15 Januari 2026
Beranda blog Halaman 37179

Benteng Jepang di Bukit Ketapang (2): Keberadaannya Masih Kurang Sosialisasi

Medan, Aktual.co — Diberitakan Aktual.co sebelumnya, Kota Sibolga, Sumatera Utara merupakan salah satu wilayah yang menjadi daerah pendudukan penjajahan Jepang pada tahun 1942-1945. Secara geografis, Sibolga sangat strategis karena berada di bibir pantai Barat pulau Sumatera lengkap dengan sebuah teluk menghadap ke Samudra Hindia. Ini menjadikannya pilihan yang tepat tak hanya menjadi incaran ekspansi perdagangan, namun juga basis pertahanan.

Beralih ke Benteng Tiga yang tak jauh dari Benteng Dua, hanya sejarak 10 meter saja. Namun terletak lebih tinggi dari Benteng Dua. Benteng ini juga sudah dipugar, terdapat Gajebo dan tempat duduk meski tidak bertingkat seperti benteng Dua.

Ruangan Benteng Dua juga menjorok ke dalam tanah sedalam sekitar 1 meter. Ruangan benteng berbentuk segi lima, dimana ada tiga lubang menghadap ke Barat atau ke Teluk Sibolga. Ketiga lubang itu dahulunya diduga sebagai lubang meriam sekaligus lubang pemantauan musuh.

Untuk masuk ke ruangan Benteng hanya ada satu pintu membentuk terowongan kecil dari sisi Timur. Pintu kecil itu hanya dapat dilalui dengan berjongkok. Situasi Benteng Tiga tak lebih baik dari Benteng Dua. Tak terawat dan penuh sampah. Di lokasi Benteng juga tidak ditemukan adanya catatan mengenai sejarah Benteng itu. Terlihat hanya ada beberapa anak muda yang yang sedang bercengkerama di lokasi benteng.

“Siapa yang merawat, nggak mungkin penduduk sini yang bangun,” ujar Simamora (54), warga Gang Benteng di rumahnya kepada Aktual.co baru-baru ini.

Simamora, yang kesehariannya bekerja sebagai penarik becak mesin itu menuturkan Benteng-Benteng itu beberapa tahun lalu pernah ditata dan dibangun. Namun sayang, keberadaannya masih kurang sosialisasi. Dan, hanya sedikit saja yang datang berkunjung.

“Udah sempat ada jualan minuman makanan. Tapi ya begitulah, datang dua orang lima orang, akhirnya yang jualan pergi,” katanya.

Penuturan Simamora, selain ketiga Benteng yang dapat ditemukan langsung. Juga terdapat satu Benteng yang berada di samping rumah salah seorang warga bermarga Simanungkalit. Namun, Benteng itu tidak mendapat perhatian.
“Disamping rumah pak Kalit itu juga ada benteng, tapi nggak dalam, ya seperti itu saja,” tuturnya.

Selain di Gang Benteng, sejumlah Benteng lain terdapat di Gang Kerinci. Gang yang berada di pemukiman warga yang juga berada di areal Bukit Ketapang. Sekilas, melihat Gang Kerinci yang padat penduduk, mungkin tidak akan ada yang mengira kawasan itu dahulunya adalah kompleks Benteng-Benteng Jepang. Apalagi keberadaanya yang belum mendapat perhatian dan terbiarkan begitu saja.

“Disini ada puluhan (Benteng), cuma sekarang ndak ada yang terurus, sekarang entah jadi tempat apa,” ujar Ali Said Lubis (85) warga Gang Benteng kepada Aktual.co belum lama ini.

Ali yang dikenal merupakan warga paling tertua di Gang Kerinci menuturkan, Benteng-Benteng itu dibangun dikisaran tahun 1943, pada masa pendudukan Jepang. Benteng itu dibangun menggunakan tenaga masyarakat pribumi yang dipekerjakan secara paksa atau kerja rodi oleh Jepang.

“Waktu zaman Jepang, dia itu benteng dibikin jepang, tapi orang awak (Pribumi) yang bikinnya, tapi jepang yang mengatur. Disini ratusan yang mati karena membangun (Benteng) itu. Kita tau itu semuanya, lantaran kita lama disini, anak muda disini,” tutur Said yang mengaku sudah bermukim di Sibolga sejak 1950 an dan mendirikan rumah kecil di lokasi yang kini disebut Gang Kerinci itu sejak 1960 silam.

Ali, yang turut merasakan perang di usia belia dalam gerilya di tahun 1946 hingga 1948 di Sayurmatinggi, Benteng Huraba, Kabupaten Tapsel namun tak mau disebut sebagai Veteran perang karena menurutnya itu adalah tugas bela negara yang tak perlu digembar-gemborkan, mengaku miris soal kondisi Benteng-Benteng Jepang itu. Ia berharap, Benteng-Benteng itu dapat dilestarikan.

