12 April 2026
Beranda blog Halaman 37956

Krisis di Depan Mata, DPR Yakin Mahasiswa akan Kembali Turun ke Jalan

Jakarta, Aktual.co — Seiring ketidakstabilan mata uang rupiah terhadap USD yang bisa menyebabkan krisis ekonomi, maka bisa dimungkinkan fenomena mahasiswa menggalang aksi perlawanan seperti era 98 baka terwujud.
Hal itu disampaikan Wakil Ketua Komisi III DPR RI Desmond J Mahesa kepada Aktual.co, Rabu (18/3).
“Apa yang kita lakukan dulu di 98 ini kan bicara tentang persoalan kesejahteraan dan keadilan, yang hari ini tidak diayomi dengan baik, hukum amburadul, ekonomi sangat tidak jelas, kepentingan nasional juga tidak jelas orientasinya kemana anak bangsa ini dibawa,” jelasnya
Desmond menambahkan orang-orang yang kritis dianggap gagal menjalankan demokrasi prosedural. Ia berharap kedepannya tidak akan terjadi lagi.
“Semua orang terjebak pada tim sukses akhirnya secara moral orang kritis ini dianggap sebagai bagian yang gagal. Tentunya demokrasi prosesural saat ini adalah bentuk pencitraan politik. Kedepaan tidak akan terjadi lagi,” tutupnya.
Seperti diketahui, Gerakan sosial dan perlawanan terhadap rezim pemerintahan dimungkinkan akan muncul dalam waktu dekat. Hal itu disampaikan Ubedillah Badrun pengamat politik UNJ kepada Aktual.co, Selasa (17/3).
Hal itu ditandai adanya krisis ekonomi sudah berada di depan mata, hingga pekan ini rupiah masih bertengger di angka Rp 13 ribu per USD. Selain itu kenaikkan bahan pokok terus terjadi.
Tak hanya itu, krisis kepercayaan kepada Presiden Jokowi terhadap pemberantasan korupsi terus disuarakan pihak pegiat anti korupsi.
Sementara beberapa kampus negeri juga sudah melakukan aksi untuk mengkritisi kebijakan Jokowi. Kemarin, mahasiswa kampus negeri yakni Unibraw sudah melakukan aksi untuk melawan kebijakan rezim.

Artikel ini ditulis oleh:

Harga Minyak Turun Tertekan Prospek Kenaikan Persediaan AS

Jakarta, Aktual.co — Harga minyak dunia turun pada Selasa (Rabu pagi WIB), karena para pedagang memperkirakan laporan stok utama AS akan menunjukkan peningkatan lagi ke rekor tertinggi baru.

Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April, turun 42 sen, menjadi ditutup pada 43,46 dolar AS per barel, tingkat terendah dalam enam tahun terakhir. Patokan global, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Mei, turun 43 sen menjadi menetap di 53,51 dolar AS per barel di perdagangan London.

Pada pagi hari, WTI telah jatuh ke serendah 42,63 dolar AS, karena para pedagang bersiap untuk laporan persediaan minyak dari Departemen Energi AS pada Rabu. Laporan ini diperkirakan menunjukkan stok minyak mentah AS meningkat 3,3 juta barel menjadi 452,2 juta barel dalam pekan yang berakhir 13 Maret, menurut survei Bloomberg News.

Persediaan AS telah meningkat selama sembilan minggu, mencapai rekor setelah rekor karena produksi minyak AS terus meningkat, menguji batas kapasitas penyimpanan. “Meningkatnya kekhawatiran bahwa stok minyak mentah AS akan menambah tumpukannya pekan ini mendorong harga lebih rendah,” kata analis Sucden Kash Kamal.

Harga minyak dunia telah jatuh sekitar 60 persen sejak Juni tahun lalu, akibat meningkatnya produksi AS dan pertumbuhan ekonomi global yang lemah. “Harga minyak tetap dalam penurunan panjang yang dimulai musim panas lalu, dengan OPEC beralih ke kebijakan yang lebih kompetitif sebagai penggerak fundamental utama,” kata Tim Evans dari Citi Futures.

Untuk Phil Flynn, dari Price Futures Group, pasar minyak, seperti pasar ekuitas dan valuta asing, sedang menunggu hasil dari pertemuan kebijakan dua hari Federal Reserve pada Rabu untuk petunjuk tentang seberapa cepat bank sentral akan mengangkat suku bunga mendekati nol. “The Fed telah membuat minyak naik dengan QE 1 dan QE 2 serta QE 3,” kata Flynn dalam catatan penelitiannya, mengacu pada tiga putaran stimulus pelonggaran kuantitatif.

Sekarang Fed sedang membantu itu turun karena ancaman akan menaikkan suku bunga, sementara bank sentral dunia lainnya ke arah lain. Tetapi, ia memperingatkan ada peluang untuk lonjakan permintaan yang bisa mengejar pasar secara mengejutkan. Perbedaan antara berlimpahnya persediaan minyak dan pasar yang ketat, jauh lebih tipis daripada orang perkirakan.

Artikel ini ditulis oleh:

Dolar AS dan Wall Street Turun di Tengah Pertemuan The Fed

Jakarta, Aktual.co — Kurs dolar AS melemah terhadap sebagian besar mata uang utama pada Selasa (Rabu pagi WIB), karena investor mengamati dengan seksama pertemuan kebijakan dua hari Federal Reserve. Para pejabat Fed berkumpul pada Selasa dalam pertemuan kebijakan moneter yang diharapkan dapat memberikan petunjuk lebih lanjut tentang waktu kenaikan suku bunga pertama bank sentral dalam hampir satu dekade.

Greenback turun sedikit terhadap sebagian besar mata uang utama di tengah kekhawatiran bahwa Fed mungkin berhati-hati dalam menghapus janji tetap “bersabar” tentang menaikkan suku bunga dalam pernyataannya Rabu. Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, turun 0,02 persen menjadi 99,582 pada akhir perdagangan.

Di sisi ekonomi, “housing starts” indikator ekonomi yang menghitung jumlah rumah baru yang dibangun per bulan, milik pribadi AS pada Februari berada pada tingkat tahunan yang disesuaikan secara musiman 897 ribu, 17 persen di bawah perkiraan Januari yang direvisi 1,081 juta, Departemen Perdagangan melaporkan Selasa. Sebagian besar data “housing starts” diperoleh dari aplikasi dan izin yang diajukan untuk membangun rumah.

Pada akhir perdagangan di New York, euro naik menjadi 1,0600 dolar dari 1,0583 dolar di sesi sebelumnya, dan pound Inggris merosot ke 1,4754 dolar dari 1,4834 dolar. Dolar Australia turun menjadi 0,7626 dolar dari 0,7642 dolar. Dolar AS dibeli 121,39 yen Jepang, lebih rendah dari 121,40 yen pada sesi sebelumnya. Dolar AS turun tipis ke 1,0066 franc Swiss dari 1,0078 franc Swiss, dan turun menjadi 1,2775 dolar Kanada dari 1,2778 dolar Kanada.

Sementara itu, saham-saham di Wall Street sebagian besar berakhir lebih rendah pada Selasa (Rabu pagi WIB), menjelang pengumuman kebijakan Federal Reserve yang diawasi secara ketat, sedangkan Nasdaq naik karena berita potensial baru usaha televisi Apple.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 128,34 poin (0,71 persen) menjadi ditutup pada 17.849,08. Indeks berbasis luas S&P 500 merosot 6,99 poin (0,34 persen) menjadi berakhir di 2.074,20, sedangkan indeks komposit teknologi Nasdaq naik 7,93 poin (0,16 persen) menjadi 4.937,43. Para investor sedang menunggu pengumuman kebijakan Fed pada Rabu, yang diharapkan dapat memberikan petunjuk tentang waktu kenaikan suku bunga mendekati nol, mungkin pada awal Juni.

Saham Apple melonjak 1,7 persen menyusul laporan Wall Street Journal bahwa perusahaan itu dalam pembicaraan dengan CBS, ABC dan jaringan lainnya untuk menawarkan slot siaran televisi di perangkat tersebut. “Apple tampaknya berada dalam putaran benar sekarang,” kata sebuah catatan dari Barclays.

Harga obligasi naik. Imbal hasil pada obligasi pemerintah AS berjangka 10-tahun turun menjadi 2,06 persen dari 2,08 persen pada Senin, sementara pada obligasi 30-tahun turun menjadi 2,61 persen dari 2,65 persen. Harga dan imbal hasil obligasi bergerak berlawanan arah.

Artikel ini ditulis oleh:

Waspadai Pembalikan Arah Laju IHSG

Jakarta, Aktual.co — Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin berada di zona hijau pada akhir sesi. Penguatan ini sejalan dengan adanya beberapa sentimen positif, dimana BI rate masih dipertahankan di level 7,5 persen, terapresiasinya nilai Rupiah, hingga ekspektasi membaiknya perekonomian Indonesia oleh BI.

“Akan tetapi, penguatan tersebut tertahan dengan transaksi asing yang masih mencatatkan net sell. Maraknya sentimen tersebut terlihat tidak serta merta membuat laju IHSG menguat signifikan dan tidak banyak saham-saham big caps yang mengalami kenaikan sehingga kurang mendorong penguatan IHSG,” ujar kepala riset dari NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada.

Pada perdagangan Rabu (18/3) IHSG diperkirakan Reza berada pada rentang support 5.420-5.427 dan resisten 5.450-5.478. Menurutnya, potensi penguatan IHSG kembali tertahan dengan masih adanya aksi jual pelaku pasar sehingga dapat memunculkan peluang pembalikan arah.

“Diharapkan penguatan dapat berlanjut dan tetap cermati arah pasar serta sentimen yang ada,” pungkasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Gerindra: Banyak Pihak Tidak Puas Kepemimpinan Jokowi

Jakarta, Aktual.co — Politisi Gerindra Desmond J. Mahesa mengatakan situasi demokrasi yang tidak kondusif memicu ketidakpuasan kepemimpinan Jokowi-JK. 
Menurutnya, demokrasi memang memunculkan pemimpin sukses namun pembuktian kepemimpinannya tidak ada. Hal itu dialami oleh Presiden Jokowi.
“Demokrasi hari ini berhasil menciptakan pemimpin-pemimpin yang sukses pada saat ia jadi presiden, tapi pembuktiannya gak ada, inilah yang terjadi hari ini,” ujar Desmond kepada Aktual.co, di Jakarta, Rabu (18/3).
Kata Wakil Ketua Komisi III DPR RI ini, hal tersebut sangat meresahkan dan memicu melakukan konsolidasi berbagai pihak. Catatan-catatan kritis adalah bagian dari reaksi-reaksi ketidakpuasan kepemimpinan hari ini. 
Desmond juga mengaku, juga telah lakukan konsolidasi demokrasi ke beberapa daerah.
“Saya ke Aceh, Kalimantan dan Lampung dalam rangka untuk konsolidasi demokrasi. Kita melihat bahwa demokrasi prosedural hari ini adalah bius-bius yang memperbodoh rakyat, arah Undang-undang Dasar dan cita-cita pendiri negeri ini,” tutupnya.
Seperti diketahui, Gerakan sosial dan perlawanan terhadap rezim pemerintahan dimungkinkan akan muncul dalam waktu dekat. Hal itu disampaikan Ubedillah Badrun pengamat politik UNJ kepada Aktual.co, Selasa (17/3).
Hal itu ditandai adanya krisis ekonomi sudah berada di depan mata, hingga pekan ini rupiah masih bertengger di angka Rp 13 ribu per USD. Selain itu kenaikkan bahan pokok terus terjadi.
Tak hanya itu, krisis kepercayaan kepada Presiden Jokowi terhadap pemberantasan korupsi terus disuarakan pihak pegiat anti korupsi.
Sementara beberapa kampus negeri juga sudah melakukan aksi untuk mengkritisi kebijakan Jokowi. Kemarin, mahasiswa kampus negeri yakni Unibraw sudah melakukan aksi untuk melawan kebijakan rezim.

Artikel ini ditulis oleh:

Pasca RDG BI, Rupiah Diperkirakan Menguat

Jakarta, Aktual.co — Laju Rupiah kemarin terapresiasi pasca sentimen dari rapat dewan gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan level BI rate 7,5 persen. Selain itu, perkiraan sikap The Fed yang masih dovish memberikan angin segar pada laju Rupiah.

“Di pasar spot global, terjadinya aksi ambil untung terhadap laju Dolar AS turut memberikan sentimen positif bagi Rupiah,” ujar kepala riset dari NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada.

Pada Rabu (18/3), Laju Rupiah berada di atas target level resisten 13.230, yakni Rp13.215-13.200 (kurs tengah BI). Menurut Reza, sentimen yang ada cukup mampu membuat Rupiah bergerak positif.

“Kami harapkan penguatan ini dapat berlanjut,” pungkasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain