4 April 2026
Beranda blog Halaman 369

Produksi Tebu Naik, Pemerintah Targetkan Swasembada Gula Putih Tahun Depan

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman. Aktual/HO-Humas Kementan

Jakarta, Aktual.com — Pemerintah menargetkan swasembada gula kristal putih (GKP) atau gula konsumsi pada tahun depan. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan, peningkatan produksi tebu yang terus terjadi akan berbanding lurus dengan kenaikan produksi gula nasional.

“Kalau produksi tebu meningkat, berarti gulanya meningkat. Saya sudah lebih dari 15 tahun di gula. Sudah hampir 20 tahun ini, bisa dibilang sudah tua di gula,” kata Amran saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, Senin (29/12/2025).

Amran kembali menekankan bahwa produksi gula sangat ditentukan oleh ketersediaan bahan baku tebu. Menurutnya, selama produksi tebu meningkat secara konsisten, capaian produksi gula nasional akan ikut terdongkrak.

“Kalau produksi tebu meningkat, sudah otomatis produksi gula meningkat,” ujarnya.

Terkait rendemen, Amran menilai kondisi saat ini sudah berada pada level yang cukup baik. Rendemen tebu nasional saat ini berada di kisaran 7 persen.

“Sekarang rendemen 7. Itu sudah bagus kalau 7,” ucapnya.

Dengan kondisi tersebut, Amran optimistis target swasembada gula konsumsi dapat tercapai pada 2026. Sementara untuk gula industri, pemerintah menargetkan swasembada dalam kurun waktu sekitar tiga tahun ke depan.

“Jadi, tahun depan mudah-mudahan sudah bisa swasembada gula putih atau gula konsumsi. Untuk industri, mudah-mudahan tiga tahun. Kita kerja keras,” katanya.

Lebih lanjut, Amran membeberkan salah satu strategi utama pemerintah menuju swasembada gula, yakni pembongkaran tanaman ratoon atau ratun yang sudah tidak produktif.

“Langkah-langkahnya adalah pertama, ratun ini sudah 86 persen itu harus dibongkar. Sekarang kita akan bongkar berturut-turut selama tiga tahun, 2025, 2026, dan 2027,” jelasnya.

Ia menyebutkan, total lahan tebu yang akan dibongkar mencapai sekitar 300 ribu hektare dari total sekitar 500 ribu hektare lahan tebu nasional.

“Itu kurang lebih 300 ribu hektare dari total sekitar 500 ribu hektare. Kalau itu jadi kenyataan, insya Allah, gula putih swasembada,” tegas Amran.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi

Fraksi NasDem: Pilkada Lewat DPRD Selaras dengan Konstitusi

Viktor Bungtilu Laiskodat

Jakarta, aktual.com – Ketua Fraksi Partai NasDem DPR RI, Viktor Bungtilu Laiskodat, menegaskan bahwa pemilihan kepala daerah melalui DPRD memiliki pijakan konstitusional yang selaras dengan Undang-Undang Dasar 1945 serta nilai-nilai Pancasila.

Viktor menyampaikan bahwa konstitusi Indonesia tidak menetapkan satu model tunggal dalam demokrasi elektoral di tingkat daerah. Karena itu, mekanisme pilkada melalui DPRD dapat dipandang sebagai bentuk demokrasi perwakilan yang sah dan konstitusional.

“Konstitusi kita tidak mengunci demokrasi pada satu model. Pilkada melalui DPRD memiliki dasar konstitusional yang sah dan tetap berada dalam koridor demokrasi,” ujar Viktor di Jakarta, Senin (29/12/2025).

Viktor menegaskan bahwa perubahan mekanisme pilkada bukan dimaksudkan untuk mematikan demokrasi, melainkan untuk memastikan demokrasi tetap berjalan secara sehat dan tidak tereduksi hanya menjadi ritual elektoral lima tahunan.

“Demokrasi yang hidup adalah demokrasi yang mampu beradaptasi, memperbaiki diri, dan tetap menjamin keterwakilan rakyat. Selama prinsip partisipasi, akuntabilitas, dan kontrol publik dijaga, demokrasi tidak sedang dimatikan, tetapi justru diperkuat,” ujarnya.

Menurutnya, demokrasi tidak boleh dimaknai semata-mata sebagai prosedur memilih, tetapi sebagai instrumen untuk melahirkan kepemimpinan daerah yang berintegritas, efektif, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Lebih lanjut, Viktor menegaskan bahwa gagasan pilkada melalui DPRD juga sejalan dengan nilai Pancasila, khususnya Sila Keempat tentang kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Menurutnya, demokrasi Indonesia sejak awal tidak hanya dirancang sebagai demokrasi elektoral, tetapi sebagai demokrasi yang menempatkan musyawarah dan perwakilan sebagai fondasi pengambilan keputusan politik.

“DPRD adalah lembaga perwakilan yang lahir dari mandat rakyat. Mekanisme pilkada melalui DPRD dapat menjadi ruang untuk menghadirkan kepemimpinan daerah yang lahir dari proses permusyawaratan, kebijaksanaan, dan tanggung jawab kolektif,” jelas Viktor.

Ia juga mengingatkan bahwa berbagai kasus hukum yang menjerat kepala daerah belakangan ini harus menjadi refleksi bersama. Menurutnya, tuntutan terhadap integritas personal kepala daerah harus dibarengi dengan pembenahan sistem politik yang membentuk kepemimpinan di daerah.

“Kita tidak bisa hanya menuntut integritas individu, sementara sistem politiknya masih mahal, kompetitif secara tidak sehat, dan rentan mendorong penyalahgunaan kekuasaan,” ungkapnya.

Viktor menilai bahwa kesepahaman nasional menjadi kunci agar perbedaan pandangan mengenai sistem pilkada tidak berkembang menjadi polarisasi politik. Stabilitas politik dan kesinambungan pembangunan daerah, menurutnya, harus dijaga sebagai kepentingan bersama.

“Perbedaan pandangan boleh ada, tapi jangan sampai ganggu persatuan dan arah kemajuan bangsa” ujarnya.

Ia pun mengajak seluruh elemen bangsa untuk menyikapi wacana pilkada melalui DPRD dengan kejernihan nalar dan kedewasaan sikap, serta tetap berpegang pada nilai-nilai konstitusi sebagai pijakan bersama.

“Demokrasi harus kita pastikan mampu menghasilkan kepemimpinan daerah yang stabil, bertanggung jawab, dan bebas dari tekanan sistemik yang justru menjauhkan kekuasaan dari kepentingan rakyat,” pungkas Viktor.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Mentan Amran Klaim Stok Beras Nasional Tertinggi Sepanjang Sejarah Indonesia

Jakarta, Aktual.com — Pemerintah memastikan pasokan pangan nasional dalam kondisi sangat aman. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan stok beras nasional saat ini mencapai 3,39 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah Indonesia merdeka.

“Ini stok kita per detik ini, tadi rapat, 3,39 juta ton,” kata Amran usai rapat koordinasi terbatas penetapan Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) 2026 di Jakarta, Senin (29/12/2025).

Amran menegaskan, ketersediaan beras tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi nasional, menjaga stabilitas harga, serta menopang penyaluran bantuan pangan, termasuk di wilayah terdampak bencana.

“Stok kita sangat aman. Ini tertinggi di akhir tahun selama Indonesia merdeka,” ujarnya.

Meski sejumlah daerah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat terdampak bencana, Amran memastikan kondisi tersebut tidak mengganggu ketahanan pangan nasional. Pemerintah, kata dia, terus mengawal pemulihan lahan pertanian agar produksi tetap terjaga.

Ia menyebut, bantuan penanganan dampak bencana telah disalurkan dengan nilai mencapai Rp1,2 triliun, ditambah bantuan solidaritas dari mitra dan pegawai Kementerian Pertanian sebesar Rp75 miliar. Sekitar 11 ribu hektare sawah tercatat rusak total dan akan segera direhabilitasi.

