13 April 2026
Beranda blog Halaman 36429

Pemerintah Diminta Cekatan Sikapi Kecelakaan Kapal yang Dialami Dubes RI

Jakarta, Aktual.co — PDI Perjuangan meminta pemerintah bertindak cekatan menyikapi insiden jatuhnya helikopter militer Pakistan, yang ditumpangi Duta Besar RI di Islamabad, Burhan Muhamamd dan istrinya, Hery Listyawati, Jumat (8/5) pagi.
Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan, insiden yang telah menewaskan istri Burhan itu harus mendapat perhatian penuh pemerintah RI. Menurut dia, Burhan merupakan duta besar luar biasa dan berkuasa penuh, oleh karena itu sudah selayaknya pemerintah memberikan perhatian serius pada Burhan.
“Beliau sebagai wakil negara tentu saja sangat layak apabila pemerintah melalui Menteri Luar Negeri segera memastikan perawatan terbaik bagi Pak Dubes. Kami harapkan Menteri Luar Negeri Indonesia segera bertindak cepat, melakukan evaluasi, dan segera memindahkan Pak Burhan ke rumah sakit yang representatif guna memastikan kesembuhan beliau,” ujar Hasto di Jakarta.
Dia pun menyampaikan rasa berbela sungkawa atas meninggalnya istri Burhan. “PDIP turut berduka cita atas meninggalnya istri Bapak Burhan Muhammad, ketika sedang melaksanakan tugas negara, dengan melakukan kunjungan ke Khasmir.”
Sampai saat ini memang belum ada kepastian tentang penyebab kecelakaan helikopter militer Pakistan yang ditumpangi Burhan bersama istrinya dan para diplomat asing. Rencananya, helikopter itu akan membawa rombongan diplomat asing menyaksikan peresmian sebuah proyek di wilayah Kashmir, Pakistan.
Namun, dalam perjalanan di wilayah Gilgit, helikopter yang membawa 11 warga asing dan enam warga Pakistan itu terjatuh. Hasto menambahkan, meski belum ada kepastian tentang penyebab kecelakaan, namun upaya Indonesia untuk mendorong perdamaian antara Pakistan dengan India terkait konflik di Kashmir harus tetap berjalan. 
“Kecelakaan helikopter yang saat ini sedang dicari penyebabnya, apakah ada persoalan teknis, atau karena kerawanan di daerah konflik, atau alasan apapun, tetap tidak akan menyurutkan langkah Indonesia di dalam mendorong perdamaian dunia, termasuk bagaimana partisipasi aktif para duta besar RI dalam membantu menyelesaikan persoalan di Pakistan,” kata dia.
Sebelumnya, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir mengonfirmasi bahwa istri Duta Besar RI untuk Pakistan Nyonya Heri Listyawati menjadi salah satu korban meninggal dunia dalam kecelakaan helikopter di Pakistan, Jumat, pada pukul 11.45 waktu setempat.
Dalam helikopter tersebut, dikabarkan empat orang meninggal, yakni istri Dubes RI, istri Dubes Malaysia, Dubes Filipina, dan Dubes Norwegia.
Berdasarkan keterangan dari Atase Pertahanan Pakistan untuk Indonesia Kolonel Muhammad Shahid Siddeeq, lokasi jatuhnya pesawat berada di pedalaman, namun bukan wilayah konflik.

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu

Hasyim Muzadi Tak Berambisi jadi Rais Aam Syuriah PBNU

Jakarta, Aktual.co — Rais Syuriah PBNU Hasyim Muzadi mengaku, tidak ada ambisi untuk maju menjadi calon Rais Aam Syuriah PBNU dalam Muktamar Ke-33 NU di Jombang, Jawa Timur, 1-5 Agustus.
“Tidak ada ceritanya kalau Rais Aam Syuriah PBNU itu mencalonkan diri, nanti bagaimana muktamar saja,” katanya setelah berbicara dalam seminar yang digelar Majelis Alumni IPNU Jatim di Surabaya, Jatim, Sabtu (9/5) dini hari.
Dalam seminar bertajuk “memperkokoh peran nU dalam Keagamaan, Keumatan, dan Kebangsaan” itu, dia menjelaskan Muktamar Ke-33 NU itu bukan soal bagaimana memilih orang (rais aam/ketua umum), tapi bagaimana menyelamatkan NU.
“Kita harus mencari figur yang mampu menyelamatkan NU, karena NU sekarang menghadapi upaya melemahkan NU dari dalam dan luar. Dari dalam ada pelemahan moralitas, manhaj (metodologi beragama), dan ekonomi.”
Dari luar, kata pengasuh Pesantren Mahasiswa Al-Hikam di Malang dan Depok itu, ada penetrasi radikalisme dari Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir (HTI), Syiah, Wahabi, dan semacamnya, serta penetrasi liberalisme.
“Kalau radikalisme dan liberalisme itu dibiarkan menggerogoti NU, maka Indonesia bisa rusak, karena Indonesia akan menjadi seperti Mesir, Yaman, dan sebagainya,” kata dia.
Mantan Ketua Umum PBNU itu mengaku NU akan mengalami upaya pelemahan, karena semua kelompok transnasional melakukan penetrasi ke areal yang selama ini menjadi milik NU, bahkan penetrasi itu juga lewat penyusupan.
“Saya tidak tega kalau NU itu rusak atau bahkan mati dalam 5-10 tahun mendatang. Indikasinya, seperti manhaj dibatasi hingga Quran dan Hadits, lalu Qanun Asasi NU akan dimasukkan AD/ART. Itu mereduksi Qanun Asasi yang lebih luas daripada AD/ART,” katanya.
Indikasi lain, peran ulama NU akan direduksi dengan sistem pemilihan ala “ahlul halli wal aqdy” (AHWA) atau sistem perwakilan untuk musyawarah mufakat untuk menentukan Rais Aam.
“Saya bukan menolak AHWA, tapi saya menolak akibat penerapan AHWA itu. Kalau AHWA diterapkan untuk Rais Aam, tapi Ketua Umum (tanfidziah) dipilih langsung, maka legitimasi Ketua Umum akan lebih tinggi. Kalau Muktamar Situbondo itu semuanya (syuriah dan tanfidziah) dengan AHWA dan ada momentum Asas Tunggal Pancasila,” katanya.
Selain itu, posisi mustasyar (penasehat) dan a’wan (dewan pakar) juga akan dihilangkan. “Kalau musytasyar dibuang, maka hubungan historis pengurus NU dengan leluhur NU akan hilang, lalu a’wan yang hilang akan menyulitkan para ulama memahami zaman,” katanya.
Oleh karena itu, pelemahan NU dari dalam dan luar itu harus dicegah. “Tidak penting siapa yang memimpin NU, tapi kita harus mencari siapa yang bisa menyelamatkan NU secara akidah, syariah, manhaj, moralitas, dan trust.”
Dalam forum dialog yang berlangsung hingga larut malam itu, Hasyim Muzadi sempat menyatakan kriteria ideal kepemimpinan NU ke depan adalah Rais Aam dari kalangan yang mampu memperkokoh keagamaan, keumatan, dan kebangsaan.
“Untuk Ketua Umum PBNU itu sebaiknya dari kalangan manajer yang mampu menata organisasi, sehingga posisi Rais Aam dan Ketua Umum PBNU akan saling melengkapi sesuai kompetensi masing-masing,” katanya dalam seminar yang dibuka Ketua Majelis Alumni IPNU Jatim H Muzammil Syafii itu.
Sementara itu, politisi NU yang kini menjadi anggota Komisi VIII DPR RI HM Hasan Aminudin selaku pembicara lain menegaskan bahwa kepemimpinan NU itu perlu gerakan perubahan untuk mengatasi kelemahan NU saat ini.
“Ibaratnya, NU perlu pemimpin yang menginjak gas secara full, bukan menginjak rem seperti sekarang. Rais Aam itu ya seperti Pak Hasyim Muzadi, sedangkan Ketua Umum PBNU itu seperti Gus Sholah, Mahfud MD, Mohammad Nuh, atau Nusron Wahid,” katanya.
Senada dengan itu, intelektual muda NU yang juga Dekan Fakultas Syariah UIN Sunan Ampel Surabaya Dr HM Sahid MAg menyatakan setuju jajaran tanfidziyah NU berkarakter manajer, sebab bila berposisi seperti syuriah akan justru mengambil peran syuriah.

