Pengamat : Indonesia Akan Menyesal Jika Golkar Tak Ikut Pilkada
Medan, Aktual.co — Pengamat Sosial Politik Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Sohibul Ansor mengatakan bahwa akan ada penyesalan di Indonesia jika akhirnya partai Golkar tidak ikut dalam pilkada serentak 2015 mendatang.
“Saya kira nanti akan ada penyesalan pada bangsa kita ini, kalau Golkar tidak diikutkan dalam partisipasi politik dalam Pilkada, kita akan ‘lose’,” tandas Sohibul kepada Aktual.co di Medan, Selasa (25/5).
Menurut Sohibul, jalan keluar penyelesaian antara Aburizal Bakrie dan Agung Laksono yang sedang berseteru, hanya akan ditentukan keinginan politik dari presiden Joko Widodo sebagai pemegang tampuk pemerintahan.
“Pola-pola yang akan ditempuh ke depan, antara Aburizal Bakrie dan Agung Laksono adalah, sehebat apa kemauan politik Jokowi menyelesaikan konflik Golkar itu,” tukasnya.
Sebelumnya, Sohibul menuturkan, persoalan partai politik di Indonesia mengindikasikan keberadaan hukum yang tak memiliki hati nurani.
Menurut Sohibul, hukum di Indonesia saat ini tidak memiliki keadilan filosofis dan subsntantif. Hukum di Indonesia, lanjutnya hanya memiliki data formal.
“Itulah (hukum data formal) yang dipegang Agung Laksono,” tukasnya.
Persoalan tersebut, lanjut Sohibul dipicu keinginan pemerintah yang berkuasa saat ini. Yang berkeinginan kuat menghimpun kekuatan-kekuatan dari luar lingkaran Koalisi Indonesia Hebat (KIH).
“Dan fakta KIH pun sekarang sudah compang camping, maka kekhawatiran sebuah pemerintah atas kelestarian jabatannya hinggga lima tahun paling tidak, itu sangat dikhawatirkan,” tukasnya.
Sohibul menilai, Jokowi agaknya memang tidak memahami situasi politik di Indonesia. Jokowi, kata Sohibul dinilai memiliki keinginan agar semua kalangan tunduk pada pemerintahannya.
“Tapi itulah keinginan dan obsesi Jokowi, supaya semua tunduk pada nya, jadi di design lah konflik internal dan ini sering terjadi. Konflik di PPP adalah sama, juga dengan Golkar,” katanya.
Situasi ini, sambung Sohibul, pernah terjadi di saat orde baru. Bedanya, kata Sohibul, di masa pemerintahan Jokowi, penggunaan kekuasaan itu lebih gampang ketimbang ketika orde baru berkuasa.
“Kalau kita rujuk ke belakang, itu pernah terjadi di Orde Baru. Kalau Soeharto menginginkan intervensi partai politik tertentu, maka dia mengerahkan panglima TNI, BAIS, BIN, sampai ke Kodam hingga Babinsa, jadi proyek besar. Tapi sekarang, hanya sebuah tanda tangan seorang Laoly (Menkumham),” pungkasnya.
“Jadi ada bedanya itu, di orde baru dengan kekuatan besar, sedangkan sekarang dia (Jokowi) hanya menemukan seorang anak Sumut (Yasonna Laoly),” timpal Sohibul.
Sohibul menegaskan, terkait berbagai persoalan politik di Indonesia, rakyat tentu akan mencatat. Bahwa pernah terjadi ketidakadilan dalam sebuah kekuasaan.
“Tapi rakyat mencatat, ini sebuah keadilan yang tidak benar, hanya berdasarkan fakta-fakta kekuasaan pemerintah. Ini yang di sebut bipolar and segmentary process, jadi bola bambu,” ucapnya.
Artikel ini ditulis oleh:
















