13 April 2026
Beranda blog Halaman 35996

Kerangka Manusia Abad 12 Ditemukan di Natuna

Jakarta, Aktual.co — Tim Arkeolog dari Pusat Arkeologi Nasional menemukan empat kerangka manusia yang diperkirakan berasal dari abad 12 di Desa Tanjung, Kecamatan Bunguran Timur, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau.
“Melihat dari kerangka dan benda keramik yang sebelumnya ditemukan di lokasi diperkirakan berasal dari abad 12,” kata Ketua Tim Peneliti Arkeologi Sony Wibisono, di Natuna, Minggu (24/5).
Empat kerangka manusia yang berumur sekitar 800 tahun itu ditemukan dihamparan kebun kelapa masyarakat, Desa Tanjung, Pulau Bunguran. Dilokasi tersebut sejak lama menjadi tumpuan masyarakat mencari keramik kuno berupa piring atau mangkuk.
Menurut Sony, pihaknya telah melakukan penggalian selama empat hari sejak Rabu (20/5) dan menemukan dua lokasi kuburan yang masing-masing berjarak sekitar 20 meter.
“Satu lubang pertemuan pertama terdapat tiga kerangka yang sudah tidak utuh karena dari dada ke atas sudah tidak ada, diperkirakan berjenis kelamin laki-laki,” katanya.
Pada ketiga kerangka itu masing-masing terdapat sebilah keris yang ditempatkan di dada kerangka, sedangkan bahan keramik baik berupa piring atau mangkuk tidak lagi ditemukan.
Sedangkan, satu lubang lagi yang berisi kerangka perempuan terlihat masih utuh. Pada tulang lengan kirinya terdapat empat gelang dan tinggi tubuh kerangka sekitar 165 cm.
Menurut Sony, posisi kerangka tersebut terkubur sama yakni kepala mengarah ke Tenggara sedangkan kaki ke Barat Laut.
“Posisi kerangka yang ditemui ini berbeda dengan kerangka serupa yang pernah kami temui tahun lalu di Semampang, Desa Tanjung, yang masih satu hamparan garis dengan lokasi ini,” ujar Sony.
Menurut dia, kerangka yang ditemui di Semampang masih utuh sedangkan posisi letak kerangka berbeda. Bagian kepala menghadap ke Barat Daya dan kaki ke arah Timur Laut.
“Namun berasal dari ras yang sama yakni mongolia,” ujar peneliti senior itu.
Ia menjelaskan dari motif keramik yang banyak ditemukan di daerah itu diperkirakan berasal dari Dinasti Sung dan Yuan.
“Biasanya pada kerangka yang umurnya ratusan tahun ini ada barang-barang berharga yang dibawa serta, seperti piring keramik yang biasanya ditempatkan di atas kepala, kemaluan serta atas persendian,” tutur Sony.
Sayangnya, lanjut dia, keramik telah lenyap dari sisi kerangka karena telah diambil para pemburu keramik, jauh sebelum tim menemukan kerangka.
“Kalau melihat bentuk lekuk kerangka diatas kemaluannya ada ditempatkan keramik, tapi sayang telah diambil para pemburu keramik,” katanya.
Bukti lain bahwa keramik milik kerangka tersebut diambil dengan adanya bekas lubang “macok” (sebutan masyarakat tempatan terhadap besi yang dipakai untuk mendeteksi keramik dengan cara menusuk permukaan tanah) di bagian tulang paha kerangka dan persendian.
Ia menjelaskan, temuan kerangka manusia ratusan tahun lalu serta banyaknya terdapat keramik kuno, telah membuktikan bahwa Pulau Bunguran sejak lama telah dihuni dan sangat maju pada masa itu.
“Kami berkejar dengan waktu dalam melakukan penelitian karena para pemburu keramik terus bergerak mencari barang antik,” katanya.

