4 April 2026
Beranda blog Halaman 27

Anies Silaturahmi ke Cikeas Temui SBY-AHY, Pengamat Soroti Peluang Duet Jelang 2029

Anies Baswedan dan Agus Harimurti Yudhoyono
Anies Baswedan dan Agus Harimurti Yudhoyono

Jakarta, Aktual.com – Pertemuan Anies Baswedan dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di kediaman Cikeas dinilai pengamat politik Arifki Chaniago memiliki makna lebih dari sekadar silaturahmi lebaran. Pertemuan ini dinilai membuka peluang komunikasi politik yang bisa menghidupkan kembali opsi duet Anies–AHY menjelang Pilpres 2029.

“Pertemuan ini tidak bisa dilihat hanya sebagai silaturahmi biasa. Ada upaya memancing kemungkinan agar duet Anies–AHY tetap menjadi opsi yang hidup,” ujar Arifki Chaniago, Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Sabtu (28/03/2026).

Arifki menekankan bahwa hubungan Anies dengan Partai Demokrat memiliki sejarah panjang. Salah satunya terlihat ketika Anies mengikuti Konvensi Capres Partai Demokrat 2014 di era kepemimpinan SBY. Hubungan politik ini kembali terlihat dalam Pilpres 2024, saat skenario duet Anies–AHY sempat menjadi opsi utama sebelum akhirnya batal di tahap akhir.

Menurut Arifki, peluang duet kedua tokoh sangat bergantung pada dinamika politik ke depan, terutama posisi AHY dalam pemerintahan Prabowo Subianto. “Kalau Demokrat tidak mendapatkan ruang yang cukup di pemerintahan, maka kemungkinan membangun poros baru bersama Anies bisa kembali terbuka menjelang Pilpres 2029,” jelasnya.

Namun, Arifki juga menyoroti tantangan terbesar: ambisi politik masing-masing tokoh. Baik Anies maupun AHY memiliki posisi tawar sebagai calon presiden, sehingga kompromi menjadi kunci.

“Ini yang perlu dicarikan titik temu. Tapi dalam politik, kompromi selalu mungkin terjadi jika kepentingannya bertemu,” tambahnya.

Pertemuan di kediaman SBY juga memiliki makna simbolik. Cikeas dianggap sebagai ruang penting pengambilan arah politik Partai Demokrat. Arifki menilai jika pertemuan berlangsung hangat, komunikasi politik bukan hanya terbuka, tetapi mendapat ruang serius.

“Pertemuan ini memang bukan keputusan politik, namun cukup kuat untuk dibaca sebagai langkah awal dalam memancing kemungkinan duet Anies–AHY kembali muncul pada Pilpres 2029,” pungkasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi

PP Tunas Berlaku, Amankan Anak di Ruang Digital

Pemerintah resmi memberlakukan Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas) mulai hari ini, Sabtu, 28 Maret 2026. Regulasi ini menandai pengetatan akses anak terhadap platform digital berisiko tinggi, dengan batas usia minimal 16 tahun.

Kebijakan tersebut dibahas dalam rapat antara Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dan Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid di Kantor Sekretariat Kabinet, Jakarta, Jumat (27/3/2026) malam.

Teddy menegaskan implementasi aturan mulai berlaku efektif sehari setelah rapat tersebut.

“Esok, 28 Maret 2026, Indonesia secara efektif mengimplementasikan penundaan usia anak memasuki platform berisiko tinggi hingga usia 16 tahun,” kata Teddy dikutip dari unggahan Instagram Sekretariat Kabinet, Sabtu (28/3/2026).

Menurutnya, sejumlah platform digital telah mulai menyesuaikan diri dengan ketentuan baru tersebut sebagai bagian dari komitmen perlindungan anak di ruang digital.

“Sejumlah platform digital juga mulai mematuhi ketentuan ini sebagai bentuk komitmen terhadap perlindungan anak di ruang digital. Langkah ini menjadi bagian dari upaya Pemerintah untuk memastikan ruang digital yang aman bagi anak-anak Indonesia,” jelasnya.

“Lindungi anak Indonesia. PP TUNAS… tunggu anak siap!!” sambung Teddy.

Di sisi lain, Meutya menegaskan pemerintah tidak akan memberi toleransi terhadap platform yang abai terhadap aturan. Ia menyebut seluruh entitas digital wajib menyesuaikan layanan dan fitur sesuai ketentuan PP Tunas.

