9 April 2026
Beranda blog Halaman 35870

LSM Pekat Laporkan ICW Terima Dana Asing ke Bareskrim

Jakarta, Aktual.co — Lembaga Swadaya Masyarakat dari Pekat Indonesia Bersatu telah melaporkan Indonesia Corruption Watch ke Badan Reserse Kriminal Mabes Polri. Pelaporan itu terkait aliran dana dari pihak asing yang diduga mendanai ICW.
ICW dilaporkan dengan dugaan tindak pidana pencucian uang dan tindak pidana pokok penggelapan, sesuai dengan  laporan LP/66/2015/Bareskrim tertanggal 19 Januari 2015, dengan pelapor bernama S Hidayat Hasibuan.
Dalam laporan itu, pada Juli 2010 hingga Maret 2012, pihak pelapor menemukan bukti ICW diduga menerima aliran dana sebesar US $ 45.470 atau setara dengan Rp 409.230.000 dari Bloomberg Initiative di AS yang didirikan oleh Michael Bloomberg.
Dana tersebut diberikan untuk kampanye antirokok pada anak-anak Indonesia. Padahal diketahui ICW adalah lembaga pemantau korupsi di Indonesia. Bukan lembaga yang mengawasi masalah penggunaan rokok pada anak.
“‎Kami melihat banyak aliran dana asing yang masuk ke rekening mereka. Saya harap Bareskrim bisa periksa ICW dalam 1-2 hari ini. Saya yakin Polri mampu tangani kasus ini, Polri sekarang cukup beda dan lebih baik,” kata Ketua LSM Pekat Lisman Hasibuan di Mabes Polri, Rabu (27/5).
Selain itu, kata dia, maksud kedatangnya ke Bareskrim ini sekaligus untuk pemeriksaan tambahan. Sebelumnya, dia juga mengaku sudah pernah dipanggil Bareskrim untuk diperiksa sebagai saksi pelapor.
“Tadi saya diperiksa untuk diambil keterangan tambahan. Ini pemeriksaan kedua saya,” kata Lisman.

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu

Walubi: Pemerintah Myanmar Adopsi Prinsip Kewarganegaraan Tidak Rasialis

Jakarta, Aktual.co —Pernyataan sikap bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI), Forum Silahturahmi Ta’mir Masjid dan Musholla Indonesia (MPP FAHMI TAMAMI) dengan perwakilan Umat Budha menyatakan, sikap keprihatinannya yang mendalam atas tragedi kemanusiaan terdamparnya etnis Rohingya di wilayah Aceh dan Sumatera Utara.

Demikian dikatakan oleh Arief Harsono. MM.MPd.B, Perwakilan Umat Budha Indonesia (WALUBI) ucapkan terima kasih atas kerjasama tersebut yang merupakan bentuk untuk melakukan kegiatan kemanusiaan dalam meringankan beban para pengungsi Rohingya, yang sekarang berada di Tanah Air.

“Tanpa bermaksud mencampuri urusan dalam negeri Republik Persatuan Myanmar, kami menghimbau agar pemerintah Myanmar secepatnya dapat mengambil langkah-langkah yang fundamental dalam menyelesaikan masalah Rohingya di negaranya. Antara lain dengan mengadopsi prinsip-prinsip dasar kewarganegaraan yang tidak rasialis dan diskriminatif, sehingga tidak terjadi eksodus berupa mengalirnya manusia perahu secara terus menerus yang bertentangan dengan asas kemanusiaan,” paparnya ditemui di gedung Berca, kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Rabu (27/5).

Lebih lanjut, kata Arief, sehubungan dengan hal tersebut, pemerintah turut ambil bagian dalam menggalang dukungan serta kerjasama antar negara ASEAN, sekaligus menangani permasalahan pengungsi Rohingya dan status kewarganegaraannya.

“Jadi bentuk kesepakatan ini hanya bermaksud melakukan kegiatan kemanusiaan meringankan beban para pengungsi Rohingya, tandasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Ini Kecintaan Kabareskrim ke KPK

Jakarta, Aktual.co — Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi saat ini menjadi sorotan, karena penyidik yang bernaung di KPK dinilai ilagal. Hal tersebut pun tertuang di persidangan gugatan praperadilan Hadi Poernomo.
Meski para penyidik dianggap ilegal, Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri Komjen Polisi Budi Waseso tetap mencintai lembaga yang semangat memberantas korupsi itu.
“Iyalah, mau bagaimanapun saya tetap cinta KPK,” kata Komjen Budi Waseso di Mabes Polri, Rabu (27/5).
Dia pun berjanji akan memberikan bantuan penyidik ke KPK. Hal itu dilakukan untuk menyelesaikan penyidik KPK yang ilegal, dan memberantas korupsi.
“Kami sudah siapkan penyidik, memang aturannya polisi harus membantu memberikan penyidik. Itu bisa jadi solusi supaya KPK bisa jalan terus,” kata Budi.

