9 April 2026
Beranda blog Halaman 36063

Jadi Terdakwa, Mahasiswa Tuntut Sekdako Lhokseumawe Dicopot

Banda Aceh, Aktual.co — Puluhan mahasiswa dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Lhokseumawe kembali menggelar demonstrasi di depan kantor wali kota setempat, Kamis (21/5).
Mereka menuntut Wali Kota Lhokseumawe, Suaidi Yahya, mencopot Sekdako setempat Dasni Yuzar dari jabatannya. Pasalnya, Dasni telah menjadi terdakwa dalam kasus dugaan korupsi dana hibah bersumber dari APBA 2010 sebesar Rp1 miliar.
Dalam aksinya, mereka membawa poster dan spanduk yang berisi hujatan dan mendesak agar Sekdako setempat segera dicopot. Pasalnya, dalam Pasal 17 butir G, PP No 58/2009 tentang pengangkatan dan pemberhentian sekretaris daerah.
Pada butir G dari pasal 17 disebutkan bahwa sekretaris daerah diberhentikan dari jabatannya karena ditetapkan sebagai terdakwa karena melakukan tindak pidana yang ada kaitannya dengan jabatan atau melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara lima tahun atau lebih.
Koordinator aksi, Mukti Humam dalam orasinya menyebutkan apabila Wali Kota Lhokseumawe tidak mencopot Dasni Yuzr maka wali kota diminta mundur dari jabatannya, karena dinilai ikut membela pelaku korupsi.
Selain itu, mahasiswa juga mendesak BPK untuk mengaudit SKPK (Satuan Kerja Perangkat Kota) Lhokseumawe. 
“Meminta aparat hukum tidak memihak dalam memutuskan perkara korupsi yang dilakukan oleh Dasni,” ujarnya.
Seluruh warga Lhokseumawe diajak mengawal kinerja pemerintah agar tidak kembali melakukan tindak pidana korupsi. Pendemo ditemui oleh Asisten III, Miswar.
Pada penjelasannya, Miswar meminta waktu sampai hari Senin, pekan depan, untuk menyampaikan keputusan wali kota terkait Dasni Yuzar.
Mahasiswa sempat mengancam akan membuka posko di depan kantor wali kota jika tuntutannya tak dipenuhi, dan kemudian membubarkan diri.

Artikel ini ditulis oleh:

DPR: Petral Bubar, Harga BBM Harus Murah

Jakarta, Aktual.co —   Ketua Komisi VII DPR RI Kardaya Warnika angkat bicara terkait putusan pemerintah untuk membubarkan anak usaha PT Pertamina (Persero) yakni Pertamina Energy Trading Limited (Petral).

Menurutnya, tolak ukur untuk menilai efektif atau tidaknya upaya membubarkan Petral adalah turunnya harga bahan bakar minyak (BBM).

“Begini, harus clear. Kenapa Petral dibubarkan. Tujuannya itu bukan hanya pada ‘pembubaran’. Petral ibarat komputer itu kayak casing. Nah tujuan pembubaran Petral biaya pengadaan minyak menjadi murah. Kalau biaya pengadaan minyak murah, maka harga BBM yang dijual ke rakyat murah,” ujarnya di Jakarta, Kamis (21/5).

Lalu, sambung dia, untuk itu dicari apa ada permasalahan di pengadaan BBM, apa ada ketidakefisienan dari kinerja Petral. Berdasarkan investigasi tim RTKM, di Petral terjadi inefisiensi, terjadi masalah. Kalau sekarang ada inefisiensi di Petral maka mengakibatkan biaya pengadaan tinggi. Dengan bubarnya Petral, sudah seharusnya harga BBM turun.

“Barang Petral dibubarkan. Berarti harapan rakyat kalau dibubarkan itu berarti biaya pengadaannya turun kan. Kalau biaya pengadaannya turun, BBM-nya harganya turun. Nah sekarang kala‎u sudah dibubarkan, harga BBM-nya ga turun untuk apa,” ungkap dia.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Polisi Periksa Peti Kemas Antisipasi Masuknya Beras Sintetis

Jakarta, Aktual.co — Kepolisian Sektor Kota Kawasan Pelabuhan Laut (KPL) Polresta Banjarmasin terus memeriksa peti kemas atau kontainer beras yang masuk ke Pelabuhan Trisakti Banjarmasin, sebagai antisipasi peredaran beras sintetis.

“Semua pelabuhan di kota ini kami lakukan pengawasan dan setiap barang yang datang kami lakukan pemeriksaan terutama untuk target beras plastik atau sintetis,” ucap Kepala Polsekta KPL Polresta Banjarmasin, Komisaris Polisi Fihim, di Banjarmasin, Kamis (21/5).

Mereka bekerja sama dengan Unit Reserse Kriminal dan Unit Intelijen Polsekta KPL Banjarmasin.

Beras sintetik diketahui berbahan dasar campuran kentang, ubi, dan resin (serupa dengan material pokok perabotan melamin yang mirip porselen). Jika dikonsumsi, menurut berbagai laporan, manusia bisa pusing, mual, dan muntah-muntah.