“Pemerintah menginstruksikan semua platform digital yang berbisnis di Indonesia untuk segera menyelaraskan produk, fitur, dan layanan sesuai dengan peraturan yang berlaku,” tegas Meutya di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat, Sabtu (28/3/2026).

“Tidak ada kompromi dalam hal kepatuhan, dan bahwa setiap entitas bisnis yang beroperasi di Indonesia wajib mematuhi hukum yang berlaku di Indonesia,” sambung dia.

Meutya juga menyoroti pentingnya prinsip universalitas dalam perlindungan anak di ruang digital. Ia menilai platform global tidak seharusnya menerapkan standar berbeda antarnegara.

“Kami meminta platform untuk memberlakukan prinsip anak yang dipegang penuh yaitu universalitas dan juga nondiskriminatif. Jadi tidak ada pembedaan ‘bahwa aturan perlindungan anak di negara lain diikuti, tapi di negara lainnya tidak diikuti’,” kata Meutya.

Ia meyakini penerapan prinsip tersebut akan mendorong kepatuhan platform digital dalam melindungi anak-anak di Indonesia.

“Pemerintah terus mengimbau platform-platform digital yang belum memenuhi ketentuan PP Tunas untuk segera mengikuti aturan yang berlaku,” kata dia.

Jika ketentuan ini diabaikan, pemerintah menegaskan siap mengambil langkah hukum sesuai regulasi yang berlaku.

“Pemerintah memiliki kewenangan untuk mengambil langkah-langka penegakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan termasuk pengenaan sanksi,” terang Meutya.

Dalam implementasi awal, pemerintah mencatat tingkat kepatuhan platform digital masih beragam. Platform seperti X dan Bigo Live disebut telah mematuhi aturan secara penuh.

Sementara itu, TikTok dan Roblox dinilai kooperatif sebagian. Adapun Facebook, Threads, Instagram, dan YouTube masih belum memenuhi ketentuan yang diatur dalam PP Tunas.

Pemerintah menargetkan seluruh platform digital segera beradaptasi dengan regulasi tersebut, seiring penguatan pengawasan dan penegakan hukum di ruang digital nasional.

Artikel ini ditulis oleh:

Andry Haryanto

Kejagung Tetapkan Samin Tan Tersangka Korupsi Tambang PT AKT

Pemilik PT Asmin Koalindo Tuhup (AKT), Samin Tan duduk di dalam mobil tahanan usai menjalani pemeriksaan di Kejaksaan Agung, Jakarta, Sabtu (28/3/2026). Kejaksaan Agung menetapkan pemilik PT Asmin Koalindo Tuhup (AKT), Samin Tan sebagai tersangka kasus dugaan tindak pidana korupsi penyimpangan dalam pengelolaan pertambangan batu bara di Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah karena tetap melakukan penambangan dan penjualan hasil tambang meskipun izin telah dicabut sejak 2017. ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/wpa./pri.
Pemilik PT Asmin Koalindo Tuhup (AKT), Samin Tan duduk di dalam mobil tahanan usai menjalani pemeriksaan di Kejaksaan Agung, Jakarta, Sabtu (28/3/2026). Kejaksaan Agung menetapkan pemilik PT Asmin Koalindo Tuhup (AKT), Samin Tan sebagai tersangka kasus dugaan tindak pidana korupsi penyimpangan dalam pengelolaan pertambangan batu bara di Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah karena tetap melakukan penambangan dan penjualan hasil tambang meskipun izin telah dicabut sejak 2017. ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/wpa./pri.

Jakarta, aktual.com — Kejaksaan Agung Republik Indonesia menetapkan satu tersangka dalam kasus dugaan korupsi penyimpangan pengelolaan pertambangan di PT Asmin Koalindo Tuhup (AKT), Murung Raya, Kalimantan Tengah. Tersangka tersebut adalah pemilik manfaat (beneficial owner) PT AKT, Samin Tan.

“Menetapkan 1 orang tersangka yakni ST,” ujar Direktur Penyidikan Jampidsus, Syarief Sulaeman Nahdi, dalam konferensi pers, Sabtu (28/3/2026).

Penetapan ini dilakukan setelah penyidik mengantongi bukti yang cukup melalui serangkaian proses, mulai dari pemeriksaan saksi hingga penggeledahan di sejumlah wilayah, termasuk DKI Jakarta, Jawa Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah.

