12 April 2026
Beranda blog Halaman 36042

Jokowi Resmikan Terminal Teluk Lamong di Surabaya

Surabaya, Aktual.co — Presiden RI Joko Widodo meresmikan Terminal Teluk  Lamong, Surabaya, pada Jumat, (22/5).
Dalam pidatonya, Jokowi mengatakan bahwa dengan diresmikannya Terminal Teluk Lamongan, merupakan langkah Indonesia dalam mengejar ketertinggalan pembangunan kemaritiman, menggingat  2/3 wilayah Indonesia adalah air.
Dengan demikian, lanjutnya, sarana  sarana transportasi laut dan pelabuhan harus  ditingkatkan dan dilengkapi dengan fasilitas yang komplit, terintegrasi dengan pelabuhan lainnya di Indonesia.
“2/3 wilayah Indonesia adalah air. Dengan adanya Teluk Lamong, ini kesempatan kita untuk mengejar ketinggalan pembangunan,” kata Jokowi.
Jika semua pelabuhan  sudah terintegrasi ke seluruh wilayah, maka tidak menutup kemungkinan akan menekan biaya transportasi. Sebab, jika dibandingkan dengan negara-negara lain, biaya transportasi di Indonesia yang merupakan negara maritim, justru lebih mahal.
Jokowi mengingatkan pimpinan  Pelindo I, II, III dan IV, jika  membangun sebuah pelabuhan atau terminal, lebih baik membangun pelabuhan secara keseluruhan, baik infratrusktur maupun sarana lainnya, seperti penataan pelabuhan, aspek jalan, dan tidak terkesan setengah-setengah.
Pasalnya, pelabuhan tidak hanya untuk kepentingan lima atau sepuluh tahun kedepan, tetapi justru untuk jangka panjang.
Seperti diketahui, Pelabuhan Teluk Lamong  yang investasinya sebesar Rp4,65 Triliun ini digunakan untuk melayani peti kemas domestik, peti kemas internasional dan curah kering standart pangan, lantaran pelabuhan Tanjung Perak sudah padat untuk bongkar muat di Surabaya.
Terminal Teluk Lamong ini juga merupakan pelabuhan tercanggih nomor 4 di dunia setelah Virginia (USA), Barcelona (Spanyol) dan Abu Dabhi (Timteng), dan dianggap ramah lingkungan karena  sebagain besar alatnya digerakkan dengan tenaga listrik dan gas.

Artikel ini ditulis oleh:

Antisipasi Peredaran Beras Plastik Jelang Ramadhan, Kemendag Keluarkan Surat Edaran

Jakarta, Aktual.co — Kementerian Perdagangan melalui Direktorat Jenderal Standardisasi dan Perlindungan Konsumen mengambil langkah antisipasi terkait adanya peredaran beras sintetis dengan mengeluarkan Surat Edaran No 134/SPK/SD/05/2015 tentang peningkatan pengawasan menjelang Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri 1436 H, Jumat (22/5).
Dalam Surat Edaran itu disebutkan bahwa dalam menghadapi Bulan Ramadhan dan Idul Fitri 1436 H serta beberapa isu terhadap beredarnya komoditas atau barang yang tidak sesuai dengan ketentuan maka pengawasan terhadap kebutuhan konsumen baik kebutuhan pokok maupun kebutuhan lainnya yang beredar di pasar dan kemungkinan tidak sesuai dengan ketentuan, baik terkait label, takar ukur timbang, kualitas dan hal lain yang menyangkut Keamanan, Kesehatan, Keselamatan dan Kelestarian Lingkungan (K3L).
Selain itu, pengawasan terhadap parcel yang saat ini juga sudah mulai beredar dan utamanya menjelang Hari Raya Idul Fitri. Mengantisipasi pengawasan terhadap UTTP termasuk SPBU apakah sudah sesuai dengan ketentuan baik tera maupun tera ulang dalam menjamin kebenaran ukuran, utamanya jalur mudik.
Kemudian, penanganan isu yang beredar secara baik termasuk dugaan beredarnya beras plastik yang secara fisik tidak dapat dilihat dengan kasat mata, namun sesuai informasi dari Sekjen Asosiasi Pedagang Beras ciri-ciri beras asli ada hati beras warna putih susu, pecah meski hanya berapa persen, dan warna buram karena bekatul.
Untuk itu, jika ditemukan beras yang tidak sesuai ciri-ciri tersebut, langkah yang ditempuh antara lain membandingkan temuan dengan beras asli untuk melihat perbedaannya dan melakukan uji laboratorium, bekerjasama dengan Balai POM.
Kemudian melakukan koordinasi dengan Balai POM, Dinas pertanian dan Instansi terkait setempat untuk sinergi dalam pengawasan. Dan dalam pengawasan dimohon pelaksanaannya dengan bijak, sehingga tidak menimbulkan kegelisahan baik di kalangan pelaku usaha maupun konsumen.
Terakhir, menyampaikan informasi kepada jika ditemukan dugaan pelanggaran terhadap hal-hal di atas, untuk ditindaklanjuti langkah penanganannya.

Artikel ini ditulis oleh:

Kurtubi: Bangun Kilang di Indonesia Banyak Keuntungannya

Jakarta, Aktual.co — Anggota Komisi VII DPR RI, Kurtubi menilai bahwa dengan membangun kilang minyak sendiri tentu akan banyak memberikan keuntungan bagi Indonesia sendiri.
Terlebih, menyusul adanya niatan pemerintah untuk mewujudkan swasembada bahan bakar minyak (BBM) sebagai sebuah langkah strategis pemerintah menuju kedaulatan energi.
“Saya tidak sependapat dengan pernyataan pak Faisal Basri. Dengan alasan, kita butuh BBM itu untuk seterusnya bukan sifatnya insidentil, berapapun kapasitasnya pasti akan kita butuhkan produknya tidak mungkin nganggur,” kata Kurtubi, di Komplek Parlemen, Senayan, Jumat (22/5).
Alasan selanjutnya, sambung Kurtubi, pembangunan kilang di Indonesia akan membuka lapangan pekerjaan yang begitu besar untuk anak bangsa ini.  Setidaknya, ketika pabrik dibangun, ada sekitar 5000 karyawan yang akan bekerja, sehingga punya dampak ekonomi kepada rakyat.
“Setelah selesai kilang dibangun dan dioperasikan kilang sehari-hari itu menerima karyawan untuk masa hingga 30 tahun, itu keuntungan ekonomi,” papar dia.
Sementara itu, dari segi keamanan, BBM Indonesia akan bisa lebih terjamin suplai dalam negerinya ketimbang impor. “Karena impor butuh pengapalan, bila ditengah jalan ada perang kita repot. Ini tidak bisa dinilai uang soal keamanan itu.
Oleh karena itu, membangun kilang di dalam negeri jauh lebih menguntungkan, daripada Pertamina mengakuisisi kilang di tempat lain atau luar negeri.
“Itu manfaat untuk masyarakat kerja hanya dinikmati oleh negara lain (seperti Malaysia). Kalau kita bangun kilang kita pun akan memperkecil biaya distribusi BBM sampai ke konsumen,” tandas dia.
Seperti diberitakan sebelumnya, Masalah ketahanan energi khususnya cadangan BBM di Indonesia jadi perhatian. PT Pertamina (Persero) saat ini berencana membangun kilang baru dan meningkatkan kapasitas kilang lama.
Faisal Basri, mantan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas (RTKM) mengatakan, daripada membangun kilang, lebih baik Indonesia mengimpor langsung, namun membangun storage atau tangki cadangan BBM yang banyak.
“Saya bilang, kalau bangun kilang sekarang berbahaya kalau pakai pendekatan Pertamina. Karena Pertamina bilang, akan bangun kilang stand alone (sendiri) yang marginnya kecil. Kilang itu harus terintegrasi dengan industri petrokimia. Ada olefin, ada aromatik, kemudian ada macam-macam turunannya yang menghasilkan produk petrokimia yang ke industri plastik sampai parasetamol. Jadi kalau stand alone, lupakan deh. Cuma buang-buang uang,” kata Faisal di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (20/5) malam.

