16 Januari 2026
Beranda blog Halaman 37173

Benteng Jepang di Bukit Ketapang (4): Strategisnya Sibolga di Mata Jepang

Medan, Aktual.co — Catatan sejarah yang pernah disusun oleh Angkatan Laut Sibolga di dalam buku “Pertempuran Laskar Laut Sibolga” menyebutkan, pendaratan armada Jepang di Kota Sibolga serentak dengan pendaratan besar-besaran di seluruh wilayah Indonesia pada tahun 1942 silam.

Setelah mendarat, Jepang membentuk badan-badan pertahanan, salah satu diantaranya disebut Kaigun Heiho (Prajurit Angkatan Laut) yang berada di Padang. salah satu kesatuan di dalamnya disebut ‘Hattori Butai’ dimana Oswald Siahaan, pahlawan asal Sibolga itu pernah menjadi salah satu di antaranya. Oswald bahkan sempat menjadi komandan yang membawahi 39 orang.

Perekrutan pemuda untuk dilatih berperang itu dengan alasan mempertahankan negara dari agresi Sekutu dalam perang Asia Raya. Perekrutan ini secara tidak langsung menyeret Indonesia dalam kancah perang dunia ke II.

Alasan itu ternyata hanya isapan Jempol. Selain menggunakan kekuatan pemuda Indonesia untuk  melakukan perlawanan terhadap Sekutu. Jepang ternyata melakukan aksi penjajahan selama 3,5 tahun. Kekejaman Jepang dikenal dengan kerja rodi atau kerja paksa yang menjadikan Pribumi sebagai “Romusha” dan dikenal jauh lebih kejam dari penjajahan Belanda selama selama 3,5 abad.

“Gambarannya Jepang itu mendarat serentak di Indonesia 1942, mereka merekrut para pemuda dengan alasan utama mempertahankan negara dari agresi Sekutu, dalam prakteknya membantu jepang melawan Sekutu,” ujar Pasintel Lanal Sibolga Kapten Laut (E) Arief S melalui Doy Wijaya, Anggota Sekretariat Lanal Sibolga kepada Aktual.co belum lama ini.

Jepang, melirik Kota Sibolga karena wilayahnya yang strategis. Yakni, sebuah Teluk yang potensial dijadikan sebagai basis pertahanan. Tak hanya itu, Sibolga dipandang sebagai wilayah yang aman dari bencana alam, khususnya Tsunami karena dibentengi gugusan pulau-pulau.

“Setelah masuk ke Sibolga, mereka melihat letak strategis, teluk yang dibentengi Pulau-pulau, termasuk Nias dan pulau batu, termasuk ancaman tsunami. Kita punya modal itu. Kemudian letak teluk Sibolga, sangat strategis menghancurkan lawan yang akan melakukan pendaratan, makanya membentuk pertahanan, termasuk di pulau Situngkus ada Meriam Kaliber berat milik Jepang yang bertugas menghancurkan kapal-kapal perang,” imbuhnya.

Menurut Doy, armada perang Jepang saat Perang Dunia II berlangsung memang dikenal tangguh dan lihai. Itu terlihat dari strategi dan pola Jepang memasuki Indonesia. Jepang mengirimkan pasukan mata-mata yang telah bekerja di Indonesia jauh sebelum melakukan pendaratan ke daratan Nusantara.

“Dia tidak langsung mendarat dan tau semuanya, belajar dari pendaratan di Surabaya misalnya, mereka sudah mengirimkan mata-matanya untuk melakukan survey. Mereka berprofesi ganda, misalnya pelacur di Surabaya, kemudian ada pedagang, dan mereka membentuk sandi. “

“Tidak ada kesulitan Jepang masuk ke Indonesia, karena sandi-sandi itu. Saya yakin di Sibolga juga sama, dan sudah dipetakan seluruh Indonesia, kalau ndak begitu mana mungkin mereka mendarat di Indonesia dengan mudah. Dan yang menarik, darimana mereka mengetahui letak strategis Kota Sibolga?” urai Doy. (Bersambung…….)

