7 April 2026
Beranda blog Halaman 36359

Sempat Tolak Raperda Zonasi, F-Golkar Mengaku Keliru

Jakarta, Aktual.co —Sikap Fraksi Golkar di DPRD DKI ‘mendadak’ berubah terkait Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (RZWP3K).
Awalnya menolak, kini mereka justru mendukung pembahasan raperda yang diusulkan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di sidang paripurna 5 April lalu itu. Alasannya, banyak pulau-pulau di pesisir utara Jakarta yang saat ini ternyata dikuasai perorangan atau pihak swasta.
“Fraksi Golkar sebelumnya menolak usulan  Raperda ini. Alasannya usulan Raperda ini kami kira ada kaitannya dengan reklamasi. Tapi setelah kami pelajari bersama di fraksi usulan raperda ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan reklamasi,” ujar Ketua F-Golkar Zainuddin, di Kebon Sirih, Senin (11/5).
Politisi yang akrab disapa Bang Oding ini berpendapat Raperda zonanisasi lebih fokus pada penataan pulau-pulau milik Pemprov DKI.
Kata Oding, pihak swasta maupun perorangan itu secara seenaknya melakukan konservasi, tanpa pernah mengajukan izin ke Pemprov DKI Jakarta. “Persoalan itu yang membuat F-Golkar berpikir bahwa kita perlu punya payung  hukum untuk  menindak para pencuri pulau tersebut,” kata dia.
Sebelumnya, Ketua Badan Legislasi Daerah (Balegda) DPRD DKI, M Taufik mengatakan ada kekeliruan pemahaman dari sejumlah pihak, baik LSM maupun anggota dewan, tentang Raperda RZWP3K.
Yang mengaitkan Raperda RZWP3K dengan dasar hukum Revisi Perda Nomor 8 Tahun 1995 Tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Rencana Tata Ruang Pantura. 
Padahal ujar Taufik, kedua raperda tersebut adalah dua rancangan peraturan daerah yang berbeda. Dimana substansi dari RZWP3K mengarah kepada pemetaan dan pemanfaatan pulau-pulau kecil. “Raperda Zonasi (RZWP3K) itu beda dengan (raperda) reklamasi. Zonasi itu berbeda, jadi Zonasi itu nanti (mengatur) pulau-pulau itu untuk apa. Apakah untuk konservasi, untuk pariwisata atau perkampungan,” kata Taufik, Jumat (8/5) lalu.
Politisi Gerindra ini mengatakan RZWP3K sama sekali tidak ada hubungannya dengan reklamasi pantura. Karena itu, dia mengimbau sejumlah pihak yang menolak dibahasnya raperda agar memahami dahulu sebelum melontarkan pendapat. Sehingga tidak menimbulkan kesimpangsiuran.

Artikel ini ditulis oleh:

Tak Dampingi Presiden Kunjungan, Gubernur Papua Kemana?

Jakarta, Aktual.co — Tokoh masyarakat yang juga mantan Penjabat Bupati Kabupaten Mappi dan Kabupaten Mimika Athanasius Allo Rafra menyayangkan ketidakhadiran Gubernur Papua Lukas Enembe saat mendampingi kunjungan kerja Presiden Joko Widodo dalam kunjungan kerja di Papua.
Allo Rafra mengatakan, sebagai wakil Pemerintah Pusat yang ada di daerah, sudah seharusnya Gubernur Lukas Enembe berada di tempat untuk menerima kunjungan kerja Presiden Jokowi.
“Kita sebagai anggota masyarakat Papua tentu sangat menyayangkan hal ini, mengapa sampai Gubernur Lukas Enembe tidak ada di tempat saat orang nomor satu republik ini berkunjung ke Papua,” ujarnya, Minggu (10/5).
Mantan Kepala Biro Tata Pemerintahan Setda Provinsi Papua itu menilai bahwa kunjungan kerja Presiden Jokowi ke Papua kali ini membawa banyak misi dan sejumlah terobosan kebijakan baru untuk mempercepat upaya peningkatan kesejahteraan rakyat Papua.
“Sudah pasti akan ada banyak program dan kegiatan yang akan dilakukan di Papua ke depan, apalagi kita di Papua sedang berjuang keras untuk meningkatkan pembangunan di segala bidang agar rakyat Papua semakin maju dan sejahtera sebagaimana saudara-saudara di provinsi lain,” tuturnya.
Allo mengatakan, seharusnya kunjungan kerja Presiden Jokowi ke Papua seperti ke Jayapura dan Merauke kali ini dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh pemerintah daerah setempat untuk memberikan berbagai masukan dan informasi tentang persoalan-persoalan apa saja yang sedang dihadapi Papua, apakah di bidang politik, keamanan, ekonomi, dan sosial kemasyarakatan.
Apalagi, dalam kunjungan selama tiga hari di Provinsi Papua, Presiden Jokowi mengikutsertakan sekitar 10 Menteri Kabinet Kerja.
“Ini peluang yang sangat baik bagi pemerintah daerah untuk membicarakan secara langsung dengan semua kementerian terkait, apa-apa yang kita butuhkan di daerah. Bukan kita harus membawa semua soal itu ke Jakarta untu dibicarakan di sana. Tentu situasinya pasti sudah lain,” ujar Allo Rafra, mantan anggota DPRD Mimika itu.
Kendati selama kunjungan kerja Presiden Jokowi didampingi oleh Wakil Gubernur Papua Klemen Tinal, namun menurut Allo, hal itu terasa kurang lengkap tanpa kehadiran Gubernur Lukas Enembe.
“Kewenangan penuh itu ada pada gubernur, sekalipun ada wakil gubernur. Ini momentum yang sangat penting, dan sangat disayangkan kalau momentum penting itu dilewatkan begitu saja,” ujarnya.
Sebelumnya, juru bicara Gubernur Papua Lamadi de Lamato mengatakan Gubernur Lukas Enembe sedang berada di luar Papua untuk suatu urusan tertentu sehingga tidak bisa mendampingi Presiden Jokowi saat berkunjung ke Jayapura dan Merauke.
“Yang saya tahu sekarang Pak Gubernur di luar Papua,” kata Lamadi.
Ia juga membantah isu yang merebak bahwa Gubernur Lukas Enembe dikabarkan sakit.
“Ah tidak betul, beliau sehat-sehat saja. Bahkan mungkin beliau akan siap-siap berangkat ke Surabaya untuk hadiri Kongres Partai Demokrat,” katanya.
Lamadi menyampaikan bahwa Gubernur Lukas Enembe sedang memperjuangkan untuk mencari investor untuk membangun infrastruktur smelter di Papua.
“Pak Gubernur juga masih ada urusan yang cukup rumit terkait dengan smelter dan beliau baru saja pulang dari Beijing. Beliau bertemu dengan salah satu perusahaan di sana, apalagi dalam waktu dekat pada 11-13 Mei 2015, ada kongres Partai Demokrat di Surabaya, beliau salah satu ketua DPD,” ujar Lamadi beralasan.

Artikel ini ditulis oleh:

Kental Unsur KKN, Migas Watch Desak Pertamina Batalkan Proyek LNG Bojonegara dengan BSM