“Tidak ada yang terawat, sebetulnya itu benteng itu perlu (dilestarikan), tapi zaman sekarang, ya mau gimana lagi?. Sedih, mustinya dirawatlah, tanggal 17 dibikinlah misalnya sejarah (peringatan-red). Tapi itu sejarah itu, berapa banyak mayat disitu, waktu perang 58, pemberontakan simbolon, menembaki dari bukit benteng ke arah gunung, disana banyak mati. Tapi disembunyikan,” kata Said di dalam teras rumahnya. (Bersambung……..)

Artikel ini ditulis oleh:

Polisi: Air Zam-Zam Palsu Dijual di Pasar Tanah Abang

Jakarta, Aktual.co — Jajaran Polres Jakarta Pusat yang mengungkap penjualan air Zam-zam, Madu, dan minyak zaitun palsu menyita ratusan botol air zam-zam dalam tiga unit mobil boxs di dua lokasi berbeda. 
“Enam tersangka berhasil diamankan,” ujar Kasat Reskrim Polres Jakarta Pusat, AKBP Tatan Dirsan Atmaja, Kamis (2/4).
Dikatakan Tatan dari hasil pembuatan tersebut nantinya barang-barang palsu diperjualbelikan di kawasan Pasar Tanah Abang.
“Pelaku menjualnya di kawasan Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat,” tambahnya

Artikel ini ditulis oleh:

Andy Abdul Hamid

Pemkot Bekasi Susun Langkah Persuasif Soal Penertiban PKL

Jakarta, Aktual.co — Pemerintah Kota Bekasi, Jawa Barat, tengah menyusun langkah persuasif dalam upaya penertiban ratusan pedagang kaki lima Pasar Baru, Bekasi Timur, yang selama ini dianggap menimbulkan kemacetan Jalan Ir H Djuanda.

“Saya mengusulkan untuk dibuatkan kesepakatan antara dinas terkait, Satpol PP, Dinas Perhubungan, pihak kecamatan, dan para PKL agar nantinya pedagang bersedia untuk berjualan di dalam komplek pasar dan tidak mengganggu jalur utama,” kata Kepala Dinas Perekonomian Rakyat Kota Bekasi Abdul Iman di Bekasi, Kamis (2/4).

Menurut dia, persoalan PKL di Pasar Baru tidak pernah selesai dalam dua masa periode pimpinan kepala dinas sebelumnya.

“Saya melihat ada pihak yang sengaja melindungi para PKL untuk tetap berjualan di area jalan protokol depan terminal Bekasi,” katanya.

Menurutnya, upaya perlindungan itu diduga sebagai bentuk imbalan atas penarikan uang iuran yang sifatnya ilegal dari pada pedagang.

Saat ini pihaknya sedang melakukan kajian dan survei terkait persoalan tersebut.

“Kami menargetkan dalam waktu dekat ratusan PKL di Jalan Ir H Djuanda dan Jalan Moh Yamin samping Pasar Baru dapat tertib dan berjualan di dalam pasar,” katanya.

Menurut dia, kesepakatan tersebut merupakan komitmen bersama dari semua pihak dalam rangka mengakomodir kepentingan masyarakat umum.

“Kesepakatan itu diharapkan persoalan kemacetan lalu lintas di sekitar Pasar Baru bisa segera tertangani,” katanya.

Sementara itu, persoalan PKL Pasar Baru Bekasi Timur merupakan yang kesekian kalinya dilakukan Pemkot Bekasi setelah sebelumnya Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi turun langsung ke lokasi meimpin jalannya penertiban pada akhir 2014 lalu.

Namun sekitar 300 lebih pedagang di lokasi itu kembali mangkal di jalan tersebut meski upaya pengawasan yang dilakukan Pemkot Bekasi cukup ketat dengan menempatkan personel Satpol PP di lokasi.

Artikel ini ditulis oleh:

Andy Abdul Hamid

Waduh, Kemenkominfo Monitor Isi Laman Situs Berita

Jakarta, Aktual.co — Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengimbau agar situs-situs berita terdaftar di dalam jaringan domain Indonesia agar memudahkan pemerintah dalam memonitor isi laman situs tersebut.
“Kami mengimbau situs-situs berita di Indonesia agar menggunakan extensi .co.id bukan .com, agar terdaftar di domain Indonesia untuk memudahkan identifikasi identitas situs tersebut. Karena selama ini yang banyak adalah .com bukan .co.id,” ujar Menkominfo Rudiantara ketika ditemui di Istana Negara, Jakarta, Kamis (2/4).
Menkominfo menambahkan bahwa pemerintah akan membantu memfasilitasi pendaftaran situs-situs berita dengan extensi .co.id di Pandi, agar lebih mudah dikenali.
Hal tersebut disampaikan Rudiantara menyusul pemblokiran 19 situs berita yang dianggap memiliki faham radikalisme berdasarkan permintaan dari BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme), sebelum melakukan rapat terbatas dengan Presiden RI Joko Widodo untuk persiapan Konferensi Asia Afrika 2015, 19-24 April mendatang di Jakarta dan Bandung, Jawa Barat.
Rudiantara menegaskan bawah pemblokiran sejumlah situs tersebut menindaklanjuti permintaan dari BNPT, namun saat ini pihaknya telah menandatangani untuk membuat panel yang terdiri dari sejumlah tokoh masyarakat seperti MUI dan PBNU.
“Pembentukan panel ini ditujukan agar mendapatkan masukan dan pertimbangan dari sejumlah tokoh masyarakat agar prosesnya lebih baik dan transparan,” tutur Rudiantara.
Di antara para panelis tersebut adalah ketua Dewan Pers Bagir Manan, Tokoh PBNU Salahudin Wahid (Gus Solah) dan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsudin.
Namun, mengenai isi berita dari situs yang dianggap radikal, Rudiantara mengatakan bahwa itu berada dibawah kewenangan Dewan Pers.