Artikel ini ditulis oleh:

Pelabuhan Cilamaya Batal Dibangun, Ini Kata Menteri Basuki

Jakarta, Aktual.co — Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Menpupera) Basuki Hadimuljono angkat bicara terkait polemik pembangunan pelabuhan Cilamaya di Karawang, Jawa Barat, yang akhirnya dibatalkan oleh Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla.

“Plus minusnya itu pasti ada. Membangun sesuatu tersebut minusnya lahan pertanian pasti akan berkurang. Padahal lahan pertanian teknis kelas satu di Indonesia, Jatiluhur,” kata Basuki saat ditemui di Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis (2/4).

Namun, lanjutnya, jika pelabuhan Cilamaya jadi dibangun, tentu pihaknya akan membangun jalan dan meningkatkan nilai tambah di kawasan tersebut.

“Jadi kalau itu dibangun, pasti kita bikin jalan. Begitu dibangun jalan pasti akan tumbuh pemukiman dan usaha lain. Kalau saya cuma itu, bersama dengan pertanian. Pasti akan mengurangi lahan pertanian,” ujarnya.

Seperti diketahui, rencana tersebut dibatalkan setelah Pemerintah beserta pejabat terkait menggelar rapat mengenai proyek Pelabuhan Cilamaya.

Dalam rapat yang digelar di Kantor Kepala Desa Tanjung Raya tersebut dihadiri oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), Menko Perekonomian Sofyan Djalil, Menko Maritim Indroyono Soesilo, Menteri ESDM Sudirman Said, Menteri Perhubungan (Menhub) Ignasius Jonan, Menteri PPN/Bappenas Andrinof Chaniago, Dirut PT Pertamina Dwi Soetjipto, Wakil Gubernur Jawa Barat Dedy Mizwar, serta Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Saran Ulama: Cegah Meluasnya Paham Radikal Dimulai dari Keluarga

Jakarta, Aktual.co — Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Prof KH Ali Mustafa Yakub mengemukakan, pencegahan meluasnya paham radikal dengan mengatasnamakan agama yang marak terjadi saat ini, harus dimulai sejak dini dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga.

“Salah satunya dengan menjaga anggota keluarga kita agar tidak terjerumus mengikuti paham yang membenarkan jalan kekerasan sebagai bagian dari ajaran agama,” kata dia pada acara Tausiyah Wisata yang digelar Pemerintah Kota Sawahlunto, di Sawahlunto, Kamis (2/4).

Dia mengatakan, menanamkan nilai-nilai moral yang baik serta memberikan pemahaman tentang agama secara benar kepada anggota keluarga adalah cara pencegahan dini yang paling tepat dan ampuh.

Di samping itu, lanjutnya, menjaga keutuhan rumah tangga juga merupakan hal yang tak kalah pentingnya di samping membangun akidah yang sehat.

Menurut dia, saat ia menghadiri rapat terbatas Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Bidang Kesejahteraan Rakyat (Kesra) bersama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas), Bareskrim Mabes Polri dan Detasemen Khusus (Densus) 88, Senin (30/3), terungkap bahwa ketahanan nasional negara sudah dalam kondisi cukup berbahaya.

“Ini perlu menjadi perhatian kita semua sebagai warga negara dengan segera menanamkan tekad untuk kembali menegakkan serta menjaga ketahanan nasional negara Indonesia,” ajaknya.

Tekad tersebut, salah satunya adalah dengan menanamkan nilai-nilai kerukunan antara sesama umat beragama.

Terkait ancaman masuknya paham Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) ke Indonesia, dia mengatakan gerakan itu sudah menyimpang jauh dari akidah agama Islam.

“Dulu para ulama berdakwah untuk mengislamkan orang kafir, tapi paham ISIS justru bertindak sebaliknya, yakni menganggap kafir umat Islam apabila tidak mengikutinya,” kata dia.

Menurut dia, hal itu cukup sebagai tanda bahwa paham tersebut sudah keluar dari akidah, di samping tindakannya yang radikal dan sadis.

“Islam diturunkan bukan untuk menghancurkan agama lain atau membunuh orang lain yang tidak sepaham dengan kita,” tegas dia. Budi Suyanto

Artikel ini ditulis oleh:

Ganjar Pranowo Muak Lihat Sikap Ahok

Semarang, Aktual.co — Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengaku muak melihat sikap Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama dalam penetapan RAPBD 2015.
“Saya tidak merasa nyaman melihat temen kita di DKI Jakarta. Marah itu sekali-kali baik. Tapi kalau terus -terusan jadi eneg!. Tapi ini fakta. Politik wajahnya jadi compang-camping,” tegas Ganjar, saat memberikan pengarahan pada Musrenbangwil eks Karsidenan Pekalongan, di Brebes, Jawa Tengah, Kamis (2/4).
Ia mengungkapkan fenomena bila ada seorang pejabat, baik dari kalangan eksekutif dan legislatif meninggal dunia dijadikan bahan obyek tertawaan. Budaya demikian ini sudah melenceng dari sendi-sendi Pancasila dan UUD 1945 yang diciptakan salah satunya oleh ‘founding father’ NKRI Ir Soekarno.
“Kalau ada politisi di eksekutif atau legislatif meninggal orang lain pada tertawa. Karena akan ada PAW (Pergantian Antar Waktu). Benteng Pancasila untuk Jateng harga mati,” ungkapnya.
Awalnya pemberitaan orang nomor satu di DKI Jakarta itu menarik untuk dilihat dan didengar. Namun lama-kelamaan justru memperburuk institusi pemerintah. Kejadian serupa diminta agar tidak ditiru oleh Jateng.
“Wajah eksekutif dan legislatif jadi bopeng. Sekarang ini di Jateng saya tidak mau,” ungkapnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Kasus Surat Palsu Munas Ancol, Polri Pastikan Dua Calon Tersangka

Jakarta, Aktual.co — Kabareskrim Polri Komjen Pol Budi Waseso menyebutkan bahwa laporan kubu Aburizal Bakrie terkait dugaan dokumen palsu Munas Ancol, menunjukan beberapa perkembangan.
Menurutnya, semua pemeriksaan dalam kasus ini sudah lengkap, dan sudah ada calon tersangkanya.
“Yang jelas sudah ada dua calon tersangkanya. Hanya untuk membulatkan calon tersangka itu nanti setelah hasil pemeriksaan laboratorium. Nah setelah itu baru kita bulatkan yang bersangkutan adalah tersangka,” kata Budi Waseso, di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (2/4).
Sprindik akan dikeluarkan setelah ada hasil pemeriksaan di laboratorium forensik terkait pemalsuan.
Pihaknya sempat meminta beberapa item kepada pihak Partai Golkar, salah satunya tanda tangan asli guna dibandingkan dengan pemeriksaan laboratorium forensik.

Artikel ini ditulis oleh:

Menkeu Bambang Rotasi 37 Pejabat Eselon II Kemenkeu

Jakarta, Aktual.co —   Menteri Keuangan (Menkeu), Bambang Brodjonegoro hari ini merombak 37 pejabat eselon II Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Rotasi terbesar terjadi di internal Direktorat Jenderal Pajak (DJP) sebanyak 26 orang, selanjutnya Sektetariat Jenderal sebanyak lima orang, dan Badan Kebijakan Fiskal (BKF) sebanyak dua orang.

Pejabat eselon II tersebut dilantik untuk mengisi jabatan strategis di Direktorat Jenderal Perbendaharaan, Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR), serta Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK).

“Dalam rangka penyegaran, kami perlu melakukan promosi, mutasi dan rotasi. Peralihan antar unit eselon I itu wajar dilakukan karena kami adalah satu di Kementerian Keuangan,” ujar Bambang saat melantik di kantor Kemenkeu Jakarta, Kamis (2/4).

Lebih lanjut dikatakan dia, pihaknya tidak ingin unit eselon I menjadi ‘kerajaan-kerajaan’ tersendiri. Seolah memberikan jaminan kepada para pejabatnya tidak akan dilakukan mutasi ke unit lain.

“Saya harap bisa melanjutkan bekerja dengan baik di jabatan dan unit barunya,” pungkasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Berita Lain