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu

Bos Pertamina: Auditor Investigasi Petral Masih Dalam Proses

Jakarta, Aktual.co — PT Pertamina (Persero) telah resmi melikuidasi Petral Group termasuk Petral-PES dan Zambesi. Dalam proses likuidasi ini, pemerintah meminta dilakukan audit investigasi yang melibatkan auditor independen.

Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto menyampaikan bahwa saat ini langkah penunjukan auditornya masih dalam proses.

“Masih dalam proses,” singkat Dwi di gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (27/5).

Pernyataan tersebut berbanding terbalik dengan pernyataan Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro yang mengatakan bahwa pihaknya telah menunjuk dua auditor independen.

“Auditor Petral ada dua, untuk legal dan finance,” kata Wianda kepada wartawan di jakarta, Selasa (19/5).

Meski begitu, Wianda masih enggan membeberkan nama auditor yang telah ditunjuk tersebut lantaran masih harus berkonsultasi dengan tim internal.

“Saya belum bisa sebutkan namanya, saya harus konsultasi dulu dengan tim internal,” tuturnya.

Berdasarkan informasi yang diterima Aktual, Pertamina telah menunjuk pihak Ernst and Young untuk melakukan audit kepada Petral. Ketika dikonfirmasi hal itu, Wianda mengungkapkan bahwa yang menjadi fokus harusnya pihak Pertamina bukanlah nama auditor yang terlibat.

“Saya rasa proses yang dilakukan jadi fokus kami bukan nama auditornya,” tutup dia.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Petral-PES Dibubarkan, Pemerintah Kehilangan Fasilitas USD5,1 Miliar

Jakarta, Aktual.co — Mantan Komisaris Utama Pertamina, Sugiharto mengungkapkan usaha untuk memindahkan Petral-Pes ke Jakarta sudah terjadi berulang-kali. Namun, pemburu rente tetap ada. Dirinya menilai hal tersebut hanya menjadi alasan bahwa dengan beradanya Petral-Pes di Singapura akan mempersulit audit investigasi BPK dalam memburu mafia migas.

“Petral-PES itu sesungguhnya sudah melakukan best practice. Petral itu diaudit oleh auditor dunia yang bernama ‘Price Waterhouse and Coopers’. Petral juga tidak bebas dari pemeriksaan BPK, bahkan BPK di awal tahun  pernah melakukan audit investigasif terhadap Petral dan hasilnya Wajar Tanpa Pengecualian,” ujar Sugiharto kepada Aktual, Rabu (27/5).

Menurutnya, Petal-PES pernah mendapatkan peringkat ke-7 dari 1.000 (perusahaan). Artinya apa Governance (tata kelola) yang dijalankan Petral memang sudah diakui (Singapura) dan seluruh dunia. Bahkan Petral terendah bayar pajak, hanya 5 persen.

“Petral juga mendapatkan fasilitas USD5,1 Miliar. Nominal itu sudah mewakili setengah pendapatan yang disetorkan Pertamina ke Pemerintah Pusat,” jelasnya.

Salah satu resiko terbesar bangsa Indonesia, lanjutnya, adalah kenaikan harga minyak dunia. Dengan dibubarkannya Petral-PES akan kehilangan potensi jaringan USD5,1 miliar atau Rp65 triliun. Impor minyak mentah selama ini berbentuk dolar, sedangkan Pertamina menjualnya dalam satuan rupiah, Pertamina meminta cadangan devisa nasional melalui Bank Indonesia (BI).

“Pertamina selalu meminta cadangan devisa ke BI untuk melakukan impor hingga USD200 juta per hari. Dalam berbagai kesempatan, Pertamina sering kesulitan mendapatkan devisa,” jelasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Rhoma Irama Minta Walubi Himbau Myanmar Tidak Lakukan Diskriminasi Agama

Jakarta, Aktual.co — Terkait permasalahan etnis Rohingya yang terdampar di Indonesia, sehingga menimbulkan masalah sosial dan kemanusiaan. Raja Dangdut, H Rhoma Irama berharap, agar Walubi secara aktif turut menghimbau pemerintah Myanmar dan khususnya umat Budha di Myanmar untuk tidak melakukan diskriminasi agama yang telah banyak menimbulkan korban jiwa.

“Saya berharap agar umat Islam tidak terprovokasi, ke arah yang lebih ekstrim dalam melakukan aksi,” tegas Rhoma Irama, Ketua Majelis Pimpinan Pusat Forum Silahturahmi Ta”mir Masjid (MPP FAHMI TAMAMI), ditemui di gedung Berca, kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Rabu (27/5).

Menurut pria berusia 68 tahun ini, dirinya mewakili para Musisi di Majelis Ta’Mir FAHMI TAMAMI bersama bahu membahu mengurangi beban para pengungsi Rohingya di Aceh.

“Tugas FAHMI TAMAMI disini bertujuan hanya untuk meredam dan menjaga hal-hal akibat dampak yang terjadi di Rohingya, ” pungkas H.Rhoma Irama.

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain