisi Bulan masih berada di bawah ufuk di seluruh wilayah Indonesia.

“Karena konjungsi terjadi setelah Matahari terbenam pada tanggal 17 Februari 2026, secara astronomis pelaksanaan rukyat hilal penentu awal bulan Ramadan 1447 H bagi yang menerapkan rukyat dalam penentuannya adalah setelah Matahari terbenam pada tanggal 18 Februari 2026,” tulis BMKG dalam keterangannya.

BMKG menjelaskan, bagi pihak yang menggunakan metode hisab dalam penentuan awal Ramadan, perlu memperhitungkan kriteria hisab saat Matahari terbenam pada 18 Februari 2026.

Berdasarkan perhitungan BMKG, ketinggian hilal pada 17 Februari 2026 berada pada rentang minus 2,41 derajat hingga minus 0,93 derajat. Kondisi tersebut membuat hilal belum memungkinkan untuk diamati.

Sementara itu, ketinggian hilal di Indonesia saat Matahari terbenam pada 18 Februari 2026 diperkirakan berkisar antara 7,62 derajat di Merauke, Papua hingga 10,03 derajat di Sabang, Aceh. Dengan posisi tersebut, hilal diperkirakan sudah cukup tinggi untuk dilakukan pengamatan.

BMKG juga mencatat elongasi Bulan terhadap Matahari pada 18 Februari 2026 berada pada rentang 10,7 derajat hingga 12,21 derajat, atau berada di atas batas minimal kriteria imkanur rukyat. Selain itu, pada 17 dan 18 Februari 2026 tidak terdapat objek astronomis lain di sekitar Bulan yang berpotensi mengganggu proses pengamatan hilal.

Sementara itu, Kementerian Agama telah menjadwalkan pelaksanaan sidang isbat penentuan awal Ramadan 1447 H/2026 M pada Selasa (17/2/2026) di Auditorium H M Rasjidi. Sidang tersebut akan dipimpin langsung oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar.

“Sidang Isbat akan dihadiri oleh sejumlah pihak, antara lain perwakilan ormas Islam, perwakilan kedutaan besar negara-negara Islam, MUI, BMKG, ahli falak, DPR, serta perwakilan Mahkamah Agung,” kata Direktur Jenderal Bimas Islam Abu Rokhmad dalam keterangannya, Kamis (29/1).

Abu Rokhmad menjelaskan, terdapat tiga rangkaian utama dalam pelaksanaan sidang isbat, yakni pemaparan data posisi hilal berdasarkan perhitungan astronomi, verifikasi hasil rukyatul hilal dari 37 titik pemantauan di Indonesia, serta musyawarah dan pengambilan keputusan yang diumumkan kepada masyarakat.

“Selanjutnya, musyawarah dan pengambilan keputusan yang diumumkan kepada masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, dalam penentuan awal Ramadan, Idulfitri 1 Syawal, dan Iduladha, Kemenag mengintegrasikan metode hisab dan rukyah sesuai dengan Fatwa MUI Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penetapan Awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijjah.

Direktur Urusan Agama Islam Kemenag Arsad Hidayat menambahkan, pihaknya akan mengirimkan para ahli ke sejumlah titik rukyat yang dinilai potensial untuk mengamati hilal.

“Kalau memungkinkan, tahun ini kita menjadikan masjid IKN yang telah diresmikan beberapa waktu lalu sebagai tempat pelaksanaan rukyatul hilal,” kata Arsad.

Selain itu, Kemenag juga berencana menerbitkan Peraturan Menteri Agama (PMA) sebagai dasar hukum pelaksanaan sidang isbat.

“PMA ini akan menjadi pijakan dan menjawab pertanyaan masyarakat tentang dasar pelaksanaan sidang isbat,” pungkasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Tino Oktaviano

Krisis Moral Aparatur Pajak dan Harga Kepercayaan Publik

Rinto Setiyawan, Ketua Umum IWPI, Anggota Majelis Tinggi Partai X, Wakil Direktur Sekolah Negarawan X Institute

Oleh: Rinto Setiyawan , A.Md., S.H., CTP (Ketua Umum Ikatan Wajib Pajak Indonesia, Anggota Majelis Tinggi Partai X, Wakil Direktur Sekolah Negarawan)

Jakarta, aktual.com – Penggerebekan dua pegawai Kantor Pelayanan Pajak (KPP) di Yogyakarta di sebuah kamar hotel bukan sekadar cerita sensasional atau urusan domestik. Ia adalah potret kecil dari persoalan besar yang selama ini dipendam rapat: krisis moral aparatur pajak dan dampaknya terhadap kepercayaan publik.

Peristiwa itu bermula dari kecurigaan seorang suami terhadap istrinya yang mengajukan cuti tanpa penjelasan. Pengintaian berujung pada penggerebekan di sebuah hotel bersama rekan kerja satu kantor. Secara pidana, kasus ini memang masih bergantung pada unsur perzinaan dan aduan pasangan sah. Namun dari sudut pandang kedinasan, dampaknya jauh lebih serius. Perselingkuhan dikategorikan sebagai pelanggaran disiplin berat karena mencederai kehormatan aparatur pemerintah.

Ironisnya, kasus ini justru sejalan dengan pengakuan resmi pimpinan Direktorat Jenderal Pajak sendiri. Beberapa tahun lalu, Mantan Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, Suryo Utomo, secara terbuka menyampaikan bahwa pelanggaran disiplin terbanyak yang dilakukan oleh PNS di lingkungan DJP bukanlah hal sepele. Pelanggaran nomor satu adalah fraud, meminta atau menerima imbalan di luar haknya saat bekerja. Sementara pelanggaran disiplin terbanyak kedua adalah hidup bersama tanpa menikah atau kumpul kebo.

“Kedua yang paling banyak itu hidup serumah tanpa menikah,” ujar Suryo Utomo, dikutip dari CNBC Indonesia pada Desember 2022. Pernyataan ini menunjukkan bahwa persoalan moral di tubuh DJP bukanlah kasus insidental, melainkan fenomena yang sudah lama diketahui secara internal.

Masalahnya, krisis moral ini tidak berdiri sendiri. Dalam waktu berdekatan, publik juga disuguhi serangkaian operasi tangkap tangan terhadap pegawai pajak, mulai dari Kantor Wilayah DJP Jakarta Utara hingga kasus terbaru di Banjarmasin. Jika ditarik garis lurus, tampak satu pola yang konsisten: persoalan integritas aparatur pajak merentang dari pelanggaran etika pribadi hingga korupsi struktural.

Di titik inilah peringatan Emha Ainun Nadjib terasa semakin relevan. Ia pernah mengatakan bahwa birokrasi dan pemerintahan Indonesia ibarat kawah: siapa pun yang masuk ke dalamnya berisiko kehilangan keseimbangan, menjadi tidak adil, curang, dan tergoda oleh nafsu harta serta kekuasaan. Kawah itu bukan hanya menggerus etika kerja, tetapi juga etika hidup.

Pajak adalah titik temu paling konkret antara pemerintah dan rakyat. Ia hadir dalam kehidupan sehari-hari, memengaruhi keberlangsungan usaha, rumah tangga, dan masa depan ekonomi warga. Karena itu, aparatur pajak tidak cukup hanya profesional secara teknis; mereka harus bermoral secara personal. Integritas aparatur pajak adalah fondasi legitimasi pemerintah dalam memungut pajak.

Ketika pegawai pajak gagal menjaga moral pribadinya, kepercayaan publik mulai retak. Ketika sebagian aparaturnya terjerat korupsi, legitimasi pemerintah runtuh lebih dalam. Dan ketika sistem perpajakan berjalan tanpa keadilan, krisis itu menjadi lengkap. Rakyat tetap dipungut pajak, tetapi kehilangan keyakinan bahwa negara dikelola oleh tangan-tangan yang bersih dan patut dipercaya.

Pertanyaan mendasarnya menjadi tak terelakkan: bagaimana mungkin tujuan negara dapat tercapai, melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta mewujudkan keadilan sosial, jika sistem perpajakannya tidak adil dan aparaturnya mengalami krisis moral? Bagaimana mungkin rakyat diminta patuh, sementara teladan justru rapuh?

Krisis moral aparatur pajak bukan sekadar persoalan disiplin internal. Ia adalah alarm keras tentang rapuhnya kontrak sosial antara pemerintah dan rakyat. Selama persoalan integritas ini tidak diselesaikan secara menyeluruh, baik secara sistemik maupun kultural, setiap upaya meningkatkan penerimaan pajak akan selalu dibayar mahal dengan satu harga: hilangnya kepercayaan publik.

Dan ketika kepercayaan runtuh, pajak tak lagi dipahami sebagai gotong royong kebangsaan, melainkan sebagai paksaan administratif. Inilah harga paling mahal dari krisis moral aparatur pajak, harga yang pada akhirnya harus dibayar oleh pemerintah dan rakyatnya sendiri.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Deretan Eks Menlu, Wamenlu, hingga Pengamat Dipanggil Prabowo ke Istana

Presiden Pertama Timor Leste, Xanana Gusmao berbincang sengan Dino Patti Djalal saat acara Foreign Policy Community Of Indonesia (FPCI) di Kota Kasablanka, Jakarta, Sabtu (17/9). Acara bertajuk Conference on Indonesian Foreign Policy 2016 : Finding Indonesia’s Place In The Brave New World menghadirkan sekitar 50 pembicara dari dalam dan luar negeri. AKTUAL/TINO OKTAVIANO

Jakarta, aktual.com – Mantan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI Dino Patti Djalal membenarkan dirinya diundang ke Istana Kepresidenan Jakarta untuk bertemu Presiden Prabowo Subianto, Rabu (4/2/2026).

“Iya benar,” kata Dino saat dikonfirmasi melalui pesan teks, Rabu (4/2/2026).

Dino menyebutkan, pertemuan tersebut dijadwalkan berlangsung pada pukul 15.00 WIB. Namun, ia enggan mengungkapkan lebih lanjut agenda pembahasan maupun pihak-pihak lain yang turut diundang dalam pertemuan tersebut.

“Jam 15.00 WIB,” ujarnya singkat.

Saat ditanya apakah pertemuan itu juga melibatkan mantan Menteri Luar Negeri maupun Wakil Menteri Luar Negeri lainnya, Dino meminta agar konfirmasi lebih lanjut dilakukan kepada pihak Istana.

“Tanya Istana saja,” katanya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, pertemuan di Istana Kepresidenan tersebut turut mengundang sejumlah tokoh senior diplomasi, baik mantan Menteri Luar Negeri maupun Wakil Menteri Luar Negeri. Nama-nama yang disebut di antaranya Alwi Shihab, Hassan Wirajuda, Marty Natalegawa, Retno Marsudi, Dino Patti Djalal, Triyono Wibowo, AM Fachir, serta Pahala Mansury.

Selain itu, Presiden Prabowo juga dikabarkan mengundang unsur legislatif dari Komisi I DPR RI, termasuk Ketua Komisi I Utut Adianto beserta pimpinan fraksi di komisi tersebut.

Dari kalangan akademisi dan pengamat hubungan internasional, sejumlah nama yang disebut hadir antara lain Hikmahanto Juwana (Guru Besar Hubungan Internasional UI), Yose Rizal Damuri (Direktur Eksekutif CSIS), Lina Alexandra (Kepala Departemen Hubungan Internasional CSIS), Teuku Rezasyah (Unpad), Prof. M. Mohtar Mas’oed (Guru Besar HI UGM), Prof. Evi Fitriani (FISIP UI), Ikrar Nusa Bakti, Philips J. Vermonte, serta Jusuf Wanandi.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Istana Kepresidenan terkait agenda utama pertemuan tersebut. Namun, kehadiran sejumlah tokoh senior dari unsur diplomasi, legislatif, dan akademisi mengindikasikan adanya pembahasan strategis terkait arah kebijakan luar negeri Indonesia dan dinamika geopolitik global terkini.

Termasuk di antaranya isu masuknya Indonesia ke dalam Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP) yang merupakan inisiatif bentukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Artikel ini ditulis oleh:

Tino Oktaviano

Utusan Palestina di PBB: Gaza Milik Rakyat Palestina, Israel Harus Angkat Kaki Sepenuhnya

Ilustrasi - Kehancuran di Jalur Gaza. ANTARA/Anadolu/py.
Ilustrasi - Kehancuran di Jalur Gaza. ANTARA/Anadolu/py.

Hamilton, aktual.com – Utusan Palestina untuk PBB Riyad Mansour mengatakan bahwa Jalur Gaza adalah bagian yang tidak terpisahkan dari wilayah Palestina yang diduduki dan milik rakyat Palestina.

“Gaza bukanlah sebidang tanah yang tergantung di udara untuk dirampas oleh siapa pun. Itu milik rakyatnya. Itu milik rakyat Palestina,” kata Mansour pada sesi pembukaan Komite PBB tentang Penerapan Hak-Hak yang Tidak Dapat Dicabut dari Rakyat Palestina, Selasa (4/2).

Mansour menyambut baik gencatan senjata di Gaza dan mencatat kerja sama semua pihak yang terlibat, termasuk AS, namun menekankan bahwa gencatan senjata itu harus bertahan lama.

Ia mengatakan bahwa gencatan senjata “tidak boleh rapuh,” katanya, “Israel tidak boleh terus menerus membunuh rakyat kami sesuai keinginan mereka di Jalur Gaza dan bagian lain wilayah Palestina yang diduduki.”

Mansour juga menekankan pentingnya akses kemanusiaan. “Bantuan kemanusiaan harus diizinkan menjangkau seluruh penjuru Jalur Gaza,” dan “lembaga kemanusiaan, termasuk PBB, UNRWA (badan pengungsi Palestina PBB), harus diizinkan untuk terus maenjalankan mandat dan tanggung jawab mereka.”

“Kami ingin melihat awal penarikan pasukan Israel untuk keluar sepenuhnya dari Jalur Gaza,” katanya, menyambut langkah gencatan senjata tahap kedua yang ditandatangani pada akhir Oktober.

Ia kembali menegaskan bahwa Tepi Barat yang diduduki, termasuk Yerusalem Timur, dan Gaza merupakan satu kesatuan wilayah yang harus berada di bawah Otoritas Palestina. Ia juga menekankan agar Israel segera menarik diri sepenuhnya dari Jalur Gaza demi stabilitas internasional.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Berita Lain