Artikel ini ditulis oleh:

Novrizal Sikumbang

Sistem Resi Gudang Diyakini Mampu Redam Inflasi

Jakarta, Aktual.co — Sistem Resi Gudang (SRG) dinilai mampu mengendalikan inflasi di beberapa wilayah Indonesia, dan diharapkan mampu menjamin ketersediaan stok kebutuhan pokok dan harga-harga bisa lebih stabil.
“Salah satu yang terus gencar dilakukan Kemendag adalah mempercepat implementasi SRG yang diyakini mampu mendukung pengendalian inflasi di daerah,” kata Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan, Sutriono Edi, dalam siaran pers yang diterima, Jumat (22).
Sutriono mengatakan hal tersebut seusai melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman Kerja Sama Pengembangan dan Percepatan Implementasi SRG dengan Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Barat Rosmaya Hadi, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat Ferry Sofwan, dan Direktur Utama PT Pos Indonesia (Persero) Poernomo.
“Dengan terealisasinya SRG yang terintegrasi dari hulu hingga ke hilir, diharapkan stok komoditas bisa lebih terjamin dan harga- harga bisa menjadi lebih stabil sehingga pada akhirnya inflasi bisa lebih terkendali,” kata Sutriono.
Sutriono menjelaskan, pentingnya integrasi SRG dengan Sistem Logistik Nasional, PT Pos Indonesia dinilai memiliki peran dalam percepatan pelaksanaan SRG karena memiliki jaringan logistik luas.
“Jika SRG dan jaringan logistik ini sudah terintegrasi dengan baik, saya yakin kita mampu mendukung terwujudnya pengendalian inflasi di daerah,” ujar Sutriono.
Saat ini, menurut Sutriono, di Jawa Barat, permasalahan petani cukup banyak, seperti alih fungsi lahan pertanian, penguasaan stok bahan pangan oleh pedagang, dan panjangnya rantai distribusi, serta terkendalanya upaya perluasan akses petani terhadap pembiayaan.
“SRG menjawab permasalahan tersebut melalui peranannya sebagai instrumen yang penting dan efektif sebagai sarana tunda jual dan pembiayaan yang dapat memberdayakan petani serta mengefisiensikan rantai tata niaga komoditas,” ujar Sutriono.
Dengan SRG, petani memiliki alternatif pembiayaan untuk aktivitas pertaniannya dari resi yang diterimanya ketika menyimpan komoditas di gudang. Terutama pada saat panen umumnya harga sedang berada pada titik terendah. Bagi pedagang, ketersediaan stok dan pembiayaan dapat memberikan solusi permodalan yang lebih efisien.
Sedangkan bagi fungsi pengawasan pemerintah pusat dan dampak yang dirasakan oleh masyarakat, SRG menyediakan data jumlah stok komoditas di dalam gudang yang akan mempermudah pemerintah melakukan pemantauan data produksi daerah secara lebih akurat.
“Integrasi informasi antara satu gudang dengan gudang lainnya akan melahirkan sebuah sistem integrasi data mengenai stok komoditas dari berbagai daerah yang akan mendorong kerja sama antargudang di berbagai daerah dalam menutupi kekurangan stok atas komoditas tertentu,” kata Sutriono.
Bappebti bekerja sama dengan Pemerintah Daerah sejak tahun 2009 sampai 2013 telah membangun 98 gudang SRG di 78 kabupaten di 21 provinsi. Tahun 2014, Bappebti bersama pemerintah daerah kembali melakukan pembangunan 19 gudang di 19 kabupaten.
Sejak diluncurkannya resi gudang pada 2008, hingga saat ini sudah dilakukan penerbitan di 47 kabupaten-kota, meliputi Bener Meriah, Simalungan, Deli Serdang, Pasaman Barat, Tangerang, Lebak, Indramayu, Bogor, Sumedang, Ciamis, dan lainnya, Secara akumulatif sampai 24 November 2014, jumlah resi gudang yang telah diterbitkan sebanyak 1.759 resi dengan total volume komoditas sebanyak 70.968,05 ton yang terbagi 60.598,95 ton gabah, 5.295,47 ton beras, 4.628,15 ton jagung, 25,49 ton kopi, dan 420 ton rumput laut atau total senilai Rp358,28 miliar.

