12 April 2026
Beranda blog Halaman 278

Indonesia Tolak Permintaan AS Beli Drone dalam Negosiasi Dagang

Jakarta, aktual.com – Indonesia menolak tuntutan Amerika Serikat untuk membeli drone buatan AS sebagai bagian dari perjanjian perdagangan antara kedua negara, demikian dilaporkan surat kabar The Straits Times dengan mengutip sumber-sumber terkait.

Indonesia telah menyetujui sejumlah besar persyaratan yang diajukan Amerika Serikat dalam perundingan perdagangan, termasuk rencana untuk mengimpor bahan bakar dari AS sebagai pengganti Singapura, menurut laporan tersebut pada Rabu (28/1).

Namun demikian, Indonesia menolak ketentuan yang dinilai melanggar konstitusi, termasuk tuntutan untuk membeli drone AS guna mengawasi Laut China Selatan, tambah laporan itu.

Menurut surat kabar tersebut, kedua pihak hampir mencapai kesepakatan untuk menurunkan tarif AS dari 32 persen menjadi 19 persen. Indonesia juga dilaporkan berencana melonggarkan pembatasan impor mobil asal Amerika serta menghapus hambatan terhadap pasokan peralatan teknologi dan medis dari AS.

Perundingan antara kedua pihak masih berlangsung dan saat ini berfokus pada finalisasi kesepakatan serta penyelesaian masalah-masalah administratif, demikian isi laporan tersebut.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Mengurai Peran Sekolah Negarawan dan Partai Politik dalam Demokrasi yang Sehat

Rinto Setiyawan, Ketua Umum IWPI, Anggota Majelis Tinggi Partai X, Wakil Direktur Sekolah Negarawan X Institute

Oleh: Rinto Setiyawan , A.Md., S.H., CTP (Ketua Umum Ikatan Wajib Pajak Indonesia, Anggota Majelis Tinggi Partai X, Wakil Direktur Sekolah Negarawan)

Jakarta, aktual.com – Salah satu problem mendasar demokrasi Indonesia hari ini bukan terletak pada kurangnya pemilu, melainkan pada kaburnya peran antar-institusi dan jalur pembentukan kepemimpinan. Semua seolah diserahkan pada mekanisme elektoral, sementara pertanyaan paling mendasar jarang diajukan: siapa yang seharusnya menjaga negara, dan siapa yang seharusnya menjalankan pemerintahan?

Di titik inilah pentingnya mengurai secara jernih peran Sekolah Negarawan, partai politik, dan demokrasi agar tidak saling tumpang tindih.

Sekolah Negarawan pada dasarnya bukan lembaga politik praktis. Ia tidak didesain untuk mencetak pemenang pemilu, melainkan mendidik calon negarawan, sosok yang memahami negara sebagai amanah rakyat, konstitusi sebagai perjanjian bersama, dan kekuasaan sebagai tanggung jawab moral. Dalam analogi rumah tangga kenegaraan, negarawan adalah kepala negara, atau suami rakyat, yang bertugas menjaga arah, nilai, dan keselamatan rumah bersama bernama negara.

Negarawan tidak bekerja di dapur kekuasaan sehari-hari. Ia tidak sibuk membagi anggaran, mengatur birokrasi teknis, atau mengelola administrasi rutin. Tugasnya adalah menjaga kedaulatan rakyat, memastikan aturan hidup bersama ditegakkan, dan mengawasi agar pemerintahan tidak menyimpang dari tujuan keadilan dan kesejahteraan.

Berbeda dengan itu, partai politik memang memiliki fungsi yang sah dan penting, yakni menyiapkan calon pejabat pemerintahan. Partai melatih kadernya untuk mengelola kekuasaan, menjalankan kebijakan publik, dan memimpin birokrasi. Dalam analogi yang sama, peran ini setara dengan kepala pemerintahan, atau asisten rumah tangga rakyat, pelaksana tugas yang dipekerjakan untuk mengurus kebutuhan operasional rumah.

Masalah muncul ketika partai politik tidak berhenti sebagai penyiap pelaksana pemerintahan, tetapi sekaligus mengklaim diri sebagai penentu arah negara. Ketika kepala pemerintahan diperlakukan seolah-olah juga kepala negara. Pada titik ini, negara kehilangan penjaga nilai, dan demokrasi berubah menjadi sekadar kompetisi kekuasaan tanpa pengawasan substantif.

Demokrasi yang sehat seharusnya ditempatkan secara proporsional. Demokrasi bukan alat untuk memilih pemilik negara, melainkan proses untuk memilih pelaksana pemerintahan. Dalam kerangka ini, demokrasi adalah mekanisme pemilihan pejabat pemerintahan dan kepala pemerintahan, setelah terlebih dahulu diseleksi melalui musyawarah oleh para negarawan, yakni mereka yang bertugas menjaga kedaulatan rakyat dan arah negara.

Musyawarah di sini bukan nostalgia masa lalu, melainkan proses kebijaksanaan. Ia memastikan bahwa calon-calon pelaksana pemerintahan yang diajukan ke rakyat telah memenuhi standar moral, kapasitas, dan kesetiaan pada konstitusi. Demokrasi kemudian bekerja untuk memberikan mandat operasional, bukan legitimasi kepemilikan negara.

Dengan pembagian peran yang jelas ini, tidak ada satu pun institusi yang merasa paling berkuasa. Sekolah Negarawan menjaga negara, partai politik menyiapkan pemerintahan, dan demokrasi menjadi mekanisme legitimasi pelaksana. Rakyat tetap menjadi pemilik kedaulatan, bukan sekadar pemilih lima tahunan.

Demokrasi tanpa negarawan akan kehilangan

gan arah. Sebaliknya, negarawan tanpa demokrasi akan kehilangan legitimasi. Keduanya harus berjalan berdampingan, dengan partai politik berada pada peran yang tepat: sebagai penyedia pelaksana kekuasaan, bukan penentu kedaulatan.

Jika peran-peran ini ditempatkan secara benar, demokrasi tidak lagi bising tetapi hampa. Ia menjadi tenang namun bermakna. Negara pun kembali bekerja sebagai rumah bersama, dijaga oleh negarawan, dikelola oleh pemerintahan, dan dimiliki sepenuhnya oleh rakyat.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Menkeu Nilai Trading Halt IHSG Efek Kejut Sementara, Optimistis Tembus 10.000 Akhir 2026

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni (batik), dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (jas) usai menandatangani nota kesepahaman untuk meningkatkan PNBP di sektor kehutanan, di Jakarta, Rabu (29/10/2025). Foto: Nur Aida Nasution/Aktual.com

Jakarta, aktual.com – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menilai penghentian sementara perdagangan (trading halt) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang kedua kalinya merupakan efek kejut (shock) sementara di pasar.

Ia memperkirakan tekanan tersebut hanya berlangsung singkat, sekitar dua hingga tiga hari saja.

“Ini mungkin orang shock akan possibility. Kita pasarnya dianggap pasar frontier level. Tapi saya kira enggak akan turun ke sana karena fondasi kita bagus,” kata Purbaya saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Kamis (29/1).

Menurut dia, gejolak di pasar saham tidak mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia secara keseluruhan. Dirinya juga menyoroti pergerakan saham-saham spekulatif yang sejak lama diingatkan untuk dibersihkan dari bursa.

“Kalau yang jatuh bursa saham-saham gorengan kan saya sudah ingatkan dari dulu, bersihkan bursa dari saham gorengan kan. Tapi yang (saham) besar-besar kan masih ada, yang saham-saham blue chip. Kalau anda takut lari aja ke situ,” ujar dia.

Sebagaimana diketahui, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan saham pada Kamis, pukul 09.26 WIB, dalam sistem Jakarta Automated Trading System (JATS) setelah IHSG anjlok hingga 8 persen.

Pada saat itu, IHSG tercatat turun 665,89 poin atau 8,00 persen ke level 7.654,66. Sesuai ketentuan, perdagangan dilanjutkan kembali pada pukul 09.56 WIB tanpa perubahan jadwal sesi perdagangan.

Menkeu Purbaya memandang tekanan pasar utamanya dipengaruhi sentimen terkait evaluasi indeks oleh MSCI terhadap transparansi bursa efek Indonesia. Dirinya mengatakan sejumlah catatan yang disampaikan akan ditindaklanjuti oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai pengawas.

Meski terjadi trading halt hingga dua kali, ia mengatakan tetap optimistis kinerja IHSG ke depan akan menguat bisa menembus level 10.000 pada akhir 2026.

“Optimistis (IHSG) 10.000. Enggak usah takut,” ujar Purbaya.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

IHSG Anjlok Dua Hari Berturut-turut, Menkeu Sebut OJK Turun ke Bursa

Ilustrasi perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Aktual/HO

Jakarta, Aktual.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dijadwalkan mendatangi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis siang (29/1/2026), menyusul penghentian sementara perdagangan saham (trading halt) yang kembali terjadi pada pagi hari. Langkah ini diambil setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 8 persen dan memicu trading halt kedua dalam dua hari berturut-turut.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan kehadiran Ketua OJK di bursa bertujuan merespons kondisi pasar yang tengah bergejolak. “Nanti Pak Mahendra mungkin akan bicara siang ini di bursa,” katanya saat ditemui awak media di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat.

Purbaya menilai tekanan di pasar saham lebih disebabkan oleh faktor sentimen dan bersifat sementara, bukan mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi nasional. Ia menyebut kepanikan investor dipicu kekhawatiran atas penilaian indeks global terhadap transparansi dan free float saham Indonesia, meski proses perbaikan masih berlangsung.

Sebelumnya, BEI menghentikan sementara perdagangan saham pada pukul 09.26.01 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS) setelah IHSG turun 8 persen ke level 7.654,66. Penghentian dilakukan kurang dari 30 menit sejak pembukaan perdagangan akibat tekanan jual yang masif.

Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, menjelaskan trading halt dilakukan sesuai ketentuan bursa untuk menjaga perdagangan tetap teratur dan wajar. “Tindakan ini dilakukan karena terdapat penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencapai delapan persen,” ujar Kautsar.

BEI kemudian membuka kembali perdagangan pada pukul 09.56.01 waktu JATS tanpa perubahan jadwal sesi perdagangan. Mekanisme tersebut menjadi bagian dari pengendalian volatilitas di tengah tekanan pasar.

Berdasarkan pantauan Aktual.com, hingga sekitar pukul 12.30 WIB, IHSG mulai memangkas pelemahan dan bergerak di level 7.828,47. Pergerakan ini menunjukkan pasar mulai mencari titik keseimbangan setelah dua hari berturut-turut berada dalam tekanan jual yang tajam.

(Nur Aida Nasution)

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi

Hamas Siap Lepas Kendali Gaza ke Komite Teknokrat, Desak Rafah Dibuka Penuh

Pasukan Brigade Al Qassam, dari sayap militer Hamas - foto X

Jakarta, aktual.com – Kelompok Hamas menyatakan kesiapannya untuk menyerahkan pengelolaan pemerintahan di Jalur Gaza kepada sebuah komite teknokrat Palestina. Di saat yang sama, Hamas menuntut agar perlintasan perbatasan Rafah segera dibuka kembali sepenuhnya dalam waktu dekat.

Dikutip dari AFP, Kamis (29/1/2026), pengelolaan Gaza pascaperang akan dijalankan oleh Komite Nasional untuk Pemerintahan Gaza (NCAG) yang beranggotakan 15 orang. Komite teknokrat ini dibentuk sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata yang disponsori Amerika Serikat dan mulai berlaku sejak 10 Oktober lalu.

“Protokol telah disiapkan, berkas telah lengkap, dan komite telah dibentuk untuk mengawasi penyerahan, memastikan transfer pemerintahan yang lengkap di Jalur Gaza di semua sektor kepada komite teknokrat,” kata juru bicara Hamas, Hazem Qassem, kepada AFP.

NCAG dirancang untuk menangani roda pemerintahan harian di Gaza setelah konflik, dan akan berada di bawah pengawasan Dewan Perdamaian yang dipimpin Presiden AS Donald Trump.

Komite tersebut dipimpin oleh Ali Shaath, mantan wakil menteri Otoritas Palestina, dan direncanakan masuk ke Jalur Gaza setelah perlintasan Rafah di perbatasan Mesir dibuka kembali.

Qassem menegaskan Hamas menginginkan pembukaan Rafah tanpa pembatasan. Menurutnya, perlintasan tersebut “harus dibuka di kedua arah, dengan kebebasan penuh untuk keluar dan masuk ke Jalur Gaza, tanpa hambatan dari Israel.”

Rafah merupakan satu-satunya pintu keluar-masuk Gaza yang tidak terhubung langsung dengan Israel, sekaligus jalur vital bagi pergerakan warga dan distribusi logistik.

Perlintasan itu ditutup sejak pasukan Israel menguasainya pada Mei 2024. Meski sempat dibuka terbatas pada awal 2025, berbagai upaya untuk membuka kembali secara penuh belum membuahkan hasil.

Sebelumnya, Kepala NCAG Ali Shaath menyatakan bahwa perlintasan Rafah direncanakan kembali beroperasi dua arah dalam waktu dekat, menyusul kesepakatan gencatan senjata yang berlaku.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Mediasi Guru SD Pamulang dengan Orang Tua Murid Buntu, Laporan Polisi Tetap Berlanjut

Ilustrasi Laporan Polisi (net)

Jakarta, aktual.com – Upaya mediasi antara guru sekolah dasar di Pamulang, Tangerang Selatan, Christiana Budiyati atau Bu Budi, dengan orang tua murid yang melaporkannya ke polisi dinyatakan tidak mencapai kesepakatan. Orang tua siswa tetap melanjutkan laporan terkait dugaan kekerasan verbal terhadap anaknya.

Mediasi dipimpin langsung Kapolres Tangerang Selatan AKBP Boy Jumalolo di Mapolres Tangerang Selatan pada Rabu malam, 28 Januari 2026. Dalam pertemuan tersebut, Bu Budi menyampaikan permohonan maaf kepada siswa dan orang tua.

“Terlapor meminta maaf kepada anak dan orang tua apabila membuat sedih, kecewa atas perbuatan dan perkataan bu Budi selama ini tapi niatan saya untuk kebaikan anak,” kata Boy, Kamis (29/1/2026).

Meski permohonan maaf telah disampaikan, Kapolres mengungkapkan pihak pelapor memilih tetap menempuh jalur hukum.

“Untuk saat ini pelapor memutuskan untuk tetap melanjutkan Laporan Polisi yang sudah dilaporkan di Polres Tangerang Selatan. Pelapor akan menggunakan Hak jawab kepada media,” ujar Boy.

Kendati demikian, ruang mediasi atau pendekatan restorative justice disebut masih terbuka jika kedua belah pihak bersedia.

Mediasi tersebut dihadiri oleh terlapor dan pelapor, serta disaksikan oleh perwakilan KPAI, unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), serta Dinas Pendidikan Kota Tangerang Selatan.

Kasus ini sebelumnya menyita perhatian publik setelah seorang guru SD swasta di Pamulang dilaporkan orang tua murid lantaran menegur siswa. Perkara tersebut viral di media sosial seiring beredarnya petisi bertajuk *“Keadilan Untuk Seorang Guru”* yang diunggah melalui akun Instagram @dinogabrl.

Petisi yang dibuat oleh Elis Siagian menyebut tindakan Bu Budi merupakan bagian dari tugas pendidik dalam membina karakter siswa, bukan bentuk kekerasan verbal sebagaimana dituduhkan.

Peristiwa bermula pada Agustus 2025 saat kegiatan lomba sekolah. Seorang murid terjatuh setelah meminta digendong temannya, namun tidak segera ditolong oleh siswa lain hingga akhirnya dibantu orang tua murid yang berada di lokasi. Menyikapi kejadian itu, Bu Budi sebagai wali kelas memberikan teguran dan nasihat secara umum di dalam kelas.

“TIdak ada satu kata kasar pun yang terucap. Lagi pula teguran tersebut tidak ditujukan kepada satu murid secara personal, melainkan sebagai pembelajaran bersama bagi seluruh kelas,” tulis penjelasan dalam petisi tersebut.

Kasus ini pun memantik perdebatan publik terkait batasan antara pembinaan karakter di sekolah dan dugaan kekerasan verbal dalam dunia pendidikan.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Berita Lain