Selain cadangan beras pemerintah sebesar 3,39 juta ton, total stok beras nasional saat ini diperkirakan mencapai 9,9 juta ton. Kondisi pasokan yang kuat tersebut turut mendorong penurunan harga beras sekitar 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Dalam pengelolaan pasokan, Perum Bulog tetap berperan sebagai penyangga utama stok pangan nasional. Pengadaan beras dilakukan dari petani lokal guna menjaga kesinambungan produksi dalam negeri sekaligus menstabilkan harga pasar.

Amran menegaskan pemerintah juga menyiapkan langkah stabilisasi untuk komoditas pangan strategis lain, seperti daging sapi, telur, dan ikan, apabila terjadi gangguan pasokan.

Di sisi pengawasan, ia mengingatkan pelaku usaha agar tidak memanfaatkan momentum hari besar keagamaan untuk menaikkan harga secara tidak wajar. Pemerintah, kata Amran, telah menemukan pelanggaran pada sejumlah komoditas, terutama minyak goreng, dan menindaklanjutinya melalui Satgas Pangan.

(RACHMA PUTRI)

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi

Refleksi Politik 2025: Isu Lama, Negosiasi Baru Menuju 2029

Jakarta, Aktual.com — Tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto pada 2025 menunjukkan bahwa stabilitas koalisi besar tidak serta-merta meredam dinamika politik nasional. Meski pemerintahan relatif solid secara formal, manuver elite dan tarik-menarik kepentingan partai tetap mewarnai panggung politik sepanjang tahun.

Pengamat politik Arifki Chaniago menilai 2025 bukan tahun politik yang sepi. Konsolidasi pemerintahan, kata dia, berjalan beriringan dengan kontestasi wacana di dalam dan di sekitar koalisi pendukung pemerintah.

“Koalisi besar memang menciptakan stabilitas, tetapi tidak menghilangkan kompetisi politik. Justru kompetisinya berubah bentuk, dari frontal menjadi simbolik dan berbasis isu,” ujar Arifki kepada Aktual.com, Senin (29/12/2025).

Salah satu dinamika yang mencuat sepanjang 2025 adalah kembali menguatnya isu ijazah Presiden ke-7 Joko Widodo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Menurut Arifki, isu tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari upaya delegitimasi politik yang berdampak luas.

“Delegitimasi Jokowi punya efek berlapis. Salah satunya membuka kembali ruang spekulasi tentang arah kekuasaan ke depan, termasuk soal konfigurasi politik menuju 2029,” katanya.

Ia menjelaskan, selama ini kesinambungan kekuasaan dianggap relatif mapan. Namun, munculnya kembali isu-isu lama dinilai sebagai sinyal bahwa peta politik belum sepenuhnya terkunci.

Dinamika koalisi juga tercermin dari pernyataan elite partai. Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, misalnya, melontarkan gagasan “taubat nasuha” pascabencana banjir di Sumatera. Menurut Arifki, pernyataan tersebut tidak hanya bernuansa moral, tetapi juga memiliki pesan politik.

“Pernyataan itu sekaligus mengingatkan bahwa basis dukungan politik di daerah tertentu masih menjadi arena perebutan pengaruh,” ujarnya.

Sementara itu, wacana pembentukan koalisi permanen yang disampaikan Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia dibaca sebagai upaya mengunci stabilitas jangka panjang. Namun, Arifki menilai gagasan tersebut justru menunjukkan masih adanya kecemasan politik di internal koalisi.

“Jika semua benar-benar nyaman, ide koalisi permanen tidak perlu terus diulang,” katanya.

Menurut Arifki, refleksi politik nasional 2025 menunjukkan bahwa pemerintahan baru tidak otomatis melahirkan politik baru. Di balik stabilitas formal, politik Indonesia tetap dinamis, penuh negosiasi, dan sarat manuver elite menuju 2029.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi

Mensesneg Pastikan Presiden Prabowo Teken KUHAP, Resmi Jadi Undang-Undang

Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi. Aktual/BPMI.SETNEG

Jakarta, aktual.com – Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi memastikan Presiden Prabowo Subianto telah menandatangani Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang sebelumnya disahkan oleh DPR. Dengan penandatanganan tersebut, KUHAP resmi berlaku sebagai undang-undang.

Hal itu disampaikan Prasetyo usai menghadiri konferensi pers Pemulihan dan Rencana Strategis Pascabencana di Sumatra Jelang Akhir Tahun di Posko Terpadu Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (29/12/2025).

Menjawab pertanyaan wartawan terkait status penandatanganan KUHAP oleh Presiden, Prasetyo membenarkannya.
“Ya,” ujar Prasetyo singkat.

Ia mengungkapkan, penandatanganan KUHAP dilakukan pada pertengahan Desember 2025, meski tidak menyebutkan tanggal pastinya.
“Iya,” kata Prasetyo saat dikonfirmasi kembali.

Prasetyo juga memastikan KUHAP yang baru telah resmi memiliki nomor undang-undang. Selain itu, pemberlakuannya akan dilakukan bersamaan dengan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

“Sudah,” ujarnya saat ditanya apakah KUHAP telah resmi menjadi undang-undang. Ia menegaskan, penerapan KUHAP akan berjalan serentak dengan KUHP.
tandasnya.

Dengan pemberlakuan tersebut, pemerintah memastikan sistem hukum pidana materiil dan hukum acara pidana akan berjalan selaras dalam kerangka hukum nasional yang baru, yang mulai berlaku pada Januari 2026.

Sebelumnya, Kementerian Hukum menyatakan tengah menyiapkan tiga peraturan turunan sebagai aturan pelaksana menjelang pemberlakuan KUHP dan KUHAP baru. Pemerintah optimistis seluruh peraturan tersebut dapat rampung dan diberlakukan bersamaan pada awal 2026.

Artikel ini ditulis oleh:

Tino Oktaviano

Pemerintah Salurkan Bantuan Rp15–30 Juta dan Siapkan Hunian bagi Korban Bencana Sumatra

Jakarta, Aktual.com — Pemerintah resmi menyalurkan bantuan renovasi rumah serta menyiapkan hunian sementara dan hunian tetap bagi warga terdampak bencana alam di Sumatra. Kebijakan tersebut diumumkan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian dalam konferensi pers pemulihan pascabencana di Posko Terpadu Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (29/12/2025).

Mendagri menyatakan, bantuan renovasi diberikan sebesar Rp15 juta untuk rumah rusak ringan dan Rp30 juta untuk rumah rusak sedang. Sementara itu, warga dengan rumah rusak berat atau hilang akan difasilitasi hunian sementara dan hunian tetap.

“Untuk rusak ringan Rp15 juta, rusak sedang Rp30 juta. Untuk rusak berat, pemerintah menyiapkan hunian sementara dan hunian tetap,” ujar Tito.

Ia menjelaskan, pemerintah memberikan fleksibilitas kepada warga terdampak untuk memilih skema penanganan sesuai kondisi di lapangan, termasuk bagi warga yang memilih tinggal sementara bersama keluarga atau kerabat.

Selain bantuan renovasi, pembangunan hunian tetap akan dilakukan melalui berbagai skema, mulai dari Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Danantara, hingga dukungan gotong royong lintas sektor.

Namun demikian, Tito menegaskan percepatan penyaluran bantuan sangat bergantung pada kelengkapan data dari pemerintah daerah. Pemda diminta segera menyelesaikan pendataan rumah terdampak secara rinci.

“Data harus by name by address, baik untuk rusak ringan, sedang, maupun berat. Ini menjadi dasar penyaluran bantuan,” tegasnya.

Berdasarkan data sementara dari tiga provinsi terdampak di Sumatra, tercatat lebih dari 213 ribu rumah mengalami kerusakan, dengan mayoritas masuk kategori rusak ringan dan rusak sedang.

Pemerintah berharap bantuan dapat segera disalurkan agar warga terdampak bisa kembali menempati rumah masing-masing dan aktivitas sosial ekonomi segera pulih.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi

Berita Lain