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu

Emas Naik Setelah Laporan AS Bervariasi

Jakarta, Aktual.co — Emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange menetap lebih tinggi pada, Sabtu (9/5) pagi WIB, setelah laporan penggajian non pertanian yang keluar dari negara itu bervariasi.
Kontrak emas yang paling aktif untuk pengiriman Juni bertambah 6,7 dolar AS atau 0,57 persen, menjadi berakhir di 1.188,90 dolar AS per ounce.
Departemen Tenaga Kerja AS mengatakan, total penggajian tenaga kerja non pertanian meningkat 223.000 pada April, dan tingkat pengangguran pada dasarnya tidak berubah di 5,4 persen dari bulan sebelumnya. Kenaikan pekerjaan terbaru sedikit di atas konsensus pasar 220.000.
Namun, pertumbuhan angka penggajian non pertanian Maret direvisi turun dari 126.000 menjadi 85.000, tingkat terendah sejak Juni 2012. Para analis mengatakan data bervariasi mendukung spekulasi pasar bahwa Federal Reserve mungkin tidak mulai menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
Perak untuk pengiriman Juli bertambah 16,8 sen atau 1,03 persen, menjadi ditutup pada 16,465 dolar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman Juli naik 12,1 dolar atau 1,07 persen, menjadi ditutup pada 1.143,50 dolar AS per ounce.

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu

Kelengkeng Jadi Primadona Baru di Kedalaman Kalteng

Jakarta, Aktual.co — Tanaman lengkeng atau kelengkeng (Dimocarpus longan) dataran rendah jenis Diamond River dan Pingpong yang selama ini hanya dikembangkan dan dibudidayakan di Pulau Jawa, kini tumbuh subur di Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah.
Budidaya lengkeng di salah satu kabupaten pedalaman Sungai Barito ini memang masih jarang dilakukan. Namun melihat dari hasil tanaman di sentra pembibitan holtikulutra pemerintah Kabupaten Barito Utara di kilometer 7 Jalan Negara Muara Teweh-Puruk Cahu, kedua jenis ini cocok dan tumbuh subur.
“Memang sebelumnya saya ragu lengkeng bisa tumbuh di daerah ini. Namun dari hasil uji coba kami lakukan, tanaman buah itu cocok dan rasanya tetap manis,” kata Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Balai Benih Hortikultura pemerintah Kabupaten Barito Utara, Mujiburahman, Sabtu (9/5).
Perbedaan kelengkeng Pingpong dan Diamond River, Kelengkeng Pingpong merupakan jenis kelengkeng yang memiliki ukuran yang cukup besar sehingga dipersamakan dengan bola pingpong, daging sedang, biji besar, rasanya manis, buah tidak se-lebat Kelengkeng Diamond River.
Kelengkeng Diamond River memiliki ukuran yang lebih kecil dari Kelengkeng Pingpong, daging tebal, biji kecil, rasanya manis, buahnya lebih lebat dari kelengkeng Pingpong.
Kelebihan dari lengkeng dataran rendah varietas Diamond River berasal dari Tiongkok dan Pingpong yang berasal dari Vietnam ini cepat berbuah dan pada umur 16 -20 bulan mulai belajar berbunga dan berbuah.
Pada November 2019 lalu pemerintah daerah telah melakukan uji coba menanam sebanyak 318 bibit lengkeng yang ditanam di kawasan sentra pembibitan buah itu seluas dua hektare.
Ratusan bibit lengkeng dataran rendah tropis ini, bibitnya didatangkan dari Jawa, melalui salah satu majalah yang terkenal dengan pembibitan tanaman buah-buahan di Tanah Air.
Dari hasil uji coba itu sudah beberapa kali berbuah, namun tidak serentak, sehingga pihaknya melakukan terobosan dengan memberikan perlakuan khusus melalui perawatan dan pemberian pupuk yang rutin sehingga hasilnya panen hampir semua pohon berbuah secara serentak.
Sehingga pada tanggal 20 April 2015 Bupati Barito Utara, Nadalsyah bersama sejumlah pejabat lainnya melakukan panen secara besar-besaran dan buah lengkeng yang di panen tersebut semuanya sekitar 200 kilogram.
Selain Bupati Barito Utara, pejabat lainnya yang ikut panen lengkeng Wakil Bupati Ompie Herby, Ketua DPRD Set Enus Y Mebas, dan Sekretaris Daerah pemkab Barito Utara, Jainal Abidin dan pejabat lainnya.
“Kita harapkan tanaman lengkeng yang tumbuh subur ini dapat disosialisasikan ke masyarakat sehingga nantinya warga juga dapat membudidayakan tanaman ini baik di kebun maupun pekarangan rumah,” ucap Bupati Barito Utara, Nadalsyah.
Tanaman buah lengkeng itu juga menjadi lokasi studi banding bagi sejumlah anggota DPRD Kabupaten Murung Raya yang merupakan kabupaten pemekaran dari Kabupaten Barito Utara tahun 2002 lalu.
Di lokasi tanaman lengkeng itu memang saat ini hanya tersisa 200 pohon, karena sebagian bibit banyak yang di curi orang yang tidak dikenal, bahkan selain bibit yang baru ditanam juga bibit yang masih di pohon diangkut pencuri.
Mungkin ketika itu bibit lengkeng masih mahal dan sulit di cari sehingga tanaman tersebut menjadi sasaran pencuri.
Kembangkan Bibit Melihat hasil tanaman lengkeng yang tumbuh subur sehingga dalam tiga tahun terakhir UPTD Balai Benih Hortikultura Barito Utara mengembangkan bibit lengkeng untuk disalurkan kepada masyarakat tersebar di sembilan kecamatan, namun jumlahnya masih sedikit.
Tahun 2015 ini dikembangkan bibit sebanyak 2.000 pohon dengan pola sambung susu.Tahun ini bibit yang dikembangkan lebih banyak dibanding tahun sebelumnya.
“Kami siap mengembangkan lebih banyak lagi, kalau memang didukung dananya oleh pemerintah daerah tahun depan,” harap Kepala UPTD Balai Benih Hortikultura setempat,Mujiburahman.
Selain disalurkan secara cuma-cuma kepada masyarakat, bibit itu dijual kepada warga dengan harga Rp75.000 per bibit lebih murah dibanding dipasaran dengan harga berkisar antara Rp100 ribu sampai Rp200 ribu per bibit.
Namun bibit yang ada dipasaran kualitasnya masih diragukan, ada oknum penjual yang sengaja menjual bibit palsu, sehingga sering warga yang membeli mengeluhkan karena lengkengnya bertahun-tahun tidak berbuah.
Setelah melihat hasil panen buah lengkeng tersebut, kini warga mulai melirik bibit yang dikembangkan UPTD Balai Benih Hortikultura itu.
Selain warga Muara Teweh, daerah lain yang sudah membeli bibit itu diantaranya sejumlah kabupaten di Kalteng yakni Murung Raya, Barito Selatan dan Kota Palangka Raya.
Namun saat ini masih belum ada yang membeli dalam jumlah yang banyak, warga yang membeli bibit lengkeng paling banyak 50 bibit.
“Memang kami tidak mengembangkan lagi secara luas tanaman lengkeng ini, kecuali menambal sulam tanaman yang hilang atau mati.Kami hanya sebagai contoh bagi masyarakat untuk mengembangkan lengkeng yang punya prospek ekonomi yang bagus,” jelas dia.
Pohon lengkeng yang berumur lima tahun di kebun tersebut bisa menghasilkan buah sebanyak 40 kilogram per pohon sekali panen.Bayangkan berapa penghasilan petani kalau dijual harga buah lengkeng dataran tinggi dipasaran Muara Teweh berkisar Rp25.000 sampai Rp40 ribu/kilogram.
Jadi tanaman lengkeng itu sangat cocok bagi warga yang ingin berbisnis buah lengkeng dengan membudidayakannya, karena kita bisa membuat panen bisa dua kali dalam setahun baik ditanam di lahan terbuka maupun dalam pot.
Bandingkan pohon rambutan yang hanya berbuah bisa dalam se tahun namun harganya pun tidak setinggi lengkeng.
“Kami mendorong petani atau warga di daerah ini untuk mengembangkan tanamam lengkeng, karena perlakuan menanamnya juga mudah dan tidak cerewet.Bahkan bagi warga yang ingin mengembangkan bibit lengkeng sendiri bisa belajar di UPTD ini, kami terbuka untuk memberikan pelajaran membudayakan tanaman itu,” kata Mujiburahman.
Panennya buah lengkeng yang ada dikebun pembibitan tersebut, mendapat perhatian dan kunjungan legislator setempat sejumlah anggota DPRD Barito Utara yang merasa tidak percaya dilokasi itu tumbuh buah lengkeng yang rasanya manis dan segar.
Selama ini wakil rakyat itu hanya kenal buah lengkeng dataran tinggi yang dijual di pasaran di Muara Teweh, setelah melihat langsung kebun lengkeng itu, mereka berjanji menambahkan alokasi dana pembibitan melalui APBD kabupaten tahun 2016 mendatang.
“Memang rasanya lebih segar dibanding buah lengkeng yang ada dipasaran, sehingga perlu didukung untuk dikembangkan lebih banyak bibit lengkeng tersebut,” kata Wakil Ketua DPRD Barito Utara, Hj Mery Rukaini.
Kawasan Agrowisata Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Peternakan Kabupaten Barito Utara, Setia Budi mengatakan untuk tahun ini buah lengkeng yang ada di balai benih tersebut tidak dijual kepasaran atau masyarakat.
“Buah itu akan kami jual pada musim panen tahun depan, dengan cara mereka (warga) bayar masuk dan makan buah sepuas-puasnya di tempat tersebut, kalau mau bawa pulang makan kita timbang,” katanya.
Namun rencana menjual buah tersebut harus dibuat produk hukumnya yakni menyiapkan peraturan daerah tentang penjualan buah oleh Balai Benih Hortikultura milik pemerintah daerah.
Apalagi pihaknya tahun 2016 mendatang memprogramkan pembangunan kawasan agrowisata dengan sasaran luas mencapai puluhan hektare.
Kawasan agrowisata ini nantinya berfungsi sebagai tempat pembibitan hortikultura dan wisata yang terletak di kilometer 7 Jalan Negara Muara Teweh-Puruk Cahu ini sudah ditanami puluhan jenis tanaman buah-buahan atau ratusan pohon induk seluas 11 hektare.

