10 April 2026
Beranda blog Halaman 37586

Asyik Selfie, Siswa SMK Hanyut Terseret Arus

Malang, Aktual.co — Dua Siswa SMKN 13 masing-masing Muhammad Reza Ardiansyah asal Kota Malang dan Syarif Hidayat asal Wonogiri tewas di usai terseret arus sungai di Coban Baung, Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, Minggu (29/3) petang.
Salah satu jenazah, asal Kota Malang yakni Muhammad Reza Ardiansyah, yang berhasil ditemukan oleh Tim Sar Gabungan pada Senin (30/3) siang. Usai ditemukan, Jenazah lalu dibawa ke kamar mayat Rumah Sakit Syaiful Anwar (RSSA).
Diiringi isak tangis keluarga dan rekan korban, jenazah rencananya akan segera dimakamkan di tempat persemayaman Sama’an pada hari ini, usai dilakukan prosesi pemandian dan pengkafanan.
Ayah korban, Dodik mengatakan, Reza adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, ia adalah anak lelaki satu-satunya dalam keluarga.
Ia menceritakan, sebelum putranya berangkat ke lokasi sempat berpamitan kepada dirinya.
“Dia bilang akan merayakan ultah di Kebun Raya, sebenarnya sudah dilarang tapi namanya anak-anak akhirnya diperbolehkan,” kata Dodik.
Menurut informasi yang diterima pihak keluarga, Reza tewas usai terpelset saat mengambil foto di dekat air terjun. Korban sempat ditolong empat kawannya, namun, nahas, dua kawannya ternyata ikut tenggelam bersama Reza.
“Reza ini Insya Allah ahli surga, dia anaknya baik, sholatnya gak pernah ketinggalan, sama keluarga dan kehidupan sosialnya juga baik,” tandasnya.
Keluarga korban juga tidak mempunyai firasat buruk, sebelum korban tewas, karena saat itu Reza sedang merayakan ulang tahunnya yang ke 17. “Minggu Subuh saya kirim SMS ke anak saya, dia membalas pesan saya, saya tidak menyangka itu sms terakhir dari anak saya,” tandasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

PT Bukit Asam Bagi Dividen Rp705,7 Miliar

Jakarta, Aktual.co —  Perusahaan BUMN batu bara, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) membagikan dividen tunai sebesar Rp705,7 miliar atau setara dengan 35 persen dari total laba bersih perseroan sebesar Rp2,02 triliun untuk tahun buku 2014.

“Dividen sebesar 35 persen dari laba bersih 2014. Perolehan laba bersih itu lebih tinggi 10 persen dibandingkan pencapaian pada 2013 yang sebesar Rp1,83 triliun,” ujar Direktur Utama PTBA Milawarma di Jakarta, Senin (30/3).

Ia mengemukakan bahwa peningkatan laba perseroan itu merupakan hasil penjualan batu bara sebesar 17,96 juta ton, yang terdiri dari pasokan untuk pasar domestik sebesar 9,59 juta ton atau 52 persen dari total penjualan. Sedangkan ekspor tercatat sebesar 8,66 juta ton atau 48 persen dari total penjualan.

Ia menambahkan bahwa volume penjualan batu bara itu merupakan kontribusi dari produksi dan pembelian batu bara dari pihak ketiga sebesar 18,17 juta ton, dengan rincian produksi unit pertambangan Tanjung Enim sebesar 15,50 juta ton, produksi anak perusahaan PT International Prima Coal sebesar 0,85 juta ton, dan pembelian batu bara dari pihak ketiga oleh anak perusahaan Bukit Asam Prima sebesar 1,80 juta ton.

“Pada 2015 ini, PTBA merencanakan volume penjualan sebesar 24 juta ton atau 33 persen lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Demikian juga dengan volume produksi dan pembelian batu bara dari pihak ketiga direncanakan sebesar 23,70 juta ton atau meningkat 30 persen dari 2014,” katanya.

Untuk mendukung target perseroan, Milawarma mengatakan bahwa pihaknya menganggarkan dana belanja modal (capex) sebesar Rp5 trilliun pada 2015 ini yang akan dipergunakan sebagai modal pengembangan usaha dan rutinitas perseroan yang selama ini sudah dilakukan.

Sementara itu terkait menurunnya harga batu bara dunia, Milawarma mengatakan bahwa pihaknya menyiasati dengan memaksimalkan penggunaan listtik, menurunkan jarak angkut, membangun pelabuhan yang bisa disandari kapal berkapasitas 200.000 ton atau tiga kali lipat dari normal sehingga biaya transportasi bisa lebih murah.

“Penurunan harga batu bara sudah berlangsung sejak beberapatahun lalu. Pada 2013, harga batu bara turun 10 persen, dan 2014 turun 20 persen. Penurunan harga itu kami siasati dengan menurunkan biaya energi dengan memaksimalkan penggunaan listrik, mengendalikan ‘striving ratio’, membangun pelabihan, menurunkan jarak angkut sehingga biaya transportasi PTBA ke negara ekspor bisa lebih murah. Selisihnya masuk ke ‘premium price’ kita,” papar Milawarma.

Strategi itu, menurut dia, perseroan secara taktis melakukan investasi jangka menengah dan panjang yang akan memberikan dampak positif bagi perseroan. Situasi itu akan membuat profitabilitas PTBA di atas rata-rata perusahaan batu bara sejenis, baik di Indonesia maupun di Asia.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Perawatan Minim, Ratusan Benda Cagar Budaya Tulungagung Terancam Punah

Jakarta, Aktual.co — Ratusan benda cagar budaya di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur terancam punah atau hilang ataupun rusak akibat lemahnya pengawasan dan minimnya perawatan dari lembaga terkait, sehingga berpotensi dicuri ataupun dirusak oknum warga yang tidak bertanggung jawab.

Salah satu benda atau situs cagar budaya yang mengalami kerusakan akibat lemahnya pola pengawasan dan pemeliharaan adalah situs Pancuran Songo yang ada di Kecamatan Sendang.

Dua bagian situs serupa patirtan berbentuk “yoni omben jago” atau tempat keluarnya sumber mata air saat ini diketahui telah rusak/patah.

Menurut analisa Ketua Komunitas Peduli Peninggalan Majapahit dan Kediri di Tulungagung, Bambang Eko Ariadi, kerusakan tersebut disebabkan ulah pengunjung yang tidak terawasi dengan baik.

“Memang tidak hilang. Dua yoni yang patah masih tersimpan, tapi kerusakan seperti itu harusnya bisa dicegah,” ujarnya.

Situs Pancuran Songo hanyalah satu di antara ratusan benda/situs/kawasan cagar budaya yang terkesan dibiarkan ada tanpa tersentuh upaya pelestarian ataupun sekadar perawatan rutin.

Data resmi yang dikeluarkan Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan, sejak Museum Wajakensis di Boyolangu berdiri pada 1996 hingga sekarang, sudah ada sedikitnya 300-an benda cagar budaya yang telah teregistrasi.

Namun dari jumlah sebanyak itu, menurut keterangan Koordinator Wilayah Juru Pelihara BPCB Trowulan Tulungagung-Trenggalek, Hariyadi, hanya 15 situs yang dikelola langsung oleh lembaganya.

“Benda, situs ataupun kawasan cagar budaya yang tidak dikelola langsung oleh BPCB secara otomatis menjadi kewenangan (pemerintah) daerah,” ujarnya.

Ia mengatakan, pada saat pendirian museum wajakensis yang menjadi sentra penyimpanan sebagian benda cagar budaya daerah, seluruh situs dan artefak budaya yang pernah ditemukan telah diinventarisasi.
Hasilnya, lanjut Hariyadi, ada lebih dari 300 benda/situs yang terverifikasi. Namun dari jumlah itu, hanya sebagian kecil yang telah dikelola dengan baik.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Tulungagung, Ahmad Pitoyo secara implisit mengakui lemahnya pengawasan sebagian besar situs ataupun benda cagar budaya yang tersebar di wilayah tersebut.

Selain terkendala masalah anggaran yang minim, ia berdalih ada beberapa kelompok masyarakat yang menolak dilakukannya eskavasi atas satu atau lebih situs cagar budaya yang ada di lingkungannya dengan alasan menjaga kesakralan.

“Bagaimanapun kami selalu bekerja sama dengan perwakilan BPCB Trowulan yang ada di Tulungagung untuk menjaga dan mengawasi benda-benda cagar budaya yang ada di daerah sini,” kilahnya.

Saat ditanya data benda/situs cagar budaya daerah, pihak Dinas Pariwisata Tulungagung sendiri hanya mencatat sebanyak 47 situs yang telah terverifikasi.

Jumlah tersebut jauh dibanding data benda/situs cagar budaya yang pernah di data pihak BPCB Trowulan pada 1996 yang mencapai 300-an lebih.