Jakarta, Aktual.co — Pengamat Energi Migas Watch Widodo Edi Setyanto meminta PT Pertamina (Persero) untuk membatalkan kerja sama proyek LNG Terminal Receiver Bojonegara Banten yang dilakukan bersama PT Bumi Sarana Migas (BSM) lantaran dinilai kental akan unsur KKN.
“Ini harus batal, kental sekali unsur KKN-nya, apalagi BSM kan Kalla Group, kerja samanya kan kelihatan tidak win win, dan justru merugikan Pertamina,” kata Widodo kepada Aktual di Jakarta, Senin (11/5).
Perlu diketahui, dalam kerjasama tersebut, Pertamina diposisikan sebagai 100 persen offtaker LNG regasified gas yang dipasok oleh perusahaan besutan anak Wakil Presiden RI Jusuf Kalla yakni Solihin Kalla. Di mana selanjutnya gas tersebut akan disalurkan oleh Pertamina ke PT PLN (Persero). Sehingga resiko penyerapan gas oleh PLN menjadi 100 persen resiko Pertamina. Terdapat resiko single party offtaker untuk pembeli LNG, yaitu PLN.
Bahkan untuk penjualan gas ke PLN pun, proyek Land based Regasification Plant Bojonegara ini akan bersaing dengan FSRU Nusantara Regas dan Proyek PGN FSRU Lampung yang keduanya sudah siap untuk menerima LNG dan menyalurkan Regasified Gas ke pembangkit PLN.
Ia menegaskan, hal ini sudah sangat menunjukan bagaimana Wapres Jusuf Kalla tengah memperbesar kerajaan bisnis keluarganya ketimbang mensejahterahkan rakyat dan memberantas mafia migas.
“Bojonegara itu kan milik Pertamina, untuk apa menggandeng BSM? Kan Pertamina punya Pertagas. Sekarang artinya BSM sebagai apa disitu? sedangkan, land base terminalnya kan milik pertamina, jadi modal apa BSM itu? Hanya modal dengkul dan kekuasaan saja,” ungkap Widodo.
Berdasarkan data yang diperoleh Aktual, jika dibandingkan dengan proyek Pertagas FSRU Cilamaya LNG Company, penjualan regasified LNG dilakukan dari Pertagas Cilamaya langsung ke End Customer (IPP Jawa, IPP Sunyarangi dan Pertamina Balongan). Sehingga Pertamina tidak menanggung resiko penyerapan pasar. Dari segi LNG Supply dan market demand pun proyek Pertagas ini menunjukan posisi yang sangat aman karena volume demand sesuai dengan volume supply LNG.
Tidak seperti LNG Bojonegara antara Pertamina dengan BSM, yang terdapat porsi unmarketable LNG cukup besar. Di mana available market yang dimiliki hanya untuk IPP Jawa I sebesar 320 MMSCFD dan PLN Jawa Barat sebesar 334 MMSCFD, total keduanya adalah 654 MMSCFD. Sementara target LNG Supply nya sendiri justru mencapai 1000-1500 MMSCFD.
“Kenapa ga gandeng Pertagas? Apalagi Pertamina harus membeli 51 persen saham BSM. Jadi ini artinya jelas JK itu jadi Wapres hanya untuk bisnis,” tegas dia.

Artikel ini ditulis oleh:

Ini Harapan Antasari Kepada Presiden Jokowi

Jakarta, Aktual.co — Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) jilid II Antasari Azhar telah, mengajukan grasi ke Presiden Joko Widodo (Jokowi). 
Pengajuan grasi itu dilakukan secara diam-diam oleh terpidana kurungan 18 tahun kasus pembunuhan Bos Putra Rajawali Banjaran, Nasrudin Zulkarnaen tersebut, sejak 20 Februari 2015 lalu.
Kuasa hukum Antasari, Boyamin Saiman mengatakan, pengajuan grasi secara diam-diam itu dilakukan, karena masih menunggu pendapat dari Mahkamah Agung (MA).
“Pendapat MA keluar Jumat (8/5) lalu dan langsung dikirimkan ke Istana. Berdasar UU Grasi terdapat syarat pendapat MA apakah grasi disetujui atau tidak,” kata Boyamin saat dihubungi Senin (11/5).
Namun, sambung dia, pendapat MA tidak mengikat soal grasi itu, karena keputusannya tetap berada di tangan Presiden Jokowi. Boyamin pun berharap sesegera mungkin Presiden Jokowi mengabulkan grasi Antasari.
“Bulan ini atau bulan depan mudah-mudahan grasi sudah keluar, diharapkan segera diputuskan dan grasinya dikabulkan,” kata dia.

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu

BPK Tantang Bubarkan PES, Pertamina: PES Profitable!

Jakarta, Aktual.co — Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menantang PT Pertamina (Persero) untuk juga membubarkan Pertamina Energy Services (PES) selain PT Pertamina Energy Trading Limited (Petral). Pasalnya, PES dinilai sebagai biang permasalahan mafia migas di Tanah Air.
Menanggapi hal itu, Vice President Corporate Communication Pertamina, Wianda Pusponegoro menjelaskan bahwa saat ini PES telah direposisi keberadaannya dan berperan sebagai international third party trading milik Pertamina.
“Dia (PES) itu memasok ke luar negeri engga cuma ke kita aja. Dia masok ke Azerbaijan, Kazakhstan, Vietnam kemudian Korea Selatan, nah itu semua dengan harga pasar dengan kemampuan pasar internasional dan dia berkembang menjadi perusahaan yang profitable,” kata Wianda saat berbincang dengan Aktual di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, ditulis Senin (11/5).
Maka dari itu, sambungnya, Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto selalu mengatakan bahwa nanti akan dievaluasi semua asetnya Petral Hongkong termasuk PES. “Nah kalau memang beberapa perusahaan ini ternyata profitable, berkembang jadi perusahaan yang bagus kenapa kemudian tidak kita masukan ke dalam salah satu anak perusahaan Pertamina,” ujarnya.
Wianda menegaskan bahwa pihaknya sangat terbuka kepada seluruh pihak auditor yang berwenang. Bahkan diakuinya BPK pun telah selesai melakukan audit terhadap PES.
“Audit open pak, mau diaudit BPK juga oke kita engga masalah karena PES juga sekarang setiap tahun diaudit. Udah selesai auditnya. Jadi kita tidak pernah melarang BPK mengaudit, KPK pun juga mau mengaudit silahkan, proses tender mau dikawal pun silahkan, jadi clear banget buat kita,” ungkapnya.
Sebelumnya, Anggota BPK bidang VII, Achsanul Qosasih menilai dibubarkannya Petral bukanlah sebuah prestasi bagi Pemerintah dan Pertamina selaku induk usaha. Pasalnya, memang sudah sejak lama Petral itu hanya menjadi perusahaan mati.
“Apakah ditutupnya Petral kemudian dikatakan Pertamina hebat? Tidak, karena memang petral itu perusahaan kosong,” kata Achsanul.
Dirinya justru menantang Pemerintah dan Pertamina untuk membubarkan Pertamina Energy Service (PES) yang disebutnya selama ini menjadi biang dari carut marutnya permasalahan Migas di Tanah Air.
“Tapi kalau berani tutup PES, ga ada yang tahu, disitulah yang sebenarnya. Di satu sisi ada juga ISC (Integrated Supply Chain, unit usaha Pertamina), orangnya ISC yah orang PES, orangnya dia-dia juga, dia yang beli dia yang atur, dia yang hukum, dia yang denda, dia yang bayar. Yang begini-begini saya sudah sampaikan dihasil pemeriksaan,” terangnya.
Achsanul juga mengungkapkan bahwa selama ini sudah banyak orang tertipu dengan isu Petral sebagai sumber mafia migas.
“Saya rasa kira semua sudah tertipu, Petral, Petral, Petral di kepala kita itu Petral mafia migas,” sebutnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Marwan Batubara: Peluncuran Pertalite Harus dengan Persetujuan Komisaris dan Pemerintah

Jakarta, Aktual.co — Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (IRESS) Marwan Batubara menilai rencana PT Pertamina (Persero) meluncurkan produk BBM terbaru berlabel Pertalite RON 90 merupakan strategi bisnis yang tepat.
Kendati demikian, rencana Pertamina itu harus tertahan lantaran segala persiapan yang masih berjalan serta permintaan para anggota Parlemen untuk diberi jaminan ketersediaan BBM jenis Premium pasca diluncurkannya Pertalite.
“Saya kira dalam strategi bisnis bagus. Itukan barang non subsidi secara korporasi dianggap menguntungkan oleh Pertamina, mestinya ga ada masalah,” kata Marwan di Jakarta, Senin (11/5).
Marwan meminta pihak Pertamina juga untuk berkoordinasi terlebih dahulu dengan Pemerintah serta komisaris mengingat BBM merupakan produk strategis yang menyangkut kehidupan masyarakat luas.
“Jadi kalau bicara mengenai implementasi rencana program baru mestinya secara internal perusahaan pembahasan dilakukan dengan komisaris. Jadi direksi Pertamina tidak ujug-ujug merilis. Ini program strategis jangka panjang, jadi direksi jangan bertindak sendiri tanpa meminta persetujuan dari komisaris,” paparnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain