NU akan Padukan Ajaran Islam dan Nasionalisme
Jakarta, Aktual.co — Umat Islam di Indonesia harus dapat menerapkan konsep “tawasuth” atau mencari pertemuan dan perpaduan antara ajaran dalam Al Quran dengan sikap nasionalisme dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat.
Demikian disampaikan Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj dalam pembukaan Pra-Muktamat Nahdlatul Ulama (NU) zona Sumatera Utara di Pesantren Al-Kautsar Medan, Minggu (17/5).
Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj mengatakan, perpaduan Islam dan nasionalisme itu sangat dibutuhkan untuk memberikan kebaikan dalam penerapan agama.
Dari beberapa pengalaman dunia internasional, ketidakmampuan memadukan Islam dengan nasionalisme tersebut justru membawa kemudharatan bagi suatu bangsa.
Ia mencontohkan ketidakmampuan memadukan Islam dengan nasionalisme yang terjadi di Afghanistan dan Somalia sebagai dua negara yang memiliki penduduk yang hampir 100 persen beragama Islam.
“Kedua negara itu perang terus karena tidak memiliki semangat ‘wathoniyah’ atau nasionalisme,” katanya.
Bagi NU, perpaduan tersebut sangat penting karena nasionalisme yang diperkuat dengan ajaran Islam akan memiliki landasan yang kuat.
“Sedangkan Islam yang didukung nasionalisme akan memiliki spirit. NU akan selamanya seperti itu,” kata Said Aqil.
Dalam konsep tawasuth itu, kata dia, umat Islam juga harus mampu memadukan antara ajaran dalam Alquran (naqli) dan dengan ilmu pengetahuan (aqli).
Umat Islam yang hanya menggunakan dalil naqli, akan bersikap ekstem. “Namun kalau hanya menggunakan akal tanpa AlQuran, justru akan terjebak sekulerisme,” ujarnya.
Ia mencatat banyaknya tokoh-tokoh Islam yang menerapkan konsep tawasuth tersebut seperti Iman Syafii dan Imm Al Ghazali yang sangat terkenal dalam khazanah ilmu pengetahuan Islam.
Di Indonesia, salah seorang yang sangat berjasa dalam tawashut itu adalah KH Hasyim Asyari yang merupakan pendiri NU.
“Beliau menyatukan bangsa ini dengan memadukan konsep Islam dan nasionalisme,” ujar Said Aqil.
Artikel ini ditulis oleh:
