“Tahun ini kami (pemda) bekerja sama dengan BPCB Trowulan berencana melakukan verifikasi ulang terhadap benda-benda, situs, maupun kawasan cagar budaya yang ada. Tapi mungkin karena anggarannya terbatas, penelitian akan dilakukan bertahap,” ujarnya

Artikel ini ditulis oleh:

Tarif Parkir Kota Malang Naik

Malang, Aktual.co — Tarif Parkir di Kota Malang dipastikan akan naik. Kepastian kenaikan ini menunggu hasil kajian dari Dinas Perhubungan yang nanti akan berpayung hukum Peraturan Walikota Malang.
Atas kenaikan ini, Dishub Kota Malang memastikan pelayanan parkir di Kota Malang akan meningkat seiring dengan rencana kenaikan tarif parkir.
Kepala Dishub Kota Malang, Handi Priyanto mengatakan, nominal kenaikan tarif parkir memang belum dipastikan, karena masih dalam pembahasan.
“Pekan ini akan kami ajukan usulan nominal kenaikan tarif parkir ke dewan,” tutur Handi, Senin (30/3) di Malang, Jawa Timur.
Usulan kenaikan tarif parkir adalah Rp 2 ribu untuk kendaraan roda dua dan Rp 4 ribu untuk kendaraan roda empat. Saat ini, tarif parkir untuk kendaraan roda dua masih sebesar Rp 700 dan Rp 2 ribu untuk kendaraan roda empat.
“Nominal itu angka maksimal, bisa jadi nanti tarifnya di bawah angka itu,” katanya.
Ia menambahkan, nantinya juru parkir yang melanggar, akan dikenai sanksi bagi jukir sebesar Rp 50 juta. “Sanksi ini akan dimasukkan dalam Perda,” tandasnya
Ia menambahkan, Dishub juga akan melakukan inventaris ulang titik parkir di Kota Malang. Saat1 ini titik parkir mencapai 2 ribu titik.

Artikel ini ditulis oleh:

Bappenas: 85 Persen Batu Bara Jadi Komoditas Ekspor

Jakarta, Aktual.co — Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) Andrinof A. Chaniago mengkritik banyaknya komoditas batu bara dari Kalimantan yang di ekspor ke luar negeri, padahal komoditas tersebut seharusnya dimanfaatkan untuk menuntaskan masalah defisit listrik di Pulau itu.

Menurutnya, hasil tambang batu bara di Kalimantan seharusnya dimanfaatkan terlebih dahulu untuk konsumsi rumah tangga dan industri di daerah setempat, bukan di ekspor yang hanya memberi keuntungan pada segelintir kelompok.

“Ada 85 persen batu bara kita ekspor ke negara lain, dan hanya 15 persen untuk daerah, seharusnya batu bara kita pakai. Akhirnya kita defisit listrik kan,” ujar Andrinof di Palangkaraya, Senin (30/3).

Sebagai gambaran, di Kalteng yang menjadi provinsi terluas di Kalimantan, cadangan terbukti batu bara sebanyak 40 juta ton dengan potensi produksinya mencapai 1,05 miliar ton. Selain batu bara, Kalteng juga kaya akan logam mulia, logam dasar, mineral industri, dan juga penghasil utama untuk batu bara metalurgi. Data tersebut menurut dokumen Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kalteng.

Namun, batu bara yang dapat menjadi bahan baku Pembangkit Listrik Tenaga Uap itu, menurut Andrinof tidak dioptimalkan dengan baik untuk pemenuhan kebutuhan daerah. Rasio elektrifikasi di Kalteng baru 70 persen. Kegiatan industri pun masih lesu.

Oleh karena itu, kata Andrinof, selain digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga masyarakat, listrik dari batu bara juga dapat dioptimalkan untuk membangun kawasan industri dan fasilitator teknologi untuk kawasan industri.

“Itu adalah terjemahan dari konsep kemandirian dan ketahanan ekonomi yang diusung sendiri oleh Provinsi Kalteng,” kata dia.

Andrinof menekankan prioritas pembangunan di Kalteng adalah pembangunan pembangkit listrik. Dia mengkritik jika terdapat rencana pembangunan di Kalteng yang bertujuan untuk terus meningkatkan ekspor batu bara, tanpa mengutamakan pemenuhan kebutuhan listrik.

“Jangan sampai potensi daerah tidak dimanfaatkan oleh pemerintah setempatnya, malah dialirkan ke luar negeri, dan luar negerilah yang memanfaatkan potensi daerah itu,” kata dia.

Andrinof juga mengaku khawatir jika pertumbuhan ekonomi Kalteng yang mencapai 6,12 persen dicapai karena kontribusi-kontribusi sektor yang tidak berkualitas.

Sektor yang tidak berkualitas itu, menurut dia, sektor ekonomi yang hanya menguntungkan kalangan masyarakat tertentu, yang justeru mengakibatkan tingkat ketimpangan ekonomi semakin melebar.

Jika potensi sumber alam Kalteng dapat dioptimalkan, kata Andrinof, pertumbuhan ekonomi provinsi tersebut seharusnya mencapai 8-9 persen.

Sementara itu, Gubernur Kalteng Agustin Teras Nanang menyebutkan pemerintah provinsi juga mengagendakan pembangunan pembangkit listrik dalam waktu dekat, selain peresmian pembangunan rel kereta api.

Agustin mengatakan dalam rencana ke depan, potensi batu bara di Kalteng akan diutamakan untuk kepentingan daerah. Batu bara yang di ekspor, kata dia, hanya batu bara dengan kandungan kalori yang tinggi dan diperolehkan sesuai peraturan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

“Utamanya untuk ‘domestic market obligation’. Perbandingannya 70 persen untuk domestik, 30 persen untuk ekspor,” kata dia.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Pegiat FAM Luncurkan Buku Kumpulan Cerpen

Jakarta, Aktual.co — Pegiat Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia, Aliya Nurlela, kembali merilis buku terbarunya berupa kumpulan cerpen berjudul “Sepucuk Surat Beku di Jendela”.

“Ada 17 cerpen beragam tema di buku ini, di antaranya tentang kematian, karma, hukum adat, penipuan, konflik rumah tangga, persaingan bisnis, kehilangan, pengkhianatan, juga persoalan cinta,” ujarnya di Jakarta, Senin (30/3).

Menurut perempuan asal Ciamis, Jawa Barat itu, buku cerpen ini telah diluncurkan secara resmi bertepatan dengan perayaan Ulang Tahun ke-3 Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia yang digelar pada 1 Maret 2015 di Pare, Kediri, Jawa Timur.
Buku tersebut merupakan buku fiksi berikutnya, setelah tahun sebelumnya meluncurkan buku cerpen “Flamboyan Senja” dan novel “Lukisan Cahaya di Batas Kota Galuh” yang berlatar Kota Galuh (Ciamis) terbit.

Dia mengungkapkan cerpen-cerpen di buku itu ditulisnya sepanjang kurun waktu 2013-2014 dan sebagiannya telah dipublikasikan di sejumlah media massa lokal dan nasional. Melalui buku cerpen ini dia berharap pembacanya semakin luas dan beragam.

Terkait judul “Sepucuk Surat Beku di Jendela”, papar Aliya Nurlela, dilatarbelakangi atas kecintaannya pada bahasa surat yang sekarang jarang dipakai lagi.

Tak heran pula bahasa surat ikut mewarnai sebagian cerpen di buku ini, meskipun disampaikan penulis secara singkat dan dibumbui bahasa puitis.

“Bahasa surat itu indah. Langsung menyentuh ke hati pembaca. Saya mencoba bernostalgia dengan bahasa surat, untuk mengingatkan generasi sebelumnya bahwa bersurat-suratan itu pernah menjadi hobi yang asyik dan menyenangkan,” kata Aliya Nurlela.

Di buku “Sepucuk Surat Beku di Jendela”, selain surat-surat untuk sahabat, ide cerpen yang ia kembangkan salah satunya terinspirasi dari kisah nyata dirinya ketika terkena penyakit Bell’s Palsy.

Akibat penyakit itu, ia pernah sedih dan terpuruk, bahkan kehilangan rasa percaya diri yang membuatnya mengurung diri beberapa lama.

Cerpen-cerpen yang ditulisnya bukan sekadar permainan kata dan estetika, tetapi lebih dari itu. Dia berupaya memberikan pesan-pesan bermakna, bukan semata imajinasi, khayalan atau kekosongan belaka.

Sejumlah karya Aliya Nurlela lainnya yang telah terbit, sebagiannya buku bersama, di antaranya Sedekah Kunci Pembuka Pintu Rezeki (2010), dan 100 persen Insya Allah Sembuh (2011).

Selain itu, Aku Bahagia Jadi Muslimah (2014), Ensiklopedi Penulis Indonesia Jilid 1 (2014), Fesbuk (2012), Jembatan Merah (2013), Semangkuk Kata Cinta (2013), dan Love My Heart (2013).

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain