18 Januari 2026
Beranda blog Halaman 37138

Ekonom: Kompensasi Bukan Solusi Atasi Masalah Penaikkan BBM

Jakarta, Aktual.co — Ekonom Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Megawati Intitute mengungkapkan pemberian kompensasi untuk mengatasi kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) merupakan hal yang tidak tepat. Pasalnya, pemerintah belum memiliki database yang lengkap dan tepat sasaran.

“Kompensasi tidak tepat kalau dialokasikan kepada masyarakat yang tergolong mampu secara ekonomi,” ujar Ekonom Iman Sugema saat diskusi polemik sindo trijaya FM, bertajuk “Pusing Pala Rakyat”, Cikini, Jakpus, Sabtu (4/3).

Menurutnya, kompensasi tidak diperlukan karena saat ini pemerintah belum memiliki database yang tepat dalam memberikan kompensasi kepada orang yang berhak menerima dana kompensasi.

“Dari data kita, 70 persen kompensasi itu kebanyakan orang yang dalam tataran mampu, artinya tidak tepat sasaran,” pungkasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Pengamat: Terapkan Ekonomi Pasar, Pemerintah Terkesan Malu-malu

Jakarta, Aktual.co — Mekanisme penentuan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang diterapkan Pemerintah jelas-jelas menunjukkan penentuan harga minyak dilepas berdasarkan harga pasar. Demikian disampaikan Peneliti Indef Imaduddin Abdullah dalam diskusi bertajuk ‘pusing pala rakyat’.

“Pemerintah menerapkan ekonomi pasar seakan terlihat malu-malu untuk mengakui,” kata Abdullah di Jakarta, Sabtu (4/4).

Menurutnya, pembelaan pemerintah yang menolak mengikuti sistem harga minyak dunia justru dianggap Abdullah hanya dalih agar terhindar dari pelanggaran undang-undang.

“Pemerintah harus tegas. Indonesia selalu defisit 10 tahun terakhir di sektor energinya. Bahkan Dan tidak ada langkah perbaikan,” ungkapnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Elpiji Naik, “Pusing Pala Rakyat”

Dari kiri ke kanan, Pengamat Ekonomi dan Keuangan (Indef) Imaduddin Abdullah, Direktur Center for Budget Anlysis Ucok Skydafi, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Satya W Yudha, Jubir Kementerian ESDM Saleh Abdurrahman dan Pengamat Ekonomi IPB Iman Sugema saat menjadi nara sumber pada acara diskusi polemik “Pusing Pala Rakyat” di Warung Daun, Jakarta, Sabtu (4/4/2015). Kenaikan elpiji 12 kg dapat mendorong inflasi pada April. Dampak inflasi dari konsumsi elpiji ini diperkirakan di level 0,2%. AKTUAL/JUNAIDI MAHBUB

Pengamat: Penaikkan BBM Bikin Masyarakat Miskin Semakin Terpuruk

Jakarta, Aktual.co — Pengamat ekonomi Imaduddin Abdullah menilai penaikkan Bahan Bakar Minyak (BBM) menjadikan masyarakat miskin menjadi korban. Pasalnya, kenaikan BBM jenis premium maupun solar akan memicu penaikkan harga-harga barang pokok lainnya.

“Ketika pemerintah menaikkan harga BBM, masyarakat miskin menjadi korban,” ujar Imaduddin Abdullah di Jakarta, Sabtu (4/4).

Menurutnya, kenaikan BBM kali ini terlalu cepat dan akan membebani masyarakat miskin. Pasalnya, dengan naiknya BBM semua bahan pokok juga akan naik.

“Dua minggu terlalu cepat, kenaikan BBM ini memicu penaikkan harga bahan pokok,” pungkasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

EWI: Dirut Pertamina Mengecewakan, Kinerja Terus Merosot

Jakarta, Aktual.co — Rencana pemerintah melalui Pertamina yang akan melakukan impor Bahan Bakar Minyak (BBM) hingga total 11 juta barel, lebih tinggi sekitar 30 persen dari kebutuhan biasanya layak dipertanyakan. Energy Watch Indonesia (EWI) menilai Kebijakan ini akan membebani keuangan APBN dan membebani rupiah untuk bisa kembali menguat. Pemerintah harus cermat mengambil langkah kebijakan terkait pengadaan BBM ini supaya tidak menjadi beban buat APBN.

“Pemerintah harus melihat indikator-indikator yang kemungkinan akan membuat harga minyak bulan depan akan turun secara drastis, over kuota produksi minyak Irak, berakhirnya perang Arab Yaman, adanya perbaikan hubungan Iran dengan Amerika. Selain itu, Amerika menyatakan belum siap menaikkan interest rate akan membuat harga minyak segera turun dari harga yang sekarang. Minyak mentah bulan depan diprediksi akan bertengger pada harga dibawah USD50/Barel,” ujar Direktur Energy Watch Indonesia, Ferdinand Hutahaean di Jakarta, Sabtu (4/4).

Menurutnya, jika Pertamina impor minyak besar-besaran seperti saat ini, maka bulan depan impor ini akan menyebabkan kerugian kepada Pertamina. Jangan sampai kebijakan aneh-aneh dan tidak antisipatif dari Pemerintah terus menerus menjadikan Pertamina merugi.

“Direksi Pertamina sekarang mengecawakan, kinerjanya terus merosot dan tidak menunjukkan perbaikan, malah pada triwulan pertama, Pertamina merugi sangat besar,” jelasnya.

Dirinya mempertanyakan dasar analisa untuk apa Pertamina mengimpor minyak diatas kebutuhan normal hingga 30 persen sementara ekonomi sedang lesu, konsumsi juga menurun.

“Presiden Joko Widodo sudah seharusnya melakukan evaluasi kinerja Pertamina yang belum bisa menunjukkan perbaikan, bahkan terus merugi,” pungkasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Kemenkes: Indonesia Masuk Zona Darurat Gizi

Jakarta, Aktual.co —   Direktur Bina Gizi, Kementerian Kesehatan, Doddy Izwardy, menegaskan bahwa Indonesia saat ini masuk dalam zona darurat gizi.

“Dari 117 negera di dunia, Indonesia masuk dalam darurat gizi dengan tiga dampak yang ditimbulkannya pada tumbuh kembang anak,” katanya di Makassar, Sabtu (4/4).

Ketiga dampak yang ditimbulkan darurat gizi adalah anak mengalami “stunting” (tinggi badan tidak sesuai dengan usia atau bertubuh pendek), berbadan kurus yang memicu gizi buruk dan berbadan gemuk yang memicu obesitas.

Sementara untuk perbaikan generasi dalam mencegah terjadinya “stunting”, lanjut dia, dibutuhkan waktu sekitar 100 tahun, sehingga sudah saatnya perbaikan gizi itu dimulai dari sekarang.

Berdasarkan data Global Utusan Report yang dilaporkan ke Bappenas diketahui, jumlah bayi dan balita yang mengalami “stunting” (bertubuh pendek) di Indonesia mencapai 8,8 juta jiwa dari sekitar 45 juta jiwa total balita.

Dalam upaya mengatasi permasalahan tersebut, lembaga donor asal Amerika yakni Millenium Challenge Account (MCA) menyalurkan dana hibah sebesar 131,5 juta dolar Amerika atau setara sekitar Rp1 miliar di Mamuju, Sulawesi Barat.

Pemilihan lokasi tersebut, karena di daerah itu terdapat sekitar 48 persen bayi dan balita yang mengalami “stunting”.

Di sela peninjauan di lokasi pilot project di Posyandu Al-Ikhlas di Desa Bambu, Kabupaten Mamuju, Sulbar, CEO Millenium Challenge Corporation (MCC) Dana J Hyde mengatakan dana pendampingan itu diperuntukkan peningkatan SDM kader posyandu, paramedis dan pihak terkait lainnya dalam jangka lima tahun.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Berita Lain