Pada jangka panjang, bisa menghadirkan kematian. Kerusakan serius sistem pencernaan juga bisa terjadi karena resin tidak bisa dicerna dan bersifat karsinogenik.

Situs berita luar negeri melaporkan, peredaran beras sintetik alias beras plastik yang ditenggarai diselundupkan dari China ini marak di Kochin, Negara Bagian Kerala, India bagian selatan. Harganya yang sangat miring menjadi penggoda utama pembelinya. 

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Jaksa KPK Putar Sadapan Percakapan Sutan dengan Waryono

Jakarta, Aktual.co — Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memperdengarkan rekaman percakapan bekas Ketua Komisi VII DPR RI Sutan Bhatoegana dengan Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, Waryono Karno.
Dalam percakapan di Restoran Edogin Hotel Mulia, 27 Mei 2013 itu terdengar, Sutan mempersilahkan Waryono untuk berkoordinasi dengan staf pribadinya sehubungan dengan rapat penetapan APBN-Perubahan milik Kementerian ESDM tahun anggaran 2013.
“Nanti kalau ada apa-apa bisa kontak orang saya,” ujar Sutan ke Waryono saat rekamannya diperdengarkan dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (21/5).
Dalam percakapan tersebut pun terungkap, jika Sutan meminta Waryono untuk berkoordinasi dengan Irayanto Muchyi. “Bergeser Iryanto yah supaya enak,” kata Sutan.
Setelah diperdengarkan, Jaksa KPK pun langsung mengkonfirmasi ke salah satu saksi yang dihadirkan, yakni Ego Syahrial. Dia pun mengaku sengaja merekam pembicaraan antara Sutan dengan Waryono.
“Memang kebiasaan saya sebagai bagian data. Tapi tidak ada maksud apa-apa, hanya untuk data,” kata Ego.
Dalam surat dakwaan yang diterima Aktual.co, percakapan antara Sutan dengan Waryono di Restoran Edogin itu, diyakini sebagai awal pemberian suap berupa uang senilai 140 ribu Dollar Amerika Serikat.
Adapun maksud suap itu diberikan agar Komisi VII DPR RI tidak menghambat disahkannya APBN-Perubahan milik Kementerian ESDM tahun anggaran 2013.
Dalam berkas yang sama menyebutkan, bahwa Iryanto-lah yang menerima uang senilai 140 ribu Dollar AS dari Waryono. Setelah itu baru Iryanto memberikan uang itu ke staf probadi Sutan, Muhammad Iqbal.

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu

Menko Maritim Anggap Kebijakan Migas RI Tidak Efisien

Jakarta, Aktual.co — Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indroyono Soesilo menganggap perizinan minyak dan gas (migas) di Indonesia tidak efisien sehingga mempersulit laju pertumbuhan industri tersebut.
“Laporan yang saya dapat, pelaku industri migas menyebutkan dari kegiatan survei hingga eksploitasi ada lebih dari 600 ribu lembar dokumen yang harus diurus untuk melengkapi persyaratan,” kata Menteri Indroyono di Jakarta, Kamis (21/5).
Ketika ditemui dalam acara “Indonesian Petroleum Association Convention and Exhibition” ia juga menambahkan bahwa perizinan tidak efisien karena melalui lintas sektoral.
“Itu menjadi penyebab terlambatnya komersialisasi industri migas. Padahal untuk eksplorasi sampai eksploitasi juga memakan waktu yang tidak sebentar,” kata Indroyono.
Perizinan industri migas melalui sejumlah kementerian seperti Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Kementerian Perhubungan, Kementerian Keuangan, Kementerian Kehutanan, hingga SKK Migas.
Terkait dengan hal tersebut, ia berpendapat keputusan Kementerian ESDM untuk merampingkan jumlah perizinan dan menyerahkan pendelegasian kepada Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) merupakan sebuah kemajuan.
Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said mengatakan pihaknya menyerahkan segala kewenangan perizinan migas ke BKPM.
“Mulai hari ini kami serahkan segala kewenangan perizinan migas ke BKPM sebagai pusat pelayanan satu pintu,” kata Menteri Sudirman ketika ditemui di IPA Convex di Jakarta, Rabu (20/5).
Pada tahun lalu perizinan migas mencapai 104, kemudian disederhanakan oleh Kementerian ESDM menjadi 52 pada Desember 2014, dan terakhir telah diperkecil lagi menjadi 42 perizinan.
Menurut Sudirman, melalui penyerahan kewenangan tersebut maka turut mendukung industri migas agar dapat berkembang dengan lebih cepat di Indonesia.

Artikel ini ditulis oleh:

Di Tengah Aksi, Mahasiswa Menyempatkan Diri Sholat Berjamaah

Sejumlah mahasiswa menggelar salat dzuhur berjamaah di tengah aksi unjuk rasa di depan Istana Negara, Jakarta, Kamis (21/5). Aksi ribuan mahasiswa yang dari beberapa elemen menuntut agar Jokowi-JK turun dan segera menurunkan harga BBM. AKTUAL/MUNZIR

Berita Lain