“Penggeledahan masih berlangsung terutama di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan,” kata Syarief.

Samin Tan diketahui sebagai beneficial owner PT AKT, perusahaan kontraktor tambang batu bara yang sebelumnya beroperasi berdasarkan perjanjian PKP2B, namun izinnya telah dicabut sejak 2017.

Meski izin telah dicabut, PT AKT diduga tetap menjalankan aktivitas penambangan dan penjualan batu bara secara ilegal hingga tahun 2025.

“Tersangka ST melalui PT AKT dan afiliasinya secara melawan hukum tetap melakukan pertambangan dan penjualan dengan menggunakan dokumen perizinan yang tidak sah dengan bekerja sama dengan penyelenggara negara yang bertugas melakukan tugas pengawasan terhadap kegiatan pertambangan sehingga merugikan keuangan negara dan/atau perekonomian negara,” lanjut Syarief.

Kerugian negara akibat kasus ini masih dalam proses perhitungan oleh auditor. Sementara itu, tersangka dijerat dengan sejumlah pasal berlapis terkait tindak pidana korupsi dan ketentuan dalam KUHP terbaru.

“ST ditahan selama 20 hari ke depan di Rutan Salemba Cabang Kejaksaan Agung,” sambungnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Media AS Sebut Strategi Militer Negaranya Terjebak Pola Lama Sebabkan Konflik Berkepanjangan, Analisis Rusia: Iran Lebih Cerdik

Rudal balistik darat ke darat dengan jangkauan 2.000 km bernama Khaibar dipamerkan di Tehran, Iran, Kamis (25/3/2023). /ANTARA FOTO/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS/foc.
Rudal balistik darat ke darat dengan jangkauan 2.000 km bernama Khaibar dipamerkan di Tehran, Iran, Kamis (25/3/2023). /ANTARA FOTO/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS/foc.

Jakarta, aktual.com – Strategi militer Amerika Serikat (AS) yang kembali mengandalkan superioritas udara dinilai berisiko mengulang pola lama, yakni janji kemenangan cepat yang berujung konflik berkepanjangan.

Mengacu pada analisis The Guardian, pendekatan ini bukan hal baru. Akar pemikirannya dapat ditelusuri hingga 1921 melalui teori Jenderal Italia Giulio Douhet dalam bukunya The Command of the Air.

Douhet meyakini kemenangan perang bisa diraih lewat pemboman besar-besaran, termasuk terhadap infrastruktur sipil, guna melumpuhkan moral musuh.

“Jauh lebih penting menghancurkan logistik dan infrastruktur dibanding menyerang garis depan,” tulis Douhet dalam teorinya, dikutip The Guardian, Jumat (27/3/2026), sebagaimana dilansir dari CNBC Indonesia.

Pemikiran tersebut kemudian memengaruhi berbagai strategi militer modern, termasuk dalam perang-perang besar yang melibatkan AS. Dalam konteks terkini, retorika agresif Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth terkait operasi udara terhadap Iran dinilai mencerminkan pola serupa.

Hegseth bahkan menyebut serangan udara sebagai pendekatan paling mematikan dan presisi dalam sejarah. “Kuantitas memiliki kualitas tersendiri… ini akan menjadi volume serangan tertinggi yang pernah dilakukan Amerika,” ujarnya.

Namun, menurut analis pertahanan Winslow Wheeler, klaim tersebut lebih banyak soal gaya komunikasi ketimbang substansi strategi baru.

“Yang tidak mereka hargai adalah bahwa sifat manusia tidak berubah,” kata Wheeler.

Ia menilai pemboman justru kerap memicu perlawanan, bukan menyerah. “Serangan Jerman terhadap Inggris tidak melemahkan tekad, justru menyatukan mereka,” katanya.

Sejarah Buktikan Serangan Udara Tak Selalu Efektif

Sejarah pun mencatat, dominasi udara kerap gagal memberikan kemenangan mutlak. Dalam Perang Vietnam, misalnya, teknologi sensor canggih AS untuk memutus jalur logistik Ho Chi Minh berhasil diakali dengan cara sederhana, termasuk penggunaan air kencing hewan untuk mengelabui detektor.