Artikel ini ditulis oleh:

Menteri Ini Prihatin dengan Polemik Golkar

Jakarta, Aktual.co — Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Yuddy Chrisnandi mengaku prihatin dengan polemik dualisme kepengurusan yang dialami internal Partai Golkar selaku partai dimana ia mengawali karir politiknya.
“Saya saat ini prihatin Golkar dirundung masalah yang tidak kunjung usai. Saya dulu mengawali karir politik di Partai Golkar, sebelum akhirnya pindah ke Hanura,” kata Yuddy Chrisnandi, di Jakarta, Jumat (22/5).
Yuddy yang juga politisi Hanura, mengisahkan pertama kali mengawali karir politik di Partai Golkar tahun 1992. Kala itu tidak mudah bagi seorang biasa seperti dirinya untuk masuk ke partai sebesar Golkar.
“Saya dibantu oleh almarhum Eki Syachruddin, seorang tokoh eksponen 66 untuk bisa masuk ke Golkar,” kata Yuddy.
Yuddy mengatakan kala itu ketika dirinya mendaftarkan diri di Kantor DPP Partai Golkar Jakarta, dirinya bak memasuki sebuah kerajaan dengan birokrasi yang ketat.
Namun akhirnya dia berhasil masuk ke partai beringin yang juga merupakan tempat kakek dan ayahnya menimba ilmu politik dulu.
Dia meyakini Golkar sebagai partai besar yang juga aset politik bangsa, seharusnya tidak bernasib seperti saat ini.
“Saya mengharapkan Golkar sebagai partai yang memiliki banyak tokoh senior, bisa menemukan solusi atas polemik internalnya. Saya pindah ke Hanura bukan kecewa dengan Golkar, saya pindah pun meminta masukan dari abang-abang saya di Golkar seperti pak Jusuf Kalla, pak ARB, pak Agung Laksono, pak Theo, pak Akbar Tanjung dan lainnya,” kata Yuddy.
Yuddy menekankan bahwa apa yang menjadi pikirannya mengenai Golkar merupakan cerminan sikap pemerintah. Menurut dia, pemerintah tidak memiliki niatan sama sekali untuk mencampuri urusan internal Golkar.

Artikel ini ditulis oleh:

Bareskrim Geledah Rumah Tersangka Korupsi Gedebage

Jakarta, Aktual.co — Penyidik Direktorat Tindak Pidana Korupsi Bareskrim Polri melakukan penggeledahan di rumah tersangka Yayat A Sudrajat (YAS), terkait kasus dugaan korupsi pembangunan Stadion Gedebage, Bandung, Jawa Barat, Jumat (22/5).
“Siang ini penyidik Bareskrim menggeledah rumah tersangka YAS di Bandung. Penggeledahan demi mencari berbagai barang bukti yang dibutuhkan penyidik,” kata Karo Penmas Mabes Polri, Brigjen Agus Rianto.
Dalam kasus ini, penyidik Bareskrim juga pernah menggeledah kantor konsultan perencana, yakni PT PR di Setrasari Mall Bandung, pada Rabu (20/5) lalu.
Tak hanya itu, Bareskrim juga sudah menggeledah PT Adhi Karya, selaku kontraktor pelaksana pekerjaan di pembangunan stadion Gedebage di wilayah Pasar Minggu, Jakarta Selatan, pada Rabu (15/5) pekan lalu.
Untuk diketahui, dalam kasus ini Direktorat Tindak Pidana Korupsi Badan Reserse Kriminal Polri telah menetapkan Sekretaris Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya Kota Bandung, Ir Yayat A Sudrajat (YAS) sebagai tersangka.
Yayat yang juga mantan PPTK tahun 2009-2011 dan KPA/PPK tahun 2011-2013 itu dijerat Pasal 2 ayat 1 atau Pasal 3 UU RI no 31 tahun 1999 tentang pemberntasan korupsi sebagaimana diubah dengan UU RI no 20 tahun 2001 tentang perubahan atas UU RI no 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pdana korupsi jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.
Sementara untuk total kerugian negara sedang diproses penghitungan keuangan negara oleh BPKP Perwakilan Jawa Barat.Dugaan korupsi dilakukan oleh Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya Kota Bandung, PT Penta Rekayasa (Konsultan Perencana), PT Adhi Karya (kontraktor pelaksana pekerjaan), PT Indah Karya (Konsultan Manajemen Kontruksi) dengan nilai proyek Rp545.535.430.000

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

Berita Lain