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu

Bareskrim: TPPI Sudah Tak Sehat Sejak Tahun 2009

Jakarta, Aktual.co — Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri Brigjenpol Victor E. Simanjuntak menyebut, kondisi perusahaan PT Trans Pasific Petrochemical Indotama (TPPI) yang saat ini diusut Kepolisian sudah tidak sehat pada tahun 2009.
“Pada 2009, sudah diketahui bahwa sebenarnya TPPI itu tidak sehat,” kata Victor di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (8/5).
Selain kondisi perusahaan terindikasi buruk, sambung dia, juga terungkap bahwa tidak ada jaminan fidusia yang diserahkan kepada SKK Migas terkait penunjukan PT TPPI sebagai pelaksana penjualan kondensat. “Jaminan fidusianya tidak ada,” kata dia.
Terkait hal ini, pihaknya mempertanyakan alasan SKK Migas tetap menunjuk PT TPPI sebagai pelaksana penjualan kondensat untuk kurun waktu 2009-2010. “Seharusnya dari situ saja sudah bisa diketahui kalau TPPI tidak memenuhi syarat sebagai mitra penjualan kondensat milik negara. Apakah BP Migas tahu TPP tidak sehat sehingga tidak melakukan penilaian, saya belum tahu soal itu,” katanya.
Jaminan fidusia merupakan hak jaminan atas benda bergerak atau benda tidak bergerak, khususnya bangunan yang tidak dibebani hak tanggungan, sebagai agunan bagi pelunasan utang. Jaminan fidusia diberikan oleh debitur kepada kreditur sebagai agunan pelunasan utang.
Penyidik Bareskrim Polri telah menetapkan tiga orang sebagai tersangka dalam kasus tersebut yakni DH, HW dan RP. Sementara sebanyak 14 saksi rencananya akan diperiksa pada pekan depan untuk mengungkap kasus ini.
Sebelumnya, pada Selasa (5/5) hingga Rabu (6/5) dini hari, penyidik Bareskrim Polri menggeledah kantor SKK Migas yang berlokasi di Wisma Mulia, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan dan kantor PT TPPI di Mid Plaza II Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat.
Dari penggeledahan tersebut, penyidik menyita sejumlah dokumen. Kasus ini bermula dari penunjukan langsung SKK Migas terhadap PT TPPI terkait penjualan kondensat pada kurun waktu 2009-2010.
Tindakan ini menyalahi peraturan BP Migas Nomor KPTS-20/BP00000/2003-50 tentang Pedoman Tata Kerja Penunjukan Penjual Minyak Mentah/Kondensat Bagian Negara dan Keputusan Kepala BP Migas Nomor KPTS-24/BP00000/2003-S0 tentang Pembentukan Tim Penunjukan Penjualan Minyak Mentah Bagian Negara.
“Ini melanggar ketentuan Pasal 2 dan atau Pasal 3 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan atau Pasal 3 dan Pasal 6 UU Nomor 15 Tahun 2002 Tentang TPPU sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 25 Tahun 2003, dengan ancaman hukuman 20 tahun penjara.”
Akibat kasus ini, diperkirakan negara dirugikan sebesar 156 juta dolar AS atau Rp2 triliun.

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu

Salahi Izin Tinggal, WN Korea Diamankan Imigrasi Jember

Jakarta, Aktual.co — Petugas Kantor Imigrasi Jember, Jawa Timur, mengamankan dua warga negara asing (WNA) asal Korea yang sedang berada di salah satu pabrik arang di Kabupaten Situbondo.
“Kedua warga Korea yang diamankan bernama Lee Kang Bok dan Cho Yung Kill. Mereka menyalahi izin tinggal di Indonesia,” kata Kepala Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian Kantor Imigrasi Jember Haryo Sakti di Kantor Imigrasi Jember, Jumat (8/5).
Menurut dia, kedua WNA tersebut sudah melebihi batas waktu tinggal di Indonesia dan sesuai dokumennya hanya memiliki izin tinggal untuk berkunjung di Indonesia selama 60 hari, namun keduanya tinggal dan bekerja di Situbondo sudah melebihi waktu tersebut.
“Petugas langsung membawa kedua warga Korea itu ke Kantor Imigrasi Jember untuk dimintai keterangan dan saat ini masih diperiksa,” kata dia.
Kedua WNA itu, lanjut dia, melanggar Undang-undang Nomor 6 Tahun 2001 tentang Keimigrasian yakni pasal 122, karena mereka melakukan penyalahgunaan izin tinggal dengan melakukan kegiatan bekerja. “Jika sesuai UU Keimigrasian, keduanya bisa saja dikenakan tindakan administratif keimigrasian berupa deportasi dan mengusulkan namanya ke dalam daftar penangkalan.”
Kendati demikian, kata Haryo, pihak Imigrasi Jember masih mendalami dan melakukan pemeriksaan terhadap kedua warga Korea tersebut, sehingga sanksinya masih menunggu hasil pemeriksaan selesai.
“Hasil pemeriksaan sementara, keduanya tidak ada keterlibatan dengan jaringan apapun dan kemungkinan besar memang murni bekerja di Situbondo, namun semua kemungkinan itu masih diperiksa,” katanya.
Selain menangkap dua WNA asal Korea, petugas Imigrasi Jember juga menemukan lima WNA yang bekerja di pabrik arang Situbondo itu. “Ada tiga WNA asal India dan dua WNA asal Tiongkok di lokasi yang sama, namun kelima WNA itu masih memiliki izin tinggal di Indonesia, sehingga petugas tidak mengamankan mereka ke Kantor Imigrasi Jember,” katanya.
Dia mengatakan petugas Imigrasi mengamankan paspor dan visa kelima WNA tersebut karena mereka tidak bisa menunjukkan rencana penempatan tenaga kerja asing (RPTKA).
Sementara itu, di Banyuwangi, petugas Imigrasi Jember juga sempat mengamankan sekitar tujuh WNA asal Tiongkok, namun setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, ketujuh WNA tersebut memiliki dokumen yang lengkap untuk berkunjung ke Indonesia.
“Mereka memiliki visa kunjungan dan dokumennya lengkap, sehingga kami lepaskan,” katanya.
Kantor Imigrasi Jember menggelar “Operasi Bumi Pura Wira Wibhawa 2015” di Kabupaten Jember, Situbondo, dan Banyuwangi yang merupakan wilayah kerja Kantor Imigrasi Jember dan kegiatan tersebut dilakukan serentak di seluruh Indonesia selama tiga hari (5-7 Mei 2015).

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu

Berita Lain