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

Aksi Sembilan Tahun Lapindo

Sejumlah korban semburan lumpur melumuri badan dengan lumpur saat aksi peringatan 9 tahun semburan lumpur Lapindo di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, Minggu (24/5). Dalam aksi tersebut korban lumpur menuntut pemerintah segera turun tangan dalam pelunasan ganti rugi bagi korban yang masuk dalam peta area terdampak. ANTARA FOTO/Umarul Faruq

Islah Terbatas Golkar

Ketua Umum Partai Golkar Agung Laksono menghadiri pembukaan Konsolidasi dan Musda Partai Golkar Kabupaten/Kota se-Provinsi DKI Jakarta di kantor DPP Partai Golkar, Jakarta, Minggu (24/5). Dalam sambutannya Agung menyebut akan melakukan islah terbatas dengan pihak Aburizal Bakrie untuk menghadapi Pilkada 2015 di berbagai daerah. ANTARA FOTO/Fanny Octavianus

Akademisi: Isu Beras Plastik Jagan Sampai Menjadi Keresahan Sosial

Medan, Aktual.co — Akademisi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Arifin Saleh Siregar mengatakan bahwa merebaknya persoalan beras plastik di berbagai daerah di Indonesia sudah sangat meresahkan.
“Inikan sudah meresahkan,” tukas Arifin kepada Aktual.co di Medan, Minggu (24/5).
Arifin mewanti-wanti, keresahan itu dikhawatirkan akan menjadi keresahan sosial.
“Jadi jangan sampai meningkat menjadi keresahan sosial, gara-gara isu plastik,” tukas Ketua Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial UMSU itu.
Menurut Arifin, masyarakat saat ini sudah banyak dibebankan dengan persoalan-persoalan menyangkut kehidupannya. Apalagi jika ditambah dengan persoalan yang menyentuh kebutuhan pokoknya. Ibaratnya, lanjut Arifin, sudah jatuh, ketimpa tangga pula.
“Kasihan masyarakat, yang sudah terbebani dengan beragam persoalan, masak untuk makanan pokoknya pun masih menjadi persoalan bagi dia. Sudah sulit memenuhi kebutuhan, setelah dipenuhi ada masalah lagi. Ibarat Udah jatuh ketimpa tangga lagi,” tukasnya.
Arifin menegaskan, pemerintah harus sesegera mungkin menyelesaikan persoalan beras plastik yang memang ditemukan keberadaannya di beberapa daerah di Indonesia.
“Ini jadi tanggung jawab pemerintah ini. Di beberapa tempat kan memang iya, memang bukan beras padi, yang kita tahu itu kan dari padi. Dari beberapa media, ada faktanya. Pemerintah harus secepatnya menyelesaikan ini, agar tidak meningkat. Jangan lagi masalah itu bertambah,” tandasnya.
Arifin tak menampik, bisa saja persoalan beras plastik memang adalah permainan kepentingan politik atau mafia.
“Bisa jadi, apalagi di Indonesia ini cepat kali muncul isu-isu yang dibangun, isu ekonomi, politik dan sosial. Tapi terlepas, pemerintah harus menyelesaikan itu, apakah mafia, oknum,” tukasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

Seleksi Terbuka Calon Hakim Agung

Panelis Achmad Sodiki (kiri) dan Taufiqurrohman (kanan) mewawancara calon Hakim Agung Sunarto (tengah) dalam seleksi terbuka di Komisi Yudisial, Jakarta, Minggu (24/5). KY menggelar seleksi secara terbuka serta mewajibkan calon untuk menandatangani pakta integritas mundur sebagai hakim agung jika melakukan pelanggaran kode etik. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

PKB Desak DPR Segera Bentuk Pansus Beras Plastik

Dari kiri ke kanan, Kapoksi Kom VI Neng Eem Marhamah, Wasekjen DPP PKB Daniel Johan, Ketua Fraksi DPR PKB Helmy Faesal, Kapoksi Kom III Rohani, Anggota Komisi IV Acep Adang Ruchiyat, saat jumpa pers terkait beredarnya beras plastik di DPP PKB, Jalan Raden Saleh, Jakarta Pusat, Minggu (24/5/2015). DPP PKB meminta meminta empat Kapoksi FPKB untuk mendorong DPR segera membentuk Pansus Beras Palsu/Plastik. AKTUAL/MUNZIR

Berita Lain