Artikel ini ditulis oleh:

Golkar Cuhat di RDP, Ruhut: Mereka Politisi, Nanti Juga Akur

Jakarta, Aktual.co — Anggota Komisi III DPR Ruhut Sitompul meminta Wakapolri Komjen Badrodin Haiti tak mendengarkan ‘curhatan’ anggota fraksi Partai Golkar, dalam rapat kerja Komisi III.
Menurutnya, pihak kepolisian tak perlu ikut campur dalam urusan internal partai. Hal itu cukup diselesaikan oleh mekanisme partai itu sendiri.
“Bapak (Wakapolri Komjen Badrodin Haiti) sudah sangat baik, enggak usah campuri yang recok-recok ini, Pak. Mereka ini politisi, nanti juga akur lagi,” kata Ruhut di Ruang Rapat Komisi III, Gedung DPR, Kamis (2/4).
Anggota Komisi III fraksi Golkar, John Kennedy Aziz,  menyampaikan masalah internal partai dengan membacakan sebuah surat pengaduan terkait konflik internal Golkar yang ditujukan kepada Wakapolri Badrodin haiti, dalam rapat kerja dengan jajaran polri.

Artikel ini ditulis oleh:

Kasus Nenek Asyani, Hakim dan Jaksa Akan Periksa Lapangan

Jakarta, Aktual.co — Hakim bersama jaksa penuntut umum dan pengacara akan melakukan pemeriksaan lapangan terkait kasus pencurian kayu jati milik Perhutani dengan terdakwa Asyani 63 tahun.
“Senin (6/4) kita melakukan pemeriksaan lapangan,” kata I Kadek Dedy Arcana, hakim ketua pada persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Situbondo, Jawa Timur, Kamis (2/4).
Dia mengatakan, Selasa (7/4) pekan depan akan dilakukan sidang dengan agenda pemeriksaan terdakwa. Asyani sebetulnya akan dimintai keterangan pada sidang, Kamis ini, namun terdakwa sakit sehingga tidak bisa hadir ke persidangan.
Tim penasihat hukum Asyani menyampaikan bahwa terdakwa sakit dan berada di rumahnya di Desa Jatibanteng, Kecamatan Jatibanteng, Kabupaten Situbondo.
Lantas hakim pun menanyakan surat keterangan sakit yang diderita nenek Asyani, namun penasihat hukum mengatakan tidak ada. Hakim pun menanyakan kepada jaksa soal saksi, namun dijawab jaksa tidak ada. Akhirnya sidang dilanjutkan dengan pemeriksaan tiga saksi mahkota. Ketiganya disebut saksi mahkota, karena juga menjadi tersangka dalam kasus yang sama bersama Asyani.
Sementara Mistiana, anak bungsu Asyani, sesaat setelah datang ke kantor PN Situbondo menjelaskan bahwa ibu masih sakit dan dirawat di rumah. “Ibu mengeluh sakit di kepalanya. Tadi tiduran terus di rumah sehingga tidak bisa ikut sidang hari ini,” kata dia.
Seusai mengikuti sidang di PN Situbondo pada Senin (30/3) lalu, Asyani pingsan dan kemudian dilarikan ke rumah sakit di Situbondo. Ia dirawat selama dua hari dua malam dan dipulangkan ke rumah pada Rabu (1/4).
“Sebetulnya belum boleh pulang sama dokter, tapi ibu minta pulang terus. Ibu tidak betah di rumah sakit dan akhirnya dibolehkan pulang oleh dokter,” kata istri dari Ruslan, tersangka lain dalam kasus yang sama.
Dia menjelaskan bahwa ibunya sulit sekali makan sehingga kesehatannya tidak cepat pulih. Saat ini Asyani dirawat oleh Linda, anaknya yang lain, di rumahnya di Jatibanteng, Kabupaten Situbondo.
Asyani yang biasanya menjalani puasa sunah Senin dan Kamis sudah dua kali pingsan seusai mengikuti sidang. Berkali-kali hakim dan tim pengacaranya mengingatkan agar Asyani menjaga kesehatan sehingga bisa mengikuti sidang dan kasusnya segera selesai.

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu

Berita Lain