Sementara itu, dalam Perang Teluk 1991, klaim keberhasilan tinggi dari pesawat siluman F-117A terbukti dilebih-lebihkan. Studi Kantor Akuntabilitas Pemerintah AS (GAO) menemukan tingkat keberhasilan hanya sekitar 41%-60%, jauh dari klaim awal 80%.

Kampanye udara NATO di Kosovo pada 1999 juga menunjukkan keterbatasan serupa. Berdasarkan laporan yang dikutip The Guardian, ribuan serangan hanya berhasil merusak sebagian kecil target militer Serbia.

Fenomena ini berlanjut dalam invasi Irak 2003 melalui strategi “shock and awe”. Meski diawali dengan ribuan bom presisi, serangan udara gagal menggulingkan rezim Saddam Hussein tanpa intervensi darat.

Analisis The Guardian menekankan, klaim teknologi canggih, termasuk penggunaan kecerdasan buatan (AI), tidak serta-merta mengubah hasil perang. Meski Hegseth menyebut sistem otonom dan AI kini terintegrasi dalam operasi militer, efektivitasnya tetap dipertanyakan.

“Teknologi semakin canggih, tetapi tidak mengubah bagaimana manusia bereaksi di medan perang,” ujar Wheeler.

Dengan demikian, ketergantungan pada kekuatan udara dinilai berpotensi menjadi ilusi lama yang terus berulang.

Alih-alih menghadirkan kemenangan cepat, strategi ini justru berisiko menyeret AS ke konflik yang lebih kompleks dan berkepanjangan.

Serangan Udara AS-Zionis Israel Ancam Stabilitas Global, Iran Lebih Cerdik

Sebelumnya, Murad Sadygzade, Presiden Pusat Studi Timur Tengah, sekaligus Dosen Tamu di HSE University Moskow menyampaikan, serangan udara besar-besaran yang diluncurkan AS dan Zionis dan Israel ke jantung pertahanan Iran yang awalnya diprediksi sebagai operasi kilat dan menentukan, kini justru mengancam stabilitas dunia.

Operasi yang dirancang untuk melumpuhkan pusat saraf Teheran ini berisiko menyeret lebih banyak negara ke dalam pusaran konflik yang tak berkesudahan.

Sadygzade menganalisis, pada jam-jam pertama serangan, Washington (AS) dan Yerusalem Barat (Zionis Israel) membangun narasi strategis tentang kontrol penuh yang bersifat psikologis dan menentukan.

“Logika yang disimpulkan oleh banyak analis dari pola pembukaan serangan ini bukan sekadar merusak fasilitas, melainkan untuk memutuskan sistem saraf negara Iran, menyerang tulang punggung komando, otak koordinasi, dan simbol-simbol yang mengikat otoritas militer dan politik dalam satu rantai,” ujar Sadygzade dalam tulisannya di Russia Today (RT) dikutip CNBC Indonesia, Selasa (10/3/2026).

Laporan media, termasuk akun detail dari outlet utama Inggris, menggambarkan gelombang pertama sebagai aksi gabungan AS-Zionis Israel yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran serta sejumlah besar tokoh militer senior. Hasil ini sesuai dengan templat serangan dekapitasi (pemenggalan kepemimpinan), meskipun detail operasionalnya masih diperdebatkan di publik.

Namun, Sadygzade menekankan, blitzkrieg atau perang kilat tidak ditentukan oleh bagaimana ia dimulai, melainkan seberapa cepat ia berakhir sesuai keinginan penyerang. Dalam kasus ini, koreografi tersebut hancur berantakan karena Iran memilih untuk memberikan perlawanan yang tersebar secara geografis.

“Iran, alih-alih memilih syok strategis atau protes ritual, tampaknya telah mengambil keputusan yang lebih berbahaya untuk menjawab secara berkelanjutan dan terdistribusi, mengubah konfrontasi dari satu teater menjadi uji tekan seluruh wilayah terhadap pertahanan udara, perlindungan angkatan laut, keamanan pangkalan, dan kohesi politik,” tuturnya.

Efek politik dari alarm yang terus-menerus, gangguan lalu lintas, dan dampak serangan yang berulang memiliki kekuatan korosif. Hal ini memaksa setiap pemerintah di wilayah tersebut untuk mempertanyakan berapa lama pasar, warga negara, dan koalisi internal mereka dapat bertahan sebelum akhirnya retak.

Sadygzade juga menilai, ketika perang menjadi kontes ketahanan, fokusnya bukan lagi hanya pada platform dan amunisi, melainkan pada stok, anggaran, logistik, dan kesediaan mitra untuk tetap membuka pintu. Hal inilah yang membuat front diplomatik kini menjadi sama pentingnya dengan front kinetik di medan perang.

“Itulah sebabnya front diplomatik mulai menjadi sepenting front kinetik. Jika ekspektasi awal adalah kampanye singkat dengan dampak politik terbatas, kenyataan saat ini terlihat lebih dekat pada perjuangan di mana Washington dan Zionis Israel membutuhkan jalan keluar yang tidak menyerupai kekalahan,” kata Sadygzade.

Dalam situasi terjepit, insting untuk memperlebar lingkaran partisipan menjadi sangat kuat guna mendapatkan lebih banyak opsi pangkalan, rute pengisian ulang, dan perlindungan diplomatik.

Namun, upaya perekrutan ini menabrak dinding penolakan keras, bahkan dari dalam kamp Barat sendiri, seperti yang ditunjukkan oleh Spanyol.

“Spanyol muncul sebagai contoh Eropa yang paling jelas dalam menarik garis kebijakan publik. Perdana Menteri Pedro Sanchez menolak penggunaan pangkalan Spanyol untuk serangan terhadap Iran, membingkai sikap Spanyol sebagai penolakan untuk menjadi kaki tangan dalam eskalasi,” jelas Sadygzade.

Tindakan Madrid ini diikuti oleh relokasi pesawat AS dari Spanyol selatan, yang menandakan posisi Madrid memiliki bobot operasional yang nyata. Respons Washington sendiri bergeser cepat ke bahasa tekanan, di mana Presiden Donald Trump secara terbuka mengancam konsekuensi perdagangan sebagai hukuman atas ketidakpatuhan tersebut.

Sadygzade juga menyoroti posisi London yang lebih kompleks namun mengungkapkan adanya keretakan internal. Pemerintah Inggris menekankan tidak terlibat dalam serangan awal, meski memperluas penyebaran pertahanan seiring meluasnya pembalasan Iran ke negara-negara yang tidak ikut serta dalam serangan pembuka.

“Media melaporkan bentrokan politik di mana Trump mengkritik Perdana Menteri Inggris Keir Starmer karena penolakan awal untuk mengizinkan penggunaan pangkalan Inggris bagi tindakan ofensif. Laporan Inggris menggambarkan resistensi kabinet internal yang membatasi ruang gerak Starmer hingga postur bergeser ke arah pertahanan,” tambahnya.

Di tingkat regional, dampaknya jauh lebih sensitif. Mitra tradisional AS di Teluk membangun stabilitas domestik mereka di atas janji keamanan dan ekspor yang dapat diandalkan. Perang yang berkepanjangan menghancurkan kedua pilar tersebut, terutama dengan lumpuhnya Selat Hormuz yang merupakan jantung ekonomi kawasan.

“Jika Hormuz secara efektif tidak dapat digunakan, narasi investasi goyah, biaya asuransi melonjak, kontrak pasokan terganggu, dan citra Teluk sebagai simpul aman dalam perdagangan global mulai terlihat seperti mitos yang rapuh. Dampaknya tidak hanya memukul ekonomi lokal tetapi juga konsumen besar seperti China,” papar Sadygzade.

Ketegangan mencapai puncaknya saat infrastruktur energi seperti fasilitas Ras Tanura di Arab Saudi dan kompleks industri Ras Laffan di Qatar menjadi sasaran.

QatarEnergy bahkan secara resmi menghentikan produksi LNG setelah serangan militer terhadap fasilitas operasi mereka. Hal ini memicu perdebatan mengenai siapa yang sebenarnya diuntungkan dari persepsi bahwa Iran menyerang tetangganya.

“Pertanyaan strategisnya bukan hanya siapa yang bisa memukul target tersebut, tapi siapa yang diuntungkan dari persepsi bahwa Iran bersedia memukul mereka. Jika Teheran mencoba mencegah negara-negara Teluk menjadi kombatan aktif, maka memukul garis hidup ekonomi tetangga yang ragu-ragu terlihat merugikan diri sendiri,” ulasnya.

Muncul dugaan adanya operasi bendera palsu (false flag) atau sabotase yang dirancang untuk memaksa monarki Teluk turun tangan.

Sadygzade mencatat adanya laporan penangkapan individu yang diduga terkait intelijen Zionis Israel di Arab Saudi dan Qatar, meski basis buktinya masih beragam dan penuh klaim yang saling bertentangan.

Kekacauan ini semakin parah dengan insiden di perbatasan utara, termasuk pencegahan amunisi balistik di wilayah Turki dan serangan drone di dekat sekolah di Azerbaijan.

Meskipun tuduhan mengarah ke Teheran, Iran secara konsisten membantah keterlibatan mereka dan menuding Zionis Israel sebagai provokator untuk menciptakan musuh baru bagi Iran.

“Ini sebabnya motif Washington dan Zionis Israel dalam perluasan koalisi tampak lebih koheren secara struktural daripada ide bahwa Iran sengaja mencoba mengumpulkan musuh regional baru. Jika peserta baru ditarik ke sisi Barat, tekanan pada Iran meningkat dan narasi dapat diubah dari agresi sepihak menjadi pertahanan kolektif,” tegas Sadygzade.

Ia pun memperingatkan, jika Washington dan Zionis Israel gagal merekrut dukungan yang berarti, kredibilitas jaminan keamanan AS akan hancur.

Di dalam negeri AS sendiri, perang yang berkepanjangan menjadi ujian keberlanjutan politik, terutama dengan adanya manuver Kongres untuk membatasi kekuasaan perang presiden.

“Bahaya yang lebih dalam bukan hanya rasa malu politik, melainkan ledakan regional. Begitu infrastruktur energi dan titik sumbat pelayaran menjadi target berulang, perang memperoleh logika penularan. Kematian pemimpin tertinggi Iran bukan hanya peristiwa militer, tapi serangan terhadap pusat gravitasi politik-agama,” kata Sadygzade menutup analisisnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eroby Jawi Fahmi

Penyerangan dengan Air Keras: Pemulihan Aktivis KontraS Andrie Yunus Diperkirakan Hingga Dua Tahun

Foto dua terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Andrie Yunus ditampilkan pada konferensi pers di Jakarta, Rabu (18/3/2026). ANTARA/Ilham Kausar/aa.
Foto dua terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Andrie Yunus ditampilkan pada konferensi pers di Jakarta, Rabu (18/3/2026). ANTARA/Ilham Kausar/aa.

Jakarta, aktual.com — Aktivis KontraS, Andrie Yunus, masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit akibat penyerangan dengan air keras. Proses pemulihannya diperkirakan berlangsung panjang dan memerlukan penanganan medis berkelanjutan.

Hal ini disampaikan oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) setelah menerima laporan medis lengkap dari tim dokter RSCM Jakarta. Ketua Komnas HAM, Anis Hidayah, bersama komisioner lainnya juga telah meninjau langsung kondisi korban.

“Informasinya sangat mendalam sesuai dengan yang dibutuhkan Komnas HAM terkait dampak medis dan juga dampak psikologis,” kata Anis, dikutip Antara, Kamis (26/3).

Berdasarkan data medis, korban mengalami iskemia atau berkurangnya aliran darah pada sekitar 40 persen area sklera mata kanan, yang menyebabkan penipisan jaringan serta inflamasi yang masih berlangsung.

Tim medis telah melakukan serangkaian tindakan terpadu yang melibatkan dokter spesialis mata dan bedah plastik. Prosedur tersebut mencakup pemindahan jaringan intraokular, pemasangan membran amnion, hingga penanganan luka bakar melalui debridement dan cangkok kulit di beberapa bagian tubuh. Penanganan juga difokuskan pada upaya mempertahankan fungsi bola mata kanan serta mengendalikan peradangan dengan pemantauan intensif.

Komnas HAM menilai bahwa pemulihan korban membutuhkan waktu panjang, termasuk operasi lanjutan dan perawatan berkelanjutan. Hingga saat ini, perkembangan kondisi mata masih dalam tahap analisis sehingga belum dapat disimpulkan secara final.

Komisioner Mediasi Komnas HAM, Pramono Ubaid Tanthowi, menjelaskan bahwa pendalaman dilakukan untuk memastikan kondisi korban sejak awal dirawat hingga rencana pemulihan ke depan.

“Kami mendapatkan informasi terkait kondisi Saudara AY sejak dari awal masuk rumah sakit sampai penanganan terakhir,” ujar Pramono.

Ia juga menambahkan bahwa Komnas HAM mendalami dampak zat kimia tersebut, baik dalam jangka pendek maupun panjang, mencakup aspek fisik dan psikologis. Menurutnya, langkah medis yang dilakukan sudah berjalan secara intensif dan terukur.

“Tindakan medis sejauh ini kami melihat sudah sangat baik, sangat intensif,” ujarnya.

Sementara itu, Komisioner Pemantauan dan Penyelidikan Komnas HAM, Saurlin P Siagian, mengungkapkan bahwa luka yang dialami korban dikategorikan sebagai luka bakar akibat paparan zat kimia asam kuat.

“Operasi masih terus berlanjut dan akan berlangsung enam bulan sampai dua tahun ke depan untuk pemulihan,” ujar Saurlin, dikutip Antara, Jumat (27/3/2026).

Ia menjelaskan bahwa enam bulan pertama merupakan fase krusial dalam menentukan arah pemulihan, khususnya untuk melihat stabilitas luka dan respons tubuh terhadap tindakan medis lanjutan.

Komnas HAM juga menekankan pentingnya penggunaan istilah medis yang lebih akurat dalam kasus ini, menggantikan istilah populer yang selama ini digunakan.

“Pertama, luka bakar akibat disiram zat kimia asam kuat. Jadi mungkin ini adalah istilah yang bisa resmi kita pakai bersama-sama untuk publik,” ujar Saurlin.

Menurutnya, penggunaan istilah berbasis medis penting untuk memastikan pemahaman yang tepat terkait karakter luka, sekaligus menjadi dasar dalam penanganan hukum dan medis.

Ia juga menambahkan bahwa luka bakar dengan tingkat di atas 20 persen membutuhkan waktu pemulihan yang panjang, bahkan bisa mencapai dua tahun.

“Operasi masih terus berlanjut dan masih akan terus berlanjut operasinya dan akan berlangsung enam bulan sampai dua tahun ke depan untuk pemulihan 20 persen luka bakar,” kata Saurlin.

Komnas HAM memastikan bahwa pembiayaan pengobatan korban telah mendapat dukungan dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), guna menjamin keberlanjutan proses perawatan.

“Kemudian kami mendapat konfirmasi bahwa pembiayaan alhamdulillah di-cover oleh LPSK,” ujar Saurlin.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

DPR Apresiasi Mundurnya Kabais TNI Pasca Penyerangan Aktivis KontraS, Tekankan Penegakan Hukum Tetap Dilanjutkan

Jakarta, Aktual.com – Anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin, mengapresiasi mundurnya Kepala Badan Intelijen Strategis (Kabais) TNI, Letnan Jenderal TNI Yudi Abrimantyo, terkait kasus penyerangan air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus. Ia menilai keputusan itu menjadi contoh tanggung jawab moral yang baik.

“Ini menjadi contoh yang baik dan semoga bisa ditiru oleh kita semua,” ujar TB Hasanuddin dalam keterangan tertulis, Sabtu (28/03/2026).

Politikus PDI Perjuangan itu memuji sikap Yudi Abrimantyo yang mengambil tanggung jawab atas pelanggaran yang dilakukan bawahannya, sekaligus menunjukkan integritas dan akuntabilitas dalam menjalankan tugas.

Meski demikian, TB Hasanuddin menegaskan bahwa pengunduran diri Kabais tidak boleh menghentikan proses penegakan hukum. Ia menambahkan bahwa pengusutan perlu mencakup tidak hanya pelaku di lapangan, tetapi juga aktor yang merancang atau berada di balik peristiwa tersebut.

“Ini penting agar tidak menimbulkan pertanyaan dan kekecewaan di tengah masyarakat,” tegasnya.

Politikus senior itu juga menekankan peran DPR dalam pengawasan, termasuk melalui tim atau mekanisme pengawasan intelijen, untuk memastikan kasus ini jelas dan terbuka bagi publik.

Sebelumnya, Markas Besar TNI menyampaikan bahwa jabatan Kabais yang dijabat Letjen TNI Yudi Abrimantyo telah diserahkan. Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Mabes TNI, Mayjen TNI Aulia Dwi Nasrullah, mengatakan,

“Sebagai bentuk pertanggungjawaban hari ini telah dilaksanakan penyerahan jabatan Kabais.” Namun, pihak TNI belum menjelaskan secara rinci pengganti Kabais yang baru maupun detail lainnya terkait kasus tersebut